Pinned Tweet
Aku tumbuh di rumah yang dindingnya masih utuh,
tapi isinya sudah lama retak.
Ayah ada, ibu ada,
hanya “kita” yang sudah tidak pernah pulang.
Gue benci banget sama orang-orang yang bayar orang lain buat pura-pura jadi mahasiswa di saat ekonomi sesulit ini. Mereka tahu orang lagi butuh duit buat hidup, makanya mereka berani ngepress bayaran semurah mungkin sambil minta orang itu pura-pura jadi mahasiswa.udh Bayarannya kecil, risikonya besar bakal viral dan mereka yang bayar hanya bersembunyi di balik layar.
Hidup itu lebih indah ketika kita hadir sebagai solusi, bukan sebagai beban. Jadilah berguna, dan jangan pernah membuat orang lain susah karena kehadiranmu.
bagas retweeted
Kayanya banyak yang salah kaprah dengan twit ini. Fokus gue itu ke para voters biar sadar ngga salah pilih presiden lagi.
Mau ada revolusi pun percuma kalo nanti ada pemilu lagi dan salah pilih lagi. Padahal semua pilihan ada di tangan kita.
Kecuali kalo sistem kita monarki atau demokrasi tidak langsung yang pemimpinnya bukan dipilih langsung, nah itu harus pake revolusi buat ada perubahan.
Ini kita udah demokrasi langsung tapi malah jatuh ke pemimpin terburuk, so voters yang harusnya disadarkan, salah satunya dengan nikmatin pemimpin pilihan mayoritas.
Ngomongin kondisi yang lagi terjadi sekarang, kayanya banyak juga yang berharap Prbw turun sekarang, bahkan ada juga yang pengen revolusi wkwk.
Kalo gue sih ngga berharap Prbw turun, biarin aja sampe 2029. Gue lebih berharap masyarakat kita sadar jangan sampe salah pilih pemimpin lagi di 2029.
So, sampe 2029 nanti terima aja dampak baik dan buruknya dari pemerintahan dia. Biar pada ngerasain langsung dulu buat berubah.
bagas retweeted
Permohonan online tgl 6 Agustus 2019.
Verifikasi dokumen tgl 6 Agustus 2019.
Suket keluar tgl 6 Agustus 2019.
Masih nyangkal klo bukan operasi politik?
Asap dan Air
Langit kuning di pagi yang sunyi
Asap mengepul dari tanah yang terbakar
Kalimantan, Sumatra, Papua bernyanyi
Dalam bisu yang menyesakkan napas
Jambi dan Kalteng, udara berbahaya
Anak-anak batuk, sekolah terhenti
Petugas berjuang, air yang sedikit
Sementara api masih menari-nari
Indonesia, tanah airku yang terluka
Api di hutan, banjir di halaman rumah
Lima juta lebih jiwa yang terdampak
Asap dan air, datang bergantian
Kapan bumi ini akan damai lagi?
Atau kita yang harus berubah?
Hujan datang di Sumatra Utara
Rumah-rumah terendam di Deli Serdang, Medan, Langkat
Aceh dan sekitarnya juga berjaga
Musim berganti, tapi bencana tak pernah selesai
Tahun ini ribuan kejadian
Karhutla paling banyak, banjir menyusul
Ratusan nyawa telah pergi
Jutaan yang kehilangan tempat berlindung
Indonesia, tanah airku yang terluka
Api di hutan, banjir di halaman rumah
Lima juta lebih jiwa yang terdampak
Asap dan air, datang bergantian
Kapan bumi ini akan damai lagi?
Atau kita yang harus berubah?
