Niatnya cuma mau baking santai.
Tepung udah siap.
Telur udah siap.
Adonan juga hampir jadi.
Terus si chef dadakan datang.
Satu kaki masuk tepung.
Masih aku toleransi.
Dua kaki masuk adonan.
Mulai panik.
Lima detik kemudian tepung beterbangan, telur pecah, meja berubah jadi TKP, dan dia malah kneading adonan kayak punya pengalaman kerja 10 tahun di bakery 😭
Aku cuma bisa lihat sambil mikir:
“Sebenernya yang lagi masak siapa?”
Akhirnya aku nyerah.
Kalau malam ini kuenya gagal, review jelek langsung kasih ke chef berbulu ini.
Niatnya cuma maskeran sebelum tidur.
Tenang.
Santai.
Self-care.
Terus aku taruh jar skincare di kasur sebentar.
SEBENTAR.
Si kucing datang.
Satu paw masuk ke masker.
Terus dia jalan.
Satu jejak hijau.
Dua.
Tiga.
Dalam beberapa detik sprei putih berubah jadi karya seni abstrak 😭
Belum selesai.
Maskernya kena hidung dia.
Kena kaki.
Terus nyiprat ke baju aku juga.
Aku cuma bisa diem sambil mikir:
“Ini skincare mahal…”
Dia malah duduk santai, jilatin kaki, seolah-olah bukan dia yang baru bikin satu kamar ikut treatment.
Yaudah.
Malam ini bukan aku doang yang maskeran.
Satu rumah sekalian.
Masuk kamar mandi cuma mau ambil sesuatu.
Pas buka pintu…
LANTAINYA UDAH PUTIH SEMUA 😭
Kupikir awalnya tissue jatuh.
Ternyata si pelaku lagi lari sambil bawa ujung roll di mulut.
Aku kejar.
Dia makin semangat.
Satu roll habis.
Roll kedua ikut ketarik.
Tissue nyangkut di kaki.
Kamar mandi berubah jadi arena salju versi hemat budget.
Aku udah teriak:
“ITU TISSUE BUKAN MAINAN!”
Dia tetap lanjut.
Dan pas kupikir akhirnya selesai…
SATU TUMPUKAN TISSUE JATUH LAGI.
Aku cuma diem lihat semuanya.
Dia juga diem.
Bedanya dia kelihatan bangga.
Kayaknya malam ini bukan bersihin kamar mandi.
Aku lagi bongkar instalasi seni.
Aku cuma mau cari SATU charger.
Satu.
Tapi begitu buka tempat kabel, yang keluar malah satu ekosistem lengkap 😭
Charger HP.
Kabel laptop.
Earphone lama.
Kabel entah punya apa.
Adapter yang bahkan aku udah lupa asalnya dari mana.
Mulai dibuka pelan-pelan.
Tarik satu kabel.
Yang lain malah makin kusut.
Tarik dari sisi lain.
Sekarang tangan ikut keikat.
Belum selesai, si kucing datang bantuin.
Atau lebih tepatnya… bikin tambah kacau.
Akhirnya setelah beberapa menit perjuangan, ketemu juga charger yang dicari.
Seneng dong.
Pas lihat ujungnya…
SALAH CONNECTOR.
Di situ aku cuma diem.
Lihat kabel.
Lihat HP.
Lihat kucing.
Terus mikir:
“Yaudah, mati aja sekalian.”
Kadang hidup memang ngajarin kita buat melepaskan.
Termasuk melepaskan niat ngecas.
Niatnya cuma mau bikin mie pakai telur.
Harusnya simpel.
Mie masuk.
Air mendidih.
Tinggal pecahin telur.
Terus telurnya malah jatuh ke lantai.
Belum sempat panik, si kucing langsung datang dengan muka:
“Wah, ada menu baru.”
Aku sibuk ngusir pelan-pelan sambil cari tisu.
Dia maju lagi.
Aku tahan lagi.
Dia penasaran lagi.
Terus tiba-tiba inget…
MIENYA MASIH DI KOMPOR 😭
Begitu nengok, airnya udah hampir luber.
Di situ aku cuma berdiri di tengah dapur sambil mikir:
Aku tadi cuma mau makan mie.
Kenapa rasanya kayak lagi menangani dua keadaan darurat sekaligus?
Aku cuma tinggalin ayam beberapa detik.
