Pinned Tweet
Beberapa waktu yang lalu, aku pernah bilang bahwa salah satu kelemahan film Indonesia adalah “too much telling, so little showing”. Namun, apakah “show don’t tell” ini mutlak berlaku di segala situasi?
Jawabannya tentu tidak. Ada salah satu topik krusial di mana sebaiknya filmmaker menggunakan “tell don’t show”, yaitu topik kekerasan seksual (KS).
Ada dua film yang langsung terbersit ketika membicarakan ini, yaitu Spotlight (2015) dan Sorry, Baby (2025).
Dalam film Spotlight, trauma para korban KS disampaikan melalui dialog dengan jurnalis, tanpa perlu satu pun adegan flashback yang memvisualisasikan kejadiannya.
Dalam film Sorry, Baby, ketika Agnes (Eva Victor) mengalami KS oleh dosennya, kamera hanya menyorot diam dari luar rumah dosen tersebut. Transisi malam harinya memperlihatkan Agnes keluar terburu-buru dengan raut wajah kalut. Tanpa adegan eksplisit, penonton langsung memahami bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi pada Agnes. Penegasan peristiwa itu kemudian disampaikan melalui cerita kepada sahabatnya, Lydie (Naomi Ackie), dan dokter saat mengambil visum. Sekali lagi, nihil visualisasi KS.
Pada dasarnya, medium film cenderung mengglorifikasi apa pun yang masuk ke dalam frame. Sayangnya, ini berlaku juga untuk adegan KS. Meskipun filmmaker berniat untuk menyebarkan awareness, memvisualisasikan KS seringkali berakhir menjadi sensasionalisme, eksploitasi, dan bahkan erotisasi.
Ada justifikasi keliru yang merasa KS perlu divisualisasi agar penonton paham seberapa keji tindakan tersebut. Padahal, empati penonton seharusnya bisa digugah untuk memahami kedalaman trauma korban tanpa harus disuguhi reka ulang kejadiannya secara gamblang.
Pola pikir “harus melihat agar percaya” ini jugalah yang melanggengkan budaya patriarki di dunia nyata, di mana masyarakat sulit mempercayai korban KS yang melapor tanpa bukti fisik.
Alih-alih menjadi katarsis, visualisasi KS di layar kaca justru beresiko memicu ulang trauma (triggering) bagi para penyintas. Dengan memasukkan adegan KS ke dalam frame, filmmaker sebenarnya gagal menyoroti seberapa destruktifnya dampak KS terhadap kehidupan korban, dan malah mereduksi trauma tersebut menjadi sekadar twisted entertainment yang mengeksploitasi tubuh perempuan.
fillainart retweeted
#intinyadeh Taman Nasional Wasur di Merauke, Papua Selatan terbakar. Sebagian besar di zona khusus (dekat permukiman) dan zona tradisional.
Ini nambah daftar Taman Nasional yg kebakar di 2026 (setidaknya ada 14 TN)
Selain itu Karhutla jg terjadi di 3 Distrik di Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Warga, Taman Nasional Wasur di Papua Selatan juga sedang dibakar.
Luas kawasan terdampak dilaporkan meningkat dari 8.708 menjadi 21.277,79 hektare. Bertambah sekitar 12.569 hektare.
Hutan, habitat satwa, dan kehidupan di dalamnya sedang terancam.
KOMDIGI, KONTEN2 KERUSAKAN LINGKUNGAN KAYAK GINI JUGA JANGAN SAMPAI DIBUNGKAM JANGKAUANNYA.
Di tengah pembatasan jangkauan konten yang menyuarakan kondisi di lapangan, kami tetap akan menyebarkan kabar ini.
Tolong bantu repost. Papua Selatan juga perlu perhatian.
#SalingJagaWarga
fillainart retweeted
Penggundulan hutan selalu berakar pada logika ekonomi politik yang sama, yaitu pengerukan lahan demi profit jangka pendek. Pola eksploitasi ini disebut dalam episode 52 (Season 3 episode 4) anime The Apothecary Diaries. Saat wabah belalang mengancam ketahanan pangan, Maomao menyadari bahwa ini merupakan konsekuensi dari eksploitasi alam yang dilakukan oleh klan Shi.