Bukan hanya alam yang marah
Ada tangan manusia yang menyulut api
Lahan gambut yang dikeringkan
Hutan yang terus dibuka tanpa henti
Kita ingat dulu bencana Sumatra
Jutaan mengungsi, rumah jadi puing
Sekarang lagi, asap dan banjir
Seolah bumi sedang berbisik: cukup
Indonesia, bangkitlah pelan-pelan
Padamkan api, siaga hadapi air
Jaga hutan, jaga sungai, jaga satu sama lain
Asap dan air, biar jadi pelajaran
Bukan lagi musuh yang datang tiap tahun
bagas retweeted
LOUDER 💚💙❤️
Sungkem dan respect sama masnya dan seluruh hadirin yang menolak tunduk pada kekuasaan 🙏🏻🇮🇩🙏🏻🇮🇩. #INDONESIASADAR
Pantes aja bang windah marah Kalo ini bener parah banget jujur Pajak kita bukan buat kepentingan masyarakat.
Bukan buat pendidikan, kesehatan, atau lingkungan.
Malah dipakai sewa buzzer buat nyerang orang yang speak up.
bagas retweeted
Papua, sekeping surga yang jatuh ke bumi, dibakar jadi neraka.
PAPUA, SULAWESI, MALUKU DIBAKAR.
Kami tidak membenci negeri ini. Kami hanya lelah melihatnya dikelola oleh orang-orang yang lebih peduli pada kursi daripada rakyat.
bagas retweeted
Jangan pernah meremehkan kritik pada pemerintah di sosial media, meski itu datang dari warga biasa. Jika mereka telah berkumpul, kuasa akan kembali pada mereka.
Jujur gw udah muak.
Dikit-dikit pajak naik. Sekarang semua transaksi digital mau dipajakin juga? Mulai 9 November katanya, demi tutup defisit anggaran.
Pertanyaannya tetap sama: sebelum bikin kebijakan kayak gini, mereka pernah nanya ke rakyat yang bakal kena nggak? Atau cuma duduk di atas, nentuin sendiri, terus bilang “sudah dipertimbangkan”?
Yang bayar tetap kita. Yang nentuin bukan kita.
Selamat pagi, hari Minggu! ☀️
Semoga hari ini menjadi hari yang tenang, penuh damai, dan membawa kesegaran baru untukmu. Nikmati waktu istirahat, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar menikmati momen tanpa terburu-buru.
Semoga harimu penuh berkah dan kebahagiaan. 🌿
Cermin si Budi
sebuah negeri yang kaya akan janji dan miskin akan keadilan, hiduplah seorang pemuda bernama Budi. Ia bukan orang pandai, bukan pula orang berani. Tapi ia punya satu keahlian yang luar biasa: menjilat.
Setiap pagi Budi bangun, bukan untuk bekerja, melainkan untuk mencari siapa yang sedang berkuasa. Kalau ada pejabat baru naik, Budi sudah lebih dulu datang membawa pujian. Kalau ada yang jatuh, Budi sudah lebih dulu menyembunyikan diri.
Suatu hari, sang Raja mengeluarkan perintah baru yang menyusahkan rakyat. Harga beras naik, pajak berat, dan orang-orang kecil semakin susah. Banyak orang yang berani bicara, meski pelan-pelan.
Budi tidak. Ia justru berdiri di tengah pasar dan berteriak:
“Raja kita bijaksana! Kenaikan ini demi kebaikan kita semua! Siapa yang menentang, berarti tidak cinta negeri!”
Rakyat diam. Ada yang jijik, ada yang takut. Tapi Budi merasa bangga. Ia mengira dirinya sedang setia.
Sang Raja mendengar pujian itu. Ia memanggil Budi ke istana dan memberinya jabatan kecil: penjaga pintu. Budi senang bukan main. Ia semakin rajin menjilat. Setiap kata Raja, ia angguk. Setiap kesalahan Raja, ia bela.
Bahkan ketika Raja memukul rakyat yang mengadu, Budi ikut berteriak, “Memang pantas! Mereka kurang ajar!”
