RANUM HAWA. (@Timajat) header
RANUM HAWA. (@Timajat) profile picture

IBU, lidahku mendadak kelu ketika sebuah PERNYATAAN CINTA menanamkan paku tanpa waraladu. Bagaimana, IBU? Aku tak ingin tengguli ditukar cuka; BODOH DAN DUNGU.

DJAYAKARTA SENTOSA, 2009
Joined November 2017
Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)Photo by RANUM HAWA. (@Timajat)
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Kutuntun ragamu untuk melekatkan diri pada sepotong kain penghangat ini. Kira-kira mulai dari tangan kanan menuju tangan kiri. "Hujannya udah terlanjur besar, lo kompres dulu aja sampai agak mendingan. Gue tungguin, kok." @Timajat ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
59
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ "Sebentar," cegahku ketika kau hendak beranjak dari ranjang itu. "Sebentar dulu." Aku lepaskan sebentar genggamanmu, Hawa. Biar tangan ini membawa sesuatu yang bisa redakan sakitmu itu karena khusus untuk yang satu ini aku tak bisa berbuat banyak ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
36
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ ketika kenyataan bahwa aku belum cukup mampu untuk menjadikanmu sebagai gadisku dan aku belum cukup mampu menjadi Adam untuk seorang Hawa sepertimu. ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
44
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Walau aku bukan Adam, Hawa. Tapi aku mengerti mengapa ia rela dikeluarkan dari surga karena aku pun sudi memindahkan langit ke bumi, bumi menuju kehancurannya hanya demi engkau. Inilah sihir yang mengukutukku, membuat batinku kian menderita ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
1
50
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Ragu. Haruskah aku menguncang tenangmu? Atau kubiarkan saja meski matahari berlalu digantikan malam membelenggu? "Hawa..." Setengah berbisik kuberanikan memanggil namamu, kuletakan juga telapak tangan di atas dahimu, mengukur suhu tubuhmu. @Timajat ᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
61
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ 𝑫𝒓𝒓𝒓𝒕𝒕𝒕. Pintu tua ini bersuara, ia menyambutku menggantikanmu. Kutarik bangku agar bisa mendudukan raga di dekatmu sementara bawaan kusimpan pada nakas pualam. ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
49
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Kukatakan pada Si Jenderal, Mang Ade, aku membutuhkan air panas sebab bila tidak aku akan beku menjadi patung dan berakhir menjadi pajangan di kutub utara. Maka dengan mudah aku mendapatkannya, satu botol air panas. ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
40
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Nasib yang mereka pilih adalah untuk tuntaskan waktu belajar dan pulang. Sementara aku, Hawa, untuk bertemu seorang gadis yang disembunyikan hujan. Yang barangkali kini ia menahan sakitnya hanya berkawankan senyap. Yang barangkali kini hatinya ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
1
48
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Pula, ini bukan pertama kalinya. Pada bentang usia kita pasti telah menemui lebih dari seribu babak-babak hujan (dihitung dengan gerimis dan rintik yang lirih). Hujan kali ini seharusnya bukan masalah besar, untukmu dan untukku. ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
39
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ SANDIWARA DI DJAYAKARTA ANAK-ANAK KERAS KEPALA DAN SEPUCUK ROMAN PENUH CITA Tahun 2026, Sepulang sekolah bersama Hawaku merajut pertaruhan. ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
2
107
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠ Merutukiku lantas menghadirkan serapah sebagai sesuap kudapan di penghujung senja? Aku tak keberatan. Sungguh, aku tak keberatan. Sebab yang aku lakukan sama kejinya denganmu, tak ada kata mengalah di antara kita. Maka dalam penghukuman ini, meleburlah bersama. ᅠ ᅠ
1
1
68
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Sementara mata kita melahirkan labirin-labirinnya sendiri, saling menyesatkan satu sama lain. Prasangka turut berlabuh, menelan tafsir dan melahirkan kebutaan. Kau akan bagaimana, Hawa? Bagaimana kau menghadapi kebutaan itu? ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
58
RANUM HAWA. retweeted
ᅠ ᅠ ᅠ Seketika saja, @Timajat, dinding-dinding itu memiliki mata, dahan pintu juga, tirai-tirai menelanjangkan diri demi dapatkan sebuah pandang. Seketika saja, Hawa, mereka tak ingin kalah dari kita yang memiliki mata dan memiliki kaki yang bermata. Seketika saja. ᅠ ᅠ
1
3
1
1
296
️ ️ ️ Rampung Ibu bersantap, kami menyulut tembakau rapat-rapat. Serentak, berirama dengan deras air keran di mana Ibu berkutat. “Besok Jangkar tanya, Bu. Kalau sudi, kalau mau.” ️ ️ ️
1
1
253
️ ️ ️ “Ya sudah, besok bawa kesini, Jangkar. Ibu mau bertemu. Ibu suka perempuan cantik. Jangan kamu setubuhi dulu atau kepalamu yang Ibu kafankan.” ️ ️ ️
1
1
100
️ ️ ️ Selaiknya, sebelum mulut Jerit terbuka— lain tuk melahap ayam paha, melainkan menyuarakan dosa belantara. “Bu, Jangkar naksir perempuan bunting.” ️ ️ ️
1
1
92
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Aku memintanya. Aku meminta kecantikanmu sebagai bekalku, sebagaimana aku meminta belas kasih itu untuk melanjutkan hidupku. ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
73
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ Selesai. ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
50
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ "Di luar pagar rumahnya, memintanya untuk menuliskan apa yang telah aku ucapkan. Berharap ia akan dengan sukarela menghampiriku dan turut menapakan kaki di medan perang." ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
2
136
ᅠ ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ "Bahkan setelah berbagai pertemuan yang aku rancang setelah di perkuburan." "Mendadak saja, aku ingin mendengar suaranya." "Mendadak saja, aku telah tiba di medan perang." ᅠᅠ ᅠ ᅠ ᅠ
1
1
47