Klan Shi mengijinkan pembalakan liar skala besar di wilayah perbukitan tanpa regulasi. Penggundulan ini membuat burung-burung—predator alami belalang—kehilangan habitatnya dan menyingkir. Tanpa adanya ecological checks and balances, populasi belalang meledak menjadi kawanan migratori yang melalap habis ladang pertanian. Hasilnya bukan cuma panen yang gagal, tapi juga terputusnya jalur perdagangan dan lumpuhnya sistem logistik pangan negara.
Kerusakan ini menunjukkan bagaimana moda produksi kapitalistik memutus siklus metabolisme antara manusia dan bumi. Ambisi profit merusak rantai ekologis, merobek keseimbangan predator-mangsa hingga hidrologi tanah.
Rob Nixon mendefinisikan proses ini sebagai slow violence—kekerasan perlahan yang kehancurannya tertunda melintasi ruang dan waktu. Deforestasi di lereng bukit maupun di lahan gambut memang tidak memicu kelaparan massal pada hari pertama. Ia mengikis ekosistem secara pelan dan senyap sampai akhirnya menyentuh tipping point atau titik kritisnya.
Ketika alam terus diperlakukan sebagai komoditas yang bisa diekstrak tanpa batas, ia akan berbalik menghantam fondasi paling dasar dari kelangsungan hidup manusia: udara yang kita hirup, pangan yang kita makan, dan sistem logistik yang menopang kehidupan kita sehari-hari.
Mungkin memang kita sedang dibunuh pelan-pelan.
fillainart retweeted
Dokumenter aksi #IndonesiaSadar sudah tayang di YouTube Watchdoc Image.
youtu.be/ZNoM6SxRzd4
#Watchdoc
fillainart retweeted
Yang buat videonya udah ngebolehin video ini didownload dan disebarkan seluas-luasnya.
Jadi silahkan.... bebas!
fillainart retweeted
Infonya komdigi lagi rajin kerja mentakedown video² tentang perlawanan warga kemarin dan juga video² tentang karhutla..
Ok berhubung org komdigi di gaji dr uang pajak gw juga jd boleh kan gw kasih kerjaan buat mereka..
Mati 1 tumbuh seribu
Penggundulan hutan selalu berakar pada logika ekonomi politik yang sama, yaitu pengerukan lahan demi profit jangka pendek. Pola eksploitasi ini disebut dalam episode 52 (Season 3 episode 4) anime The Apothecary Diaries. Saat wabah belalang mengancam ketahanan pangan, Maomao menyadari bahwa ini merupakan konsekuensi dari eksploitasi alam yang dilakukan oleh klan Shi.
Klan Shi mengijinkan pembalakan liar skala besar di wilayah perbukitan tanpa regulasi. Penggundulan ini membuat burung-burung—predator alami belalang—kehilangan habitatnya dan menyingkir. Tanpa adanya ecological checks and balances, populasi belalang meledak menjadi kawanan migratori yang melalap habis ladang pertanian. Hasilnya bukan cuma panen yang gagal, tapi juga terputusnya jalur perdagangan dan lumpuhnya sistem logistik pangan negara.
Kerusakan ini menunjukkan bagaimana moda produksi kapitalistik memutus siklus metabolisme antara manusia dan bumi. Ambisi profit merusak rantai ekologis, merobek keseimbangan predator-mangsa hingga hidrologi tanah.
Rob Nixon mendefinisikan proses ini sebagai slow violence—kekerasan perlahan yang kehancurannya tertunda melintasi ruang dan waktu. Deforestasi di lereng bukit maupun di lahan gambut memang tidak memicu kelaparan massal pada hari pertama. Ia mengikis ekosistem secara pelan dan senyap sampai akhirnya menyentuh tipping point atau titik kritisnya.
Ketika alam terus diperlakukan sebagai komoditas yang bisa diekstrak tanpa batas, ia akan berbalik menghantam fondasi paling dasar dari kelangsungan hidup manusia: udara yang kita hirup, pangan yang kita makan, dan sistem logistik yang menopang kehidupan kita sehari-hari.
