SHANINA. (@joliedelune) header
SHANINA. (@joliedelune) profile picture

KARAKTER FIKSI──SHANINA AYUDIA GINANJAR, tak lagi bertiraikan banir, melainkan hangat hati di bawah malam sinaran. 1998.

Joined February 2017
Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)Photo by SHANINA. (@joliedelune)
/ Gombal terus!
[[ Bisa gak nggak cantik-cantik amat? Jantungku MELEDAK. Nggak siap aku.
31
Aku mau culik!
Replying to @harumrintik
Dek... Siapa mau culik saya segede ini...
1
96
Coba gaya rambut baru. Ternyata bikin rambut ikal lumayan menghabiskan banyak waktu ya …
1
1
52
Emang gitu dia, Dik. Mengkhawatirkan!
Replying to @bilahganda
…. tolong… tolong… siapa pun… takut bapak diculik…….. 😪
1
41
Si paling lucu, @bilahganda.
1
45
Sisa kemarin, Pak Dosen ngisi 𝘱𝘰𝘥𝘤𝘢𝘴𝘵 tapi minta ditemenin.
1
41
Ada orang nyuci piring sambil mesam-mesem? @bilahganda
1
1
35
Angel terlelap dengan posisi memeluk mikrofon. Suara musik dari speaker dan rentetan lirik di layar besar masih berputar. Sama seperti saat ia bangun tadi. Putri keluarga Tjandra menaiki sofa, melangkahkan kakinya menuju sisi paling ujung, kembali ke posisi awal. (19)
1
2
85
berderet dengan gelas-gelas kotor lain yang sebelumnya digunakan oleh teman-temannya. Langkahnya menuju home theatre lambat dan berat. Michelle melihat Jason yang masih sibuk memeluk bantal, kali ini dengan posisi telentang di lantai. (18)
1
1
66
berusaha mengatur napas. Suara air yang turun dari shower dan kran yang terbuka menemani Michelle selama beberapa saat sebelum ia duduk tegap. “It was an accident. It was an accident.” Michelle menggumam kata yang sama berulang-ulang seperti mantra. (15)
1
2
1
159
Ia mengambil plakat dari wastafel dan memasukkannya ke dalam tangki toilet. Keringat dingin membasahi wajah sang puan saat ia mengepaskan posisi plakat di dalam tangki. (13)
1
1
56
“It’s not 𝘺𝘰𝘶𝘳 fault, Michelle. Sekarang pakai otak lo. Di mana plakatnya Kevin bisa disembunyiin?” Gadis itu berbicara dengan dirinya sendiri di antara suara air dari shower dan wastafel. (10)
1
2
51
Gadis itu menarik napas, menyedot ingus yang sepertinya ingin keluar karena rasa frustasi. Ditatapnya guci dan kaos bergantian sebelum memasukkan kaos ke dalam guci dengan gerakan ragu-ragu. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. (8)
1
1
52
SHANINA. retweeted
Alir merah mulai ikut dalam pertengkaran. Mengalir dari pelipis, terus ke pipi, kemudian mengusap dagu sebelum berceceran ke leher, baju, juga lantai pijakan. Semakin meriah lagi merahnya karena ada yang merembes dari kening. (2)
1
1
55
SHANINA. retweeted
Replying to @chamyskid
Tawa Michael seketika berhenti. Badannya tersentak dan kepalanya terombang-ambing di udara karena kena hantam berulang. Beberapa kali tangannya ikut menghadang ayunan plakat, tetapi berakhir kena hantam juga. (1)
1
1
80
“𝘠𝘰𝘶 piece of shit!” Michelle berseru dengan suara serak, kedua matanya membulat sementara tangannya tidak berhenti menghantam kepala Michael dengan benda tumpul yang mulai dihiasi warna merah gelap bersumber dari kepala sang teruna. (7) // @ripensoul_X
1
1
44
Netra kembar Michelle mendapati plakat kaca di atas meja Kevin yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini bersama Michael. Dengan tangan gemetar karena adrenalin, gadis itu meraih plakat dengan tangannya yang bebas. (5)
1
1
41
Michael terlihat sedang mengolok-ngolok Michelle dengan suara tawanya, membuat amarah sang puan semakin besar yang dapat terlihat dari dorongan telapak tangannya pada dada Michael yang semakin kuat. (4)
1
1
33
Wajahnya merah padam, matanya menyipit menatap Michael intens. Pria itu masih tertawa, mencengkram pergelangan tangannya tanpa ada niat untuk melepaskan. (3)
1
1
34
Napasnya cepat dan berat, terdengar seperti desisan di antara gigi-giginya yang terkatup rapat. “Bangsat! Lo bangsat!” Ia berteriak, mengerang marah, tangannya terus menghantam dada sosok pria yang mencengkramnya, mendorong dengan tenaga penuh. (2)
1
1
40