SHANINA. (@joliedelune) header
SHANINA. (@joliedelune) profile picture

KARAKTER FIKSI──SHANINA AYUDIA GINANJAR, tak lagi bertiraikan banir, melainkan hangat hati di bawah malam sinaran. 1998.

Joined February 2017
Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)
Angel terlelap dengan posisi memeluk mikrofon. Suara musik dari speaker dan rentetan lirik di layar besar masih berputar. Sama seperti saat ia bangun tadi. Putri keluarga Tjandra menaiki sofa, melangkahkan kakinya menuju sisi paling ujung, kembali ke posisi awal. (19)
1
2
85
berderet dengan gelas-gelas kotor lain yang sebelumnya digunakan oleh teman-temannya. Langkahnya menuju home theatre lambat dan berat. Michelle melihat Jason yang masih sibuk memeluk bantal, kali ini dengan posisi telentang di lantai. (18)
1
1
66
berusaha mengatur napas. Suara air yang turun dari shower dan kran yang terbuka menemani Michelle selama beberapa saat sebelum ia duduk tegap. “It was an accident. It was an accident.” Michelle menggumam kata yang sama berulang-ulang seperti mantra. (15)
1
2
1
159
Ia mengambil plakat dari wastafel dan memasukkannya ke dalam tangki toilet. Keringat dingin membasahi wajah sang puan saat ia mengepaskan posisi plakat di dalam tangki. (13)
1
1
56
“It’s not 𝘺𝘰𝘶𝘳 fault, Michelle. Sekarang pakai otak lo. Di mana plakatnya Kevin bisa disembunyiin?” Gadis itu berbicara dengan dirinya sendiri di antara suara air dari shower dan wastafel. (10)
1
2
51
Gadis itu menarik napas, menyedot ingus yang sepertinya ingin keluar karena rasa frustasi. Ditatapnya guci dan kaos bergantian sebelum memasukkan kaos ke dalam guci dengan gerakan ragu-ragu. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. (8)
1
1
52
SHANINA. retweeted
Alir merah mulai ikut dalam pertengkaran. Mengalir dari pelipis, terus ke pipi, kemudian mengusap dagu sebelum berceceran ke leher, baju, juga lantai pijakan. Semakin meriah lagi merahnya karena ada yang merembes dari kening. (2)
1
1
55
SHANINA. retweeted
Replying to @chamyskid
Tawa Michael seketika berhenti. Badannya tersentak dan kepalanya terombang-ambing di udara karena kena hantam berulang. Beberapa kali tangannya ikut menghadang ayunan plakat, tetapi berakhir kena hantam juga. (1)
1
1
80
“𝘠𝘰𝘶 piece of shit!” Michelle berseru dengan suara serak, kedua matanya membulat sementara tangannya tidak berhenti menghantam kepala Michael dengan benda tumpul yang mulai dihiasi warna merah gelap bersumber dari kepala sang teruna. (7) // @ripensoul_X
1
1
44
Netra kembar Michelle mendapati plakat kaca di atas meja Kevin yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini bersama Michael. Dengan tangan gemetar karena adrenalin, gadis itu meraih plakat dengan tangannya yang bebas. (5)
1
1
41
Michael terlihat sedang mengolok-ngolok Michelle dengan suara tawanya, membuat amarah sang puan semakin besar yang dapat terlihat dari dorongan telapak tangannya pada dada Michael yang semakin kuat. (4)
1
1
33
Wajahnya merah padam, matanya menyipit menatap Michael intens. Pria itu masih tertawa, mencengkram pergelangan tangannya tanpa ada niat untuk melepaskan. (3)
1
1
34
Napasnya cepat dan berat, terdengar seperti desisan di antara gigi-giginya yang terkatup rapat. “Bangsat! Lo bangsat!” Ia berteriak, mengerang marah, tangannya terus menghantam dada sosok pria yang mencengkramnya, mendorong dengan tenaga penuh. (2)
1
1
40
Replying to @ripensoul_X
Suara tawa Michael seperti mimpi buruk untuk Michelle. Mata gadis itu melebar dengan kemarahan yang meluap, nyala api kemarahan memancar tajam. “Bangsat!” Tangannya dengan keras mendorong Michael menjauh. (1)
1
1
43
SHANINA. retweeted
“Eh, Michelle, yang bener aja lu! Hal-hal macam begitu lu jadiin alasan buat berlagak aneh kayak gini?” Michael kembali terbahak. Ia menunjuk ke arah Michelle. “Kocak banget, lu! Kayak anak SD!” (2 - @chamyskid)
1
2
73
“Mami sama Papi marah karena peringkat gue turun, lho?! Dan lo… lo ngerasa itu cuma?!” Tangan yang mencengkramnya terasa seperti belenggu dan ia menggeliat dengan gerakan keras, masih berusaha membebaskan diri. (3)
1
1
32
“Do you even realise what happened here, Michael? Lo buat peringkat gue turun karena lo itu 𝘯𝘺𝘶-𝘴𝘢-𝘩𝘪𝘯 gue!” Michelle berseru, memberi penekanan pada setiap penggalan kata ‘nyusahin’. (2)
1
1
31
Lebih parahnya lagi, ia baru teringat sesuatu. Tepukan pada jidat mendarat secepat kilat. “Aduh, cara siramnya gimana ini?!” [10]
1
2
1
99
Sebuah plakat dengan sejumlah jejak berupa sidik jari tergeletak tak bertuan di dalam tangki. “Hah? Plakat? Kok … ditaruh di sini?” Mulanya ia bingung … sebelum sepasang bola matanya membulat kaget. “Jangan-jangan senjata pembunuhan?!” [9]
1
2
1
125
Lega setelah membuang ampas, tangannya pun meraih ke belakang untuk menekan tombol 𝘧𝘭𝘶𝘴𝘩. Ceklek. Ceklek. Lho? Telinganya justru mendengar suara aneh dari dalam tangki. Seperti sesuatu yang bergeser … atau bergesekan dengan dinding tangki toilet. [7]
1
1
36