Mungkin memang kita sedang dibunuh pelan-pelan.
fillainart retweeted
⚠️⚠️ GUYS SULAWESI SELATAN 🚨🚨
Sejak hari rabu lalu KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN di Desa Bantilang belum juga padam. Api terlihat di beberapa titik sudah membesar serta meluas hingga membuat para pemadam kewalahan untuk memadamkan api, karena faktor angin kencang yg membuat api cepat membesar serta hawa panas yg di rasakan para pemadam.
Desa Bantilang, Dusun Kalukuluku, Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
GUYS UP SULSEL APINYA SEBESAR ITU‼️
Guys tolong jgn anyepin berita karhutla di papua. Kita perlu kawal dan sebarin jg beritanya, karna keterbatasan sinyal di sejumlah wilayah bikin informasi dari masyarakat susah menjangkau publik.
Ada ruang hidup masyarakat adat dan habitat satwa dilindungi yg terancam, jgn sampe penderitaan mereka ikut luput dari perhatian.
Buku ini akrab di pengaderan mhs s1 kampus² Indonesia di circa 90an - 2000an. Apakah masih ada yg menggunakan buku di ini ruang² Le-Mhs internal/external yah?
Dalam karyanya “Religion vs Religion”, Ali Shariati menjelaskan bagaimana mekanisme Triad of Oppression bekerja sebagai mesin ideologis yang melanggengkan ketimpangan.
Shariati menegaskan bahwa sepanjang sejarah, musuh terbesar dari agama bukanlah sekularisme ataupun ateisme, melainkan agama itu sendiri—tepatnya agama yang telah dibajak demi melanggengkan status quo.
Di satu sisi, ada agama pembebasan yang mengartikan Tauhid secara sosiologis sebagai tatanan tanpa hierarki kelas, ras, maupun dominasi, serta mewajibkan pemeluknya aktif melawan segala bentuk alienasi dan eksploitasi.
Di sisi lain, ada agama status quo yang dipopulerkan oleh penguasa untuk merawat tatanan sosial dengan menanamkan keyakinan bahwa kemiskinan dan ketimpangan adalah takdir yang tak boleh digugat.
Untuk menjelaskan mekanisme ideologis ini, Shariati merujuk pada tiga alegori:
Yang pertama adalah Firaun yang mewakili institusi negara, birokrasi, dan aparat hukum yang memonopoli kekuasaan demi meloloskan kebijakan pro-elit serta membungkam pihak yang vokal menuntut haknya.
Kemudian Firaun bertopang pada Qarun, yakni konglomerasi dan pemilik kapital yang menumpuk kekayaan lewat eksploitasi tenaga kerja dan monopoli sumber daya.
Aliansi politik dan kekayaan ini tentu saja membutuhkan Haman—elit agama konformis yang bertugas melegitimasi penindasan yang dilakukan oleh persekutuan Firaun dan Qarun.
Haman menciptakan apa yang dipaparkan Shariati sebagai istihmar—pembodohan sistematis atau pembius kesadaran. Berbeda dengan represi fisik Firaun yang memicu perlawanan, istihmar bekerja secara halus dengan cara melumpuhkan daya kritis rakyat atau kaum yang tertindas (mustadh’afin) dengan menggunakan bahasa-bahasa suci.
Ketika rakyat bertanya mengapa upah mereka tidak cukup untuk bertahan hidup, Haman hadir bukan untuk mengkritik kebijakan upah murah Firaun atau kerakusan modal Qarun, melainkan untuk menasihati rakyat agar memperbanyak doa, menerima nasib, dan memusatkan pikiran pada balasan akhirat.
Familiar?
fillainart retweeted
Haman—elit agama konformis bertugas melegitimasi penindasan yg dilakukan oleh persekutuan Firaun dan Qarun menciptakan pembodohan sistematis atau pembius kesadaran. Bekerja secara halus dengan cara melumpuhkan daya kritis rakyat atau kaum yang tertindas menggunakan bahasa suci.