BEBERAPA DETIK.
Pas nengok lagi dia udah lari sambil bawa satu potong di mulut 😭
Aku kejar.
Dia makin cepat.
Mie ikut tumpah.
Ayam lain jatuh.
Dapur berubah jadi TKP.
Aku udah teriak:
“MAKANAN KAMU ADA SENDIRI!”
Dia akhirnya berhenti.
Ayamnya dilepas.
Aku pikir selesai.
Ternyata belum.
Dia ambil ayam lain yang jatuh…
TERUS KABUR LAGI.
Di situ aku sadar, ini bukan soal lapar.
Ini soal prinsip.
Kalau makanan manusia ada di lantai, berarti dia merasa itu sudah jadi hak milik bersama.
Niatnya mau produktif dikit.
Laptop udah buka.
Kopi udah siap.
Kasur nyaman.
Mood kerja juga akhirnya muncul.
Terus si paling berbulu datang.
Awalnya cuma duduk.
Terus lihat gelas.
Terus keluar satu paw kecil yang sangat mencurigakan.
Aku udah bilang:
“Jangan.”
Dia tetap lanjut.
SEKALI SENTUH.
KOPINYA TUMPAH 😭
Langsung panik angkat laptop, ambil tisu, cari handuk, bersihin kasur sambil jantung ikut kerja lembur.
Yang bikin emosi…
pelakunya malah duduk santai sambil jilatin kaki.
Seolah-olah tadi bukan dia yang hampir bikin aku beli laptop baru.
Punya kucing tuh kadang bukan peliharaan.
Lebih kayak tinggal bareng roommate yang lucu tapi gak punya rasa bersalah.
Jam segini tiba-tiba kepikiran:
“Kayaknya gampang deh bikin pancake.”
Kesalahan pertama adalah terlalu percaya diri.
Tepung keluar.
Telur pecah.
Susu masuk.
Tinggal aduk.
Harusnya begitu.
Realitanya tepung ke meja, kulit telur masuk adonan, batter nyiprat ke baju, dan entah kenapa dalam lima menit dapur kelihatan kayak habis dipakai shooting MasterChef versi gagal 😭
Masih optimis.
Masukin ke pan.
PANCAKE PERTAMA BAGUS.
Langsung merasa berbakat.
Pas mau dibalik biar aesthetic...
terbang terlalu tinggi.
Jatuhnya malah lipat sendiri.
Aku cuma diem lihat hasilnya.
Kucing juga diem lihat aku.
Terus akhirnya aku kasih sirup banyak-banyak dan foto dari angle terbaik.
Karena dalam hidup, kalau gak bisa diperbaiki…
minimal bisa di-angle.
Aku cuma buka kulkas sebentar.
SEBENTAR.
Pas nengok lagi dia udah kabur sambil bawa tempat telur di mulut 😭
Aku kejar pelan-pelan karena takut telurnya jatuh.
Terus…
KREK.
Satu pecah.
Belum sempat panik:
KREK.
SATU LAGI.
Dalam beberapa detik lantai dapur berubah jadi calon omelet ukuran keluarga.
Yang bikin kesel, setelah semuanya berantakan dia malah duduk santai dengan muka:
“Kenapa? Ada masalah?”
Iya.
Masalahnya sekarang harga telur naik dan tersangka utamanya tinggal serumah sama aku.
Besok kayaknya telur harus masuk brankas.
Ninggalin snack cuma sebentar.
Pas balik, dia udah kabur sambil bawa bungkusnya di mulut 😭
Aku kejar keliling ruang tamu, dia malah makin semangat. Terus tempat snack ikut kesenggol dan tumpah semua.
Akhirnya dia duduk santai, jilatin kaki, seolah bukan dia pelaku utamanya.
Jadi kesimpulannya dia bukan lapar.
Dia cuma pengen bikin rumah berantakan dan aku olahraga.
Hari ini lagi niat banget masak sendiri.
Bukan karena pengen jadi chef.
Cuma pengen merasa hidup lebih teratur, lebih hemat, dan sedikit lebih dewasa.
Masaknya juga gak sebentar.
Potong ini.
Tumis itu.
Nunggu mateng.
Cicipin.
Tambah bumbu.
Cicipin lagi.
Begitu akhirnya selesai, aku sampai bangga sendiri.
Dalam hati udah mikir:
“Wah ternyata aku bisa juga ya.”
