Ara retweeted
Kalau Anda mau tahu masa depan Indonesia, silakan study banding ke Cilacap.
Kabupaten ini menurut saya adalah gambaran dari kegagalan indsutrialisasi. Kebanyakan warganya tak punya pilihan selain merantau, mengais rejeki di negeri orang.
Ara retweeted
I miss the innocence of loving someone wholeheartedly, without the constant fear of being hurt
Ara retweeted
Debat publik soal riset BRIN yang lagi ramai ini nunjukin bahwa:
kita seringnya silau sama buzzword "AI dan semikonduktor", tapi buta sama unit economics rantai pasok industri riil
Coba lu dekonstruksi logikanya secara objektif:
Waktu muncul berita BRIN meneliti pengawetan bakpia basah sampai tahan hampir dua bulan lewat teknologi iradiasi gamma, reaksi spontan warganet langsung skeptis dan menganggap riset ini buang-buang anggaran negara.
Narasinya seragam: ngapain ngurusin makanan tradisional di saat dunia luar lagi sibuk adu kecanggihan robotik dan chip?
Padahal secara sains terapan dan industri, ada miskonsepsi fatal di sini.
Bakpia itu technically cuma media uji sampel. Nilai fundamental risetnya bukan di kuenya, tapi di validasi teknologi food irradiation, metode sterilisasi dan pengawetan komoditas tanpa bahan pengawet kimia sintetis yang menjadi standar mutlak regulasi ekspor pangan global. Kalau cuma mengandalkan kemasan vakum biasa, bakteri anaerob tertentu tetap hidup dan masa simpannya sangat terbatas.
Konyolnya, sebagian publik memandang lembaga riset nasional seolah cuma punya satu tim kerja. Dikiranya kalau peneliti pangan lagi menguji iradiasi, periset semikonduktor otomatis disuruh berhenti. Padahal ada pembagian divisi yang jelas: riset pangan jalan di rumpunnya, sementara tim semikonduktor dan AI tetap bekerja di klaster teknologinya masing-masing.
Sekarang coba hitung trade-off dan realitas ekonominya.
Membangun industri manufaktur semikonduktor tier-1 itu butuh belanja modal ratusan triliun rupiah dan ekosistem rantai pasok global yang sangat rumit. Sementara di sisi lain, sektor pangan dan pertanian domestik kita setiap tahun bleeding puluhan triliun rupiah hanya karena masalah post-harvest loss alias komoditas keburu busuk di jalur logistik sebelum sempat diekspor.
Riset perpanjangan masa simpan produk pangan lokal justru punya dampak ekonomi langsung ke cash flow pelaku usaha daerah, ketahanan logistik antarpulau, sampai neraca dagang.
Gengsi sering kali bikin kita terjebak memuja teknologi yang kedengaran keren di media sosial, sampai lupa kalau masalah riil ekonomi negara berkembang justru ada pada inefisiensi mendasar di sektor pangan dan manufaktur dasar.
Riset yang berdampak itu bukan yang paling futuristis di judul berita, tapi yang paling solutif memecahkan friksi ekonomi di lapangan.
Make sense enggak kalau kita berhenti menghakimi riset cuma dari sensasi judul berita dan mulai bedah dampaknya ke industri dari akar masalah? Menurut kalian gimana? Coba kita bahas.
Rasanya buku ini jauh lebih napak tanah karena banyak mengangkat isu-isu yang dekat sama masyarakat luas, termasuk dinasti pesantren.
Barangkali kemunculan Gus-Ning elitis itu juga karena budaya feodal yang terus mereka jaga dengan dalih menjaga adab dan sanad keilmuan
Ara retweeted
Gue masi suka ngetawain diri sendiri krn ACAB dan anarko tp demen Detective Conan. Jelas-jelas film PR nya kepolisian Jepang 😂😂😂😂
For context: most of these standees adalah plokis-plokis di universenya Conan 😂😂😂

