Dalam karyanya “Religion vs Religion”, Ali Shariati menjelaskan bagaimana mekanisme Triad of Oppression bekerja sebagai mesin ideologis yang melanggengkan ketimpangan.
Shariati menegaskan bahwa sepanjang sejarah, musuh terbesar dari agama bukanlah sekularisme ataupun ateisme, melainkan agama itu sendiri—tepatnya agama yang telah dibajak demi melanggengkan status quo.
Di satu sisi, ada agama pembebasan yang mengartikan Tauhid secara sosiologis sebagai tatanan tanpa hierarki kelas, ras, maupun dominasi, serta mewajibkan pemeluknya aktif melawan segala bentuk alienasi dan eksploitasi.
Di sisi lain, ada agama status quo yang dipopulerkan oleh penguasa untuk merawat tatanan sosial dengan menanamkan keyakinan bahwa kemiskinan dan ketimpangan adalah takdir yang tak boleh digugat.
Untuk menjelaskan mekanisme ideologis ini, Shariati merujuk pada tiga alegori:
Yang pertama adalah Firaun yang mewakili institusi negara, birokrasi, dan aparat hukum yang memonopoli kekuasaan demi meloloskan kebijakan pro-elit serta membungkam pihak yang vokal menuntut haknya.
Kemudian Firaun bertopang pada Qarun, yakni konglomerasi dan pemilik kapital yang menumpuk kekayaan lewat eksploitasi tenaga kerja dan monopoli sumber daya.
Aliansi politik dan kekayaan ini tentu saja membutuhkan Haman—elit agama konformis yang bertugas melegitimasi penindasan yang dilakukan oleh persekutuan Firaun dan Qarun.
Haman menciptakan apa yang dipaparkan Shariati sebagai istihmar—pembodohan sistematis atau pembius kesadaran. Berbeda dengan represi fisik Firaun yang memicu perlawanan, istihmar bekerja secara halus dengan cara melumpuhkan daya kritis rakyat atau kaum yang tertindas (mustadh’afin) dengan menggunakan bahasa-bahasa suci.
Ketika rakyat bertanya mengapa upah mereka tidak cukup untuk bertahan hidup, Haman hadir bukan untuk mengkritik kebijakan upah murah Firaun atau kerakusan modal Qarun, melainkan untuk menasihati rakyat agar memperbanyak doa, menerima nasib, dan memusatkan pikiran pada balasan akhirat.
Familiar?
fillainart retweeted
Dalam karyanya “Religion vs Religion”, Ali Shariati menjelaskan bagaimana mekanisme Triad of Oppression bekerja sebagai mesin ideologis yang melanggengkan ketimpangan.
Shariati menegaskan bahwa sepanjang sejarah, musuh terbesar dari agama bukanlah sekularisme ataupun ateisme, melainkan agama itu sendiri—tepatnya agama yang telah dibajak demi melanggengkan status quo.
Di satu sisi, ada agama pembebasan yang mengartikan Tauhid secara sosiologis sebagai tatanan tanpa hierarki kelas, ras, maupun dominasi, serta mewajibkan pemeluknya aktif melawan segala bentuk alienasi dan eksploitasi.
Di sisi lain, ada agama status quo yang dipopulerkan oleh penguasa untuk merawat tatanan sosial dengan menanamkan keyakinan bahwa kemiskinan dan ketimpangan adalah takdir yang tak boleh digugat.
Untuk menjelaskan mekanisme ideologis ini, Shariati merujuk pada tiga alegori:
Yang pertama adalah Firaun yang mewakili institusi negara, birokrasi, dan aparat hukum yang memonopoli kekuasaan demi meloloskan kebijakan pro-elit serta membungkam pihak yang vokal menuntut haknya.
Kemudian Firaun bertopang pada Qarun, yakni konglomerasi dan pemilik kapital yang menumpuk kekayaan lewat eksploitasi tenaga kerja dan monopoli sumber daya.
Aliansi politik dan kekayaan ini tentu saja membutuhkan Haman—elit agama konformis yang bertugas melegitimasi penindasan yang dilakukan oleh persekutuan Firaun dan Qarun.