Terus tinggal bawa makanannya ke meja.
TINGGAL BAWA.
Tiba-tiba kucing lewat di kaki.
Refleks menghindar.
Panci miring.
Aku masih berusaha menyelamatkan keadaan.
Satu detik rasanya kayak berhasil.
Terus...
BYURRR.
NASI.
AYAM.
SAMBEL.
SAYUR.
SEMUA KE LANTAI 😭
Aku cuma berdiri di situ beberapa detik sambil menatap hasil kerja satu jam terakhir berubah jadi dekorasi lantai dapur.
Dan yang paling cepat bereaksi bukan aku.
KUCING.
Dia langsung maju dengan ekspresi:
“Wah, buffet.”
Aku langsung:
“EH JANGAN, ITU BUKAN BUAT KAMU.”
Setelah semuanya diamankan, aku lihat lantai.
Lihat panci kosong.
Lihat diri sendiri.
Terus ambil HP dan buka aplikasi delivery.
Kadang masak sendiri memang lebih hemat.
Kalau makanannya sampai ke piring.
Aku suka banget momen ketika nemu uang di kantong celana atau tas lama. Padahal jelas itu uang sendiri yang dulu kelupaan, tapi reaksinya tetap kayak baru dapat rezeki tak terduga. Langsung muncul rasa kaya mendadak selama kurang lebih tujuh menit sebelum uangnya dipakai beli makanan dan kembali ke habitat asalnya: hilang
Ada fase dimana barang di rumah mulai punya hubungan emosional sama kita. Satu gelas tertentu rasanya paling enak buat minum, satu sendok terasa lebih benar daripada sendok lainnya, satu sisi kasur dianggap wilayah kekuasaan, dan kalau ada orang pakai barang favorit itu rasanya sedikit terganggu walaupun secara hukum barangnya milik bersama. Dewasa ternyata salah satunya adalah memiliki preferensi sangat kuat terhadap peralatan rumah tangga.
Aku makin sadar kalau pengeluaran kecil itu paling licik. Yang besar biasanya bikin mikir dulu. Yang kecil? “Ah cuma segini.” Kopi, ongkir, snack, parkir, beli ini dikit, itu dikit. Terus akhir bulan buka rekening dan semua “cuma” itu udah bersatu jadi satu angka yang cukup buat bikin kita duduk diam beberapa menit sambil evaluasi kehidupan finansial.
Aku tuh heran kenapa kalau mau pergi selalu merasa “masih lama”, padahal sebenarnya waktu udah mepet. Masih sempat rebahan, buka HP, mikir outfit, ganti baju dua kali, terus tiba-tiba lihat jam dan langsung berubah jadi manusia tercepat di rumah. Semua barang mendadak hilang, kunci gak ketemu, charger entah ke mana, dan lima menit sebelum berangkat suasananya selalu kayak final lomba ketangkasan.
Kadang aku pengen punya satu hari yang gak harus punya tujuan. Gak harus produktif, gak harus menyelesaikan sesuatu, gak harus keluar rumah karena “sayang weekend.” Cuma bangun agak siang, makan apa yang pengen dimakan, nonton sesuatu tanpa merasa bersalah, mungkin tidur lagi, terus malamnya bilang, “hari ini gak ngapa-ngapain.” Dan untuk sekali ini, kalimat itu bukan keluhan, tapi justru pencapaian.
Kadang aku merasa hidup modern itu aneh. Kita capek lihat HP, lalu istirahat dengan nonton TV. Bosan nonton TV, pindah laptop. Mata lelah, rebahan sambil buka HP lagi. Habis itu malam bilang, “kok kepala gue penuh ya?” Ya mungkin karena dari bangun sampai tidur otak gak pernah dikasih mode pesawat. Tapi besok diulang lagi, karena ternyata manusia sangat konsisten dalam kebiasaan yang dia sendiri keluhkan.
Hal paling dewasa yang gak pernah dijelaskan waktu kecil adalah kita akan menghabiskan banyak waktu memikirkan makanan. Baru selesai sarapan udah ditanya makan siang apa. Habis makan siang mikir malam makan apa. Minggu malam malah stres karena besok bekal apa. Ternyata sebagian besar kehidupan manusia memang cuma perpindahan dari satu keputusan makan ke keputusan makan berikutnya.





