kalo di indo harus liat dua pov dulu, jarus liat baju korban yang dipake apa, harus liat tutur kata korban, harus liat apakah korban mereka anggap provoking / engga, pokoknya korban harus suci baru dilirik. itupun speak upnya harus santun, penggunaan diksi harus merendah
tahan banting 馃榿 soalnya emosinya perlahan dikeluarin marah-marah ke anak / istri over inconvenience kayak ada kepuasan sendiri mengontrol otonomi orang lain. banyak kok yang kayak gini. emosnya tidak selesai lalu ketika anak melakukan kesalahan anak-anak 'di-disiplinkan'
nyari kerja beneran dehumanizing di negara ini. semoga yg kayak gini digodok di api neraka paling panas deh gue ga bohong.