Haman menciptakan apa yang dipaparkan Shariati sebagai istihmar—pembodohan sistematis atau pembius kesadaran. Berbeda dengan represi fisik Firaun yang memicu perlawanan, istihmar bekerja secara halus dengan cara melumpuhkan daya kritis rakyat atau kaum yang tertindas (mustadh’afin) dengan menggunakan bahasa-bahasa suci.
Ketika rakyat bertanya mengapa upah mereka tidak cukup untuk bertahan hidup, Haman hadir bukan untuk mengkritik kebijakan upah murah Firaun atau kerakusan modal Qarun, melainkan untuk menasihati rakyat agar memperbanyak doa, menerima nasib, dan memusatkan pikiran pada balasan akhirat.
Familiar?
Orang Indonesia, terutama yang muslim, paling ga pernah “diceramahi” dengan kalimat ini: “Hitungan Allah beda sama hitungan manusia”.
Satu kalimat pendek ini berfungsi sebagai ruang perlindungan. Saat sistem ekonomi manusia tidak berpihak, kita dihibur oleh keyakinan bahwa takdir Ilahi bekerja dengan logika yang melampaui perhitungan matematis. Kalimat ini seringkali memberi keteguhan untuk terus berusaha, meyakinkan bahwa terlepas dari segala kemustahilan, suatu saat mereka akan bisa memiliki apa yang mereka inginkan.
Karl Marx sendiri mengakui bahwa agama adalah necessary heart in a heartless world.
Tragedinya adalah, iman dipaksa menjadi peredam benturan atas kegagalan sistemik. Ketika dampak yang bersifat sistemik sepenuhnya diterjemahkan sebagai kehendak Ilahi, mekanisme yang melahirkan ketimpangan tersebut justru terlindungi dari kritik.
Sistem yang dominan mempertahankan kekuasaannya dengan menanamkan sejenis common sense ke dalam kehidupan sehari-hari. Upah murah, harga hunian yang tak terjangkau, standar hidup yang jauh dari layak dibingkai sebagai ujian spiritual yang harus dihadapi dengan doa dan kesabaran. Negara seakan dibebaskan dari tanggung jawabnya untuk menyediakan upah layak dan hunian yang terjangkau.
Kalaupun sadar tentang kekerasan struktural ini, biasanya masyarakat akan mendoakan pemimpin dan pejabat negara agar mendapat balasannya di akhirat kelak.
Tapi ya gimana. Opsi yang tersisa memang tak banyak. Ketika mencoba vokal menuntut hak, resiko yang menanti bukan cuma himpitan ekonomi, tapi kekerasan fisik yang nyata. Kita terjebak dalam ironi yang melingkar: diam menerima ketidakadilan, atau bersuara lalu dihadiahi hantaman dari pihak yang digaji menggunakan pajak rakyatnya sendiri.
fillainart retweeted
menarik untuk mencermati siapa si “Haman” di era kini
Dalam karyanya “Religion vs Religion”, Ali Shariati menjelaskan bagaimana mekanisme Triad of Oppression bekerja sebagai mesin ideologis yang melanggengkan ketimpangan.
Shariati menegaskan bahwa sepanjang sejarah, musuh terbesar dari agama bukanlah sekularisme ataupun ateisme, melainkan agama itu sendiri—tepatnya agama yang telah dibajak demi melanggengkan status quo.
Di satu sisi, ada agama pembebasan yang mengartikan Tauhid secara sosiologis sebagai tatanan tanpa hierarki kelas, ras, maupun dominasi, serta mewajibkan pemeluknya aktif melawan segala bentuk alienasi dan eksploitasi.
Di sisi lain, ada agama status quo yang dipopulerkan oleh penguasa untuk merawat tatanan sosial dengan menanamkan keyakinan bahwa kemiskinan dan ketimpangan adalah takdir yang tak boleh digugat.