Lama-kelamaan, Budi naik jabatan. Dari penjaga pintu menjadi juru bicara, lalu menjadi orang kepercayaan. Ia punya rumah bagus, pakaian bagus, dan teman-teman yang juga pandai menjilat. Ia lupa bahwa semua itu bukan karena dirinya pintar atau jujur, melainkan karena ia selalu mengangguk.
Suatu malam, seorang pengemis tua datang ke depan rumah Budi. Ia membawa sebuah cermin tua yang retak.
“Ambil ini,” kata si pengemis. “Cermin ini tidak menipu. Ia hanya memantulkan apa yang sebenarnya ada.”
Budi tertawa. “Aku tidak butuh cermin.
Aku sudah punya wajah yang disukai Raja.”
Tapi keesokan harinya, karena iseng, Budi melihat ke dalam cermin itu.
Yang muncul bukan wajahnya yang biasa tersenyum manis. Yang muncul adalah wajah seekor anjing kecil yang sedang menjilat kaki seseorang, sambil melirik ke samping mencari siapa lagi yang bisa dijilat. Di belakangnya, terlihat bayangan orang-orang kecil yang sedang menangis, dan bayangan dirinya sendiri yang menendang mereka sambil tertawa.
Budi marah. Ia melempar cermin itu sampai pecah. Tapi pecahannya tidak hilang. Setiap kali ia berkaca di cermin mana pun — di istana, di rumah, bahkan di mata orang lain — bayangan itu tetap muncul: seekor penjilat yang tidak punya tulang punggung.
Akhirnya, ketika sang Raja digulingkan oleh rakyat yang sudah tidak tahan lagi, semua orang yang dulu dekat dengan Raja dicari. Termasuk Budi.
Ia lari ke mana-mana, tapi tidak ada yang mau menolongnya. Teman-teman sesama penjilat lebih dulu menyembunyikan diri. Rakyat yang dulu ia hina justru menunjuknya dan berkata:
“Itu dia, Cermin Budi. Si penjilat penguasa. Lihat wajahnya sekarang. Sama seperti yang selalu ia sembunyikan.”
Budi akhirnya tertangkap. Ia tidak dihukum berat. Ia hanya dibiarkan hidup di antara orang-orang yang ia pernah khianati. Setiap hari ia harus melihat wajah mereka, dan setiap hari ia teringat cermin itu.
Karena memang, yang paling jujur memantulkan watak seseorang bukanlah kata-kata manis yang ia ucapkan kepada penguasa, melainkan bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak punya kuasa.
Tiga jari bukan sekadar isyarat tangan.
Ia adalah bahasa diam yang berbicara lantang: kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.
Satu jari untuk suara yang tak boleh dibungkam.
Satu jari untuk keadilan yang tak boleh dibeli.
Satu jari untuk harapan yang tak boleh dipadamkan.
SC gambar:Ig richoaldhiana_
Sejarah Iga Bakar: Dari Api Purba hingga Primadona Meja Makan Indonesia
Iga bakar bukan sekadar potongan tulang rusuk yang digulung kecap manis lalu dioles di atas bara. Di balik aroma asap dan daging yang melumer itu, tersimpan kisah panjang tentang kelaparan, adaptasi budaya, dan transformasi makanan “murahan” menjadi hidangan yang digemari semua kalangan.
Api Pertama: Dari Zaman Purba hingga Barbacoa
Manusia sudah memanggang daging di atas api terbuka sejak puluhan ribu tahun lalu. Teknik ini berkembang di berbagai peradaban. Di Karibia, suku Taíno punya cara khusus: mereka menaruh daging di atas kerangka kayu hijau yang disebut barbacoa, di atas api yang tidak langsung. Para penjelajah Spanyol pada abad ke-16 mencatat teknik ini, dan kata barbacoa kemudian menjelma menjadi barbecue (atau BBQ) yang kita kenal sekarang
Di Amerika, khususnya wilayah Selatan, memanggang daging menjadi tradisi besar. Awalnya, yang dipanggang adalah hewan utuh atau potongan besar. Iga (terutama babi) justru dianggap potongan murah—bahkan kadang surplus yang dibuang. Industri pengolahan daging di abad ke-19 menghasilkan banyak iga yang sulit dijual. Baru pada awal abad ke-20, dengan munculnya kulkas mekanis dan stand BBQ komersial, iga bakar mulai jadi menu andalan. Nama-nama seperti Henry Perry di Kansas City dan John Mills di Memphis (yang terkenal dengan jazz dan blues) ikut mempopulerkan ribs. Di Memphis, iga bahkan jadi teman setia musik jazz—hingga ada festival Jazz and Ribs.
