Barangkali ada yang mencari-cari, dia simpan catatan kecil di meja @mentarinara yang masih terlelap.
tetapi orang-orang yang juga senang bermain hal sama.
Bola sudah masuk ke lubang kelima—separuh dari setengah ronde. Sebelum kembali berpindah-pindah tempat, Abinawa mendongak menatap kafe yang sudah begitu jauh dari pandangan.
Meninggalkan Kimi di atas sana sendirian sejatinya cukup membuat Abinawa khawatir jika laki-laki yang lebih muda tersebut akan kering kebosanan.
Apa yang sudah dilakukan @mentarinara, ya?
“So you like to beg, huh?” godanya menjawil pipi yang lebih muda main-main dan mencubitnya gemas. Satu hari satu alasan baru untuknya terus menyukai laki-laki di hadapannya ini.
“We'll talk about the card later at home, baby. You can keep it for now, okay?”
Sebuah jepit yang terpasang di belakang topinya membuat dia turut terkekeh geli. “You're cute. It's not like aku bakal hilang hei.”
Satu kecupan ringan dia balas pada ranum @mentarinara sebelum beranjak meninggalkan kafe. “You can call if you can't find me. Aku turun dulu.”
“and about the card, you can have it. I'll send you the PIN in a message later for a large purchase.”
Tidak ada salahnya toh selama enam bulan ini ia sudah mempercayakan Kimi banyak hal. Itu juga untuk memudahkannya melihat apa saja yang akan Kimi beli ke depannya.
“Anyway, kamu mau tunggu di sini dulu sambil makan nanti nyusul?” Abinawa kembali bertanya seraya mengelap stik yang akan dia pakai untuk pertama. Tolong, @mentarinara, ada yang sudah tidak sabar.
“Adem di sini,” katanya membandingkan cuaca di luar dan di dalam ruangan yang sangat kontras meski belum siang hari.
“Aku mau kopi, sayang. Pesenin, ya.” Abinawa meminta, menatap menu yang terpajang dan menyerahkan kartunya pada Kimi untuk memesan.
“Mau check in dulu. Kamu tunggu di sini, oke?” lanjutnya menepuk-nepuk kepala @mentarinara dan mengusap lembut pipi sebelum pergi menuju resepsionis. Meski ramai, klub ini adalah klub tertutup yang hanya mengizinkan mereka yang terdaftar masuk dan Abinawa adalah salah satunya.
Namun, karena terlalu jauh dan tidak ingin ambil risiko dengannya yang tengah mengemudi, cubitan gemas itu mampir di paha Kimi.
Banyak obrolan yang tidak membosankan membuatnya merasa perjalanan mereka berjalan begitu cepat ketika sudah berhenti tepat pada destinasi.
“Jangan lupa topi,” ujarnya memakaikan topi pada kepala Kimi sebelum turun dari mobil. Suasana lapangan pagi di akhir pekan selalu lebih ramai dari biasanya.
Abinawa alihkan pandang pada @mentarinara, merangkul bahu itu lebih dekat. “Kamu mau ikut turun atau di atas aja jajan?”
“It's rich and warm, but I smell a touch of quiet sensual on you.”
Abinawa bukan seorang ahli dalam hal wewangian. Namun, memiliki kebiasaan dalam mendeskripsikan sesuatu secara detail dan menemui banyak wewangian di setiap pertemuan,
membuatnya tanpa sadar menjadikan hal tersebut sebagai impresi pertama.
“Cocok sama kamu.”
Memang terkesan senang berkata manis. Pujian terus saja dilayangkan pada @mentarinara.
Dari bahu, perpotongan leher hingga belakang telinga.
“Wangi. Lebih fresh walau masih ada sedikit manis, soft cinnamon, but feels more warm.” Satu kecupan dia bubuhkan pada pipi Kimi sebelum menjauh membuka pintu mobil untuk yang lebih muda masuk. “I like that.”
Abinawa masuk di sisi kemudi. Menyandarkan diri dengan sabuk pengaman yang sudah terpatri. “Sedikit beda sama yang biasa. Yang ini lebih rich.” Masih melanjutkan perihal parfum tadi. Seraya menyalakan mobil, dia melirik @mentarinara . “Kenapa ganti?” Masih penasaran.
Setidaknya matahari belum terlalu berada di puncak kepala ketika bermain nanti. Walau kadang meski panas menyengat pun Abinawa kerap kali lupa diri jika sudah asyik sendiri.
Suara yang masuk menyapa membuat dia mendongak menatap Kimi yang sudah siap. Senyumnya mengembang,
menghampiri Kimi dengan kecupan di pipi. “Gini kan wangi. Pretty as always.”
“Yuk. Keburu siang.” Ajak Abinawa, merangkul pinggang @mentarinara dan berjalan meninggalkan kediaman menuju mobil di basement.