Untuk menjelaskan mekanisme ideologis ini, Shariati merujuk pada tiga alegori:
Yang pertama adalah Firaun yang mewakili institusi negara, birokrasi, dan aparat hukum yang memonopoli kekuasaan demi meloloskan kebijakan pro-elit serta membungkam pihak yang vokal menuntut haknya.
Kemudian Firaun bertopang pada Qarun, yakni konglomerasi dan pemilik kapital yang menumpuk kekayaan lewat eksploitasi tenaga kerja dan monopoli sumber daya.
Aliansi politik dan kekayaan ini tentu saja membutuhkan Haman—elit agama konformis yang bertugas melegitimasi penindasan yang dilakukan oleh persekutuan Firaun dan Qarun.
Haman menciptakan apa yang dipaparkan Shariati sebagai istihmar—pembodohan sistematis atau pembius kesadaran. Berbeda dengan represi fisik Firaun yang memicu perlawanan, istihmar bekerja secara halus dengan cara melumpuhkan daya kritis rakyat atau kaum yang tertindas (mustadh’afin) dengan menggunakan bahasa-bahasa suci.
Ketika rakyat bertanya mengapa upah mereka tidak cukup untuk bertahan hidup, Haman hadir bukan untuk mengkritik kebijakan upah murah Firaun atau kerakusan modal Qarun, melainkan untuk menasihati rakyat agar memperbanyak doa, menerima nasib, dan memusatkan pikiran pada balasan akhirat.
Familiar?
I said what I said.
Orang Indonesia, terutama yang muslim, paling ga pernah “diceramahi” dengan kalimat ini: “Hitungan Allah beda sama hitungan manusia”.
Satu kalimat pendek ini berfungsi sebagai ruang perlindungan. Saat sistem ekonomi manusia tidak berpihak, kita dihibur oleh keyakinan bahwa takdir Ilahi bekerja dengan logika yang melampaui perhitungan matematis. Kalimat ini seringkali memberi keteguhan untuk terus berusaha, meyakinkan bahwa terlepas dari segala kemustahilan, suatu saat mereka akan bisa memiliki apa yang mereka inginkan.
Karl Marx sendiri mengakui bahwa agama adalah necessary heart in a heartless world.
Tragedinya adalah, iman dipaksa menjadi peredam benturan atas kegagalan sistemik. Ketika dampak yang bersifat sistemik sepenuhnya diterjemahkan sebagai kehendak Ilahi, mekanisme yang melahirkan ketimpangan tersebut justru terlindungi dari kritik.
Sistem yang dominan mempertahankan kekuasaannya dengan menanamkan sejenis common sense ke dalam kehidupan sehari-hari. Upah murah, harga hunian yang tak terjangkau, standar hidup yang jauh dari layak dibingkai sebagai ujian spiritual yang harus dihadapi dengan doa dan kesabaran. Negara seakan dibebaskan dari tanggung jawabnya untuk menyediakan upah layak dan hunian yang terjangkau.
Kalaupun sadar tentang kekerasan struktural ini, biasanya masyarakat akan mendoakan pemimpin dan pejabat negara agar mendapat balasannya di akhirat kelak.
Tapi ya gimana. Opsi yang tersisa memang tak banyak. Ketika mencoba vokal menuntut hak, resiko yang menanti bukan cuma himpitan ekonomi, tapi kekerasan fisik yang nyata. Kita terjebak dalam ironi yang melingkar: diam menerima ketidakadilan, atau bersuara lalu dihadiahi hantaman dari pihak yang digaji menggunakan pajak rakyatnya sendiri.
Dalam karyanya “Religion vs Religion”, Ali Shariati menjelaskan bagaimana mekanisme Triad of Oppression bekerja sebagai mesin ideologis yang melanggengkan ketimpangan.
Shariati menegaskan bahwa sepanjang sejarah, musuh terbesar dari agama bukanlah sekularisme ataupun ateisme, melainkan agama itu sendiri—tepatnya agama yang telah dibajak demi melanggengkan status quo.
Di satu sisi, ada agama pembebasan yang mengartikan Tauhid secara sosiologis sebagai tatanan tanpa hierarki kelas, ras, maupun dominasi, serta mewajibkan pemeluknya aktif melawan segala bentuk alienasi dan eksploitasi.