Dulu banyak yang mengira iga bakar adalah “makanan budak” dari era Perang Saudara. Faktanya lebih kompleks: potongan murah memang sering dimakan kalangan bawah, tapi iga bakar sebagai hidangan komersial adalah inovasi abad ke-20.
Di Indonesia: Dari Sisa Daging Kolonial ke Hidangan Khas
Di Nusantara, tradisi membakar daging sudah ada jauh sebelum pengaruh Barat. Namun, iga sapi yang kita kenal sekarang punya cerita tersendiri. Pada masa kolonial Belanda, daging sapi mahal. Banyak orang hanya mampu membeli bagian sisa—termasuk iga yang masih menempel dagingnya. Iga ini diolah jadi sop, soto, atau dibakar sederhana.
manis. Kecap asin datang dari Tiongkok (dari kata Hokkien ke-tsiap atau koechiap). Pedagang Tionghoa menyesuaikannya dengan lidah orang Jawa yang suka manis dengan menambahkan gula kelapa atau gula aren. Hasilnya: kecap manis kental dan hitam yang jadi bumbu wajib hampir semua masakan Nusantara, termasuk iga bakar. Proses akulturasi ini diperkirakan terjadi pada abad ke-18–19.
Setiap daerah kemudian mengembangkan versinya sendiri:
Jawa: Kecap manis dominan, sedikit pedas, sering disajikan dengan nasi dan sambal.
Makassar (Konro bakar): Awalnya sop iga (konro) dengan bumbu keluwak dan rempah khas. Versi bakar muncul sekitar tahun 2000-an sebagai inovasi, terinspirasi masakan modern, tapi tetap pakai bumbu tradisional Makassar. Tempat legendaris seperti Sop Konro Karebosi (berdiri 1968) ikut mempopulerkannya.
Tempat-tempat lain: Ada yang pakai cobek panas (seperti Iga Bakar Si Jangkung di Bandung yang dimulai dari gerobak tahun 1996), ada yang jumbo, ada yang fusion dengan cita rasa Timur Tengah atau Bali.
Dari Kaki Lima ke Viral
Pada 1990-an hingga 2000-an, iga bakar mulai merajai warung dan restoran. Dari gerobak keliling hingga cabang-cabang modern (contohnya Iga Panggang Panglima yang berdiri 2004 dan sempat viral), hidangan ini naik kelas. Yang dulu dianggap potongan murah kini bisa jadi menu premium, sementara versi kaki lima tetap setia dengan porsi besar dan harga terjangkau.
Kini iga bakar ada di mana-mana: dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, hingga inovasi frozen pack yang bisa dimasak di rumah. Ia bukan lagi sekadar BBQ ribs Amerika, melainkan hidangan yang sudah “diadopsi” sepenuhnya oleh lidah Indonesia—manis, gurih, pedas, dan penuh asap.
Singkatnya: Iga bakar adalah bukti bahwa makanan terbaik sering lahir dari kebutuhan, adaptasi, dan kreativitas. Dari kerangka kayu Karibia, surplus daging Amerika, hingga kecap manis Tionghoa-Jawa dan bumbu rempah Nusantara—semuanya menyatu dalam satu piring yang sampai sekarang masih membuat orang antre.






















