Tubuhmu bukan mesin yang harus terus dipaksa produktif sepanjang waktu. Kau butuh jeda untuk merawat manusia dalam dirimu.
Belajar bersuara sendiri. Jangan terus-terusan berharap orang lain akan mewakili apa yang kamu rasakan. Belajar menyampaikan marahmu, gelisahmu, muakmu, dengan jemari dan mulutmu sendiri. Latih dirimu. Di dunia ini penderitaan seringkali harus kau tumpahkan langsung. Tidak semua orang mengerti apa yang kamu rasakan.
Orang dengan latar belakang pendidikan berbeda, budaya berbeda, tempat tinggal berbeda, pembangunan daerahnya berbeda, akses pengetahuan dan kesehatannya berbeda, lalu kamu berharap cara mengkritiknya sama semua? Mau seragam semua? Baik-baik semua? Mana mungkin. Negara dan pemerintah memang harus siap menghadapi beragam rupa itu.
Kebahagiaan umur 30an adalah ketika melihat kawan-kawan seumuran mulai berani melanjutkan mimpi-mimpi mereka yang sempat tertunda: ada yang mulai bikin album musik, ada yang mulai bikin film pendek, ada yang baru mulai ngelukis, ada yang baru mulai nulis buku. Senang melihat orang-orang yang terus menjaga mimpi-mimpi mereka meski seringkali dihadapkan dengan kerasnya realita.
Boy Candra retweeted
Families are losing their homes, firefighters are losing their lives, and millions are struggling to breathe as Indonesia battles its worst forest fires in more than a decade. The smoke is spreading across Southeast Asia, forcing school closures and putting lives at risk.
Four people were killed fighting a wildfire in Bromo Tengger Semeru National Park on October 15, while two others suffered serious burns. In Bangka Belitung, fires have destroyed nearly 300 homes, forcing around 1,000 residents to flee.
Some fires are linked to deliberate land-clearing practices, including slash-and-burn methods used to clear forests and peatlands for agriculture. Authorities are investigating potential wrongdoing as the blazes continue to devastate communities and wildlife.
May Allāh protect everyone affected, grant patience to those who have lost loved ones, provide shelter and relief to displaced families, and keep the firefighters and rescue teams safe. Āmīn. 🤲🇮🇩
Nama nomor seseorang itu bisa gampang diganti, coba aja ganti nama nomor temanmu jadi ‘tukang bakso’, maka jika dicek di get kontak, ia akan terganti otomatis ada ‘tukang bakso’.
Pas dicek, ya nama yang muncul nama barusan diganti itu. Trik beginian kan gampang sekali dicerna. Kalau logika jalan sih.
Jadi, kalau ada agency buzzer yang ketahuan, temannya tinggal ganti aja namanya di kontak. Jadi ‘tukang bakso’ misal. Nanti, ramaikan saja. Itu tukang bakso, orang iseng itu. Cek di get kontak.
Lalu bayar buzzer receh buat ramaikan. Jadi itu barang. Jalan narasinya.
Terlalu receh.
‘Kamu nggak nerbitin buku patah hati lagi?’
‘Masih. Dua novel ini adalah novel patah hati. Mungkin memang sekarang makna patah hati bagiku jadi lebih luas saja’.
Warga Indonesia itu datang dari latar belakang yang beragam. Itu adalah hal yang membuat pemerintah seharusnya belajar pada penyampaian kritik yang juga beragam.
Selama hak warga negara tidak pernah rata seragam, jangan paksakan bunyi kritik itu juga harus seragam.
Orang yang setiap hari di kampus, berdiskusi akademis, dan orang yang tiap hari berada di pasar, berhadapan dengan preman, mungkin akan beda cara menyampaikan kritik.
Orang yang tiap hari berada di ruangan ber-ac, dengan layar laptop di depannya, dan orang yang tiap hari berada di jalanan, dengan debu dan suara keras berlantunan, mungkin akan beda cara menyampaikan kritiknya.
Jadi ukuran mana yang hendak kau pakai? Mau dipaksa seragam, sementara latarnya beragam.
Kritik adalah kritik. Ia bisa muncul dalam rupa apa pun. Dalam bentuk apa pun.
Warga negara itu punya latar belakang yang berbeda-beda. Punya budaya yang berbeda-beda. Punya cara berkomunikasi yang berbeda-beda.
Kritik mereka akan tumbuh sesuai diri mereka dan itu tetaplah kritik.
Ada orang yang berhadapan dengan orangtua yang toxic, pasangan yang nirfungsi, lingkaran teman yang palsu, ruang kerja yang tak manusiawi, maka ia mungkin akan melihat dengan kesimpulan penderitaan adalah sesuatu yang harus ia terima terus terusan. Kesimpulan itu adalah berita buruknya.
Jika seseorang terlalu menderita sedari kecil, mungkin ia akan terjebak dalam perasaan penderitaan itu adalah hal yang normal dan memang harus dia terima terus terusan. Itu adalah berita buruknya. Ia bahkan tidak pernah mengerti makna bahagia, dihargai dengan layak, mendapatkan hak yang semestinya. Ia dengan mudah menerima dirinya yang terus disakiti berulang-ulang, hak-nya yang tidak dipenuhi. Jiwa melawan dalam dirinya telah mati karena terlalu menderita selama ini.
Sekuat apa seekor harimau menghadapi manusia yang terjebak dalam kemiskinan?
Bagaimana seorang anak harus berhadapan dengan warisan darah keluarga mereka?
Bagaimana kehidupan di hutan liar, yang seringkali diincar oleh manusia-manusia serakah.
Novel Jagal Harimau, sudah edar Minggu ini di semua gramedia seindonesia.
Beberapa hari ini, muncul terus video remaja yang jatuh ke jurang dari air terjun.
Turut berduka.
Cuma mau mengingatkan buat remaja yang lain.
Di sumbar, kasus serupa ini bukan hal yang pertama.
Jaga diri kalian. Tidak semua tempat viral, apalagi alam liar harus didatangi. Apalagi untuk sekadar foto-foto belaka. Tanpa memikirkan keamanan & risikonya.
Sayangi nyawa. Ingat keluarga.
Semoga Pemda juga memperhatikan kasus semacam ini, sudah berulang kali.
Padahal sudah puluhan ribu anak keracunan, berbulan-bulan sulit masuk sekolah, tapi yang mereka nyinyiri malah orang yang mengkritik. Begitulah, jika kepala tidak mampu berpikir jernih. Tidak bisa membedakan mana tai dan mana benih.
Boy Candra retweeted
Indonesia
Horrendous loss - millions of acres of forest up in flames
Countless unique wildlife and birds only found in Indonesia incinerated
And it does not even make main stream news
This quoted post is unavailable.