Di sisi lain, ada agama status quo yang dipopulerkan oleh penguasa untuk merawat tatanan sosial dengan menanamkan keyakinan bahwa kemiskinan dan ketimpangan adalah takdir yang tak boleh digugat.
Untuk menjelaskan mekanisme ideologis ini, Shariati merujuk pada tiga alegori:
Yang pertama adalah Firaun yang mewakili institusi negara, birokrasi, dan aparat hukum yang memonopoli kekuasaan demi meloloskan kebijakan pro-elit serta membungkam pihak yang vokal menuntut haknya.
Kemudian Firaun bertopang pada Qarun, yakni konglomerasi dan pemilik kapital yang menumpuk kekayaan lewat eksploitasi tenaga kerja dan monopoli sumber daya.
Aliansi politik dan kekayaan ini tentu saja membutuhkan Haman—elit agama konformis yang bertugas melegitimasi penindasan yang dilakukan oleh persekutuan Firaun dan Qarun.
Haman menciptakan apa yang dipaparkan Shariati sebagai istihmar—pembodohan sistematis atau pembius kesadaran. Berbeda dengan represi fisik Firaun yang memicu perlawanan, istihmar bekerja secara halus dengan cara melumpuhkan daya kritis rakyat atau kaum yang tertindas (mustadh’afin) dengan menggunakan bahasa-bahasa suci.
Ketika rakyat bertanya mengapa upah mereka tidak cukup untuk bertahan hidup, Haman hadir bukan untuk mengkritik kebijakan upah murah Firaun atau kerakusan modal Qarun, melainkan untuk menasihati rakyat agar memperbanyak doa, menerima nasib, dan memusatkan pikiran pada balasan akhirat.
Familiar?
Orang Indonesia, terutama yang muslim, paling ga pernah “diceramahi” dengan kalimat ini: “Hitungan Allah beda sama hitungan manusia”.
Satu kalimat pendek ini berfungsi sebagai ruang perlindungan. Saat sistem ekonomi manusia tidak berpihak, kita dihibur oleh keyakinan bahwa takdir Ilahi bekerja dengan logika yang melampaui perhitungan matematis. Kalimat ini seringkali memberi keteguhan untuk terus berusaha, meyakinkan bahwa terlepas dari segala kemustahilan, suatu saat mereka akan bisa memiliki apa yang mereka inginkan.
Karl Marx sendiri mengakui bahwa agama adalah necessary heart in a heartless world.
Tragedinya adalah, iman dipaksa menjadi peredam benturan atas kegagalan sistemik. Ketika dampak yang bersifat sistemik sepenuhnya diterjemahkan sebagai kehendak Ilahi, mekanisme yang melahirkan ketimpangan tersebut justru terlindungi dari kritik.
Sistem yang dominan mempertahankan kekuasaannya dengan menanamkan sejenis common sense ke dalam kehidupan sehari-hari. Upah murah, harga hunian yang tak terjangkau, standar hidup yang jauh dari layak dibingkai sebagai ujian spiritual yang harus dihadapi dengan doa dan kesabaran. Negara seakan dibebaskan dari tanggung jawabnya untuk menyediakan upah layak dan hunian yang terjangkau.
Kalaupun sadar tentang kekerasan struktural ini, biasanya masyarakat akan mendoakan pemimpin dan pejabat negara agar mendapat balasannya di akhirat kelak.
Tapi ya gimana. Opsi yang tersisa memang tak banyak. Ketika mencoba vokal menuntut hak, resiko yang menanti bukan cuma himpitan ekonomi, tapi kekerasan fisik yang nyata. Kita terjebak dalam ironi yang melingkar: diam menerima ketidakadilan, atau bersuara lalu dihadiahi hantaman dari pihak yang digaji menggunakan pajak rakyatnya sendiri.
fillainart retweeted
The earliest known motion picture was made in 1888 by Louis Le Prince. Roughly a century before the release of Belgian techno anthem: "Pump Up The Jam"



























