SMRC | Ilmu Politik UI | Public Policy Australian National University (ANU) | Teologi dan Filsafat UIN Jakarta | IPNU | HMI | Forum Kota | Libertarian

Jakarta
Joined October 2009
Coba mengisi kanal Youtube yang sudah lama terbengkalai. Di program baru ini, saya akan mengemukakan argumen terkait isu kebebasan pada ranah politik, ekonomi, budaya dan agama. Semoga konsisten. Silakan tonton, like, share, dan disubscribe. youtu.be/gbYBcsCltvI
45
15
2
87
Saidiman Ahmad retweeted
Gerindra, golkar, pkb, dan pan bilang akan milih prabowo 2 periode: sekarang, apakah pemilih partai2 itu memilih prabowo? ternyata kecil saja dari mereka yang milih prabowo (menurut survei nasional smrc oktober 2026): pemilih gerindra yang milih prabowo 20%, golkar 17%, pkb 4%, dan pan 8%. ada gap besar antara sikap elite partai dan masa pemilih partai2 itu. partai2 itu lantas mewakili siapa?
58
130
15
392
56,304
Replying to @saidiman
Di Bali malah tidak ada satu oun pom bensin menerima pembayaran dgn QRIS, kartu debit, dan kartu kredit. gimana coba om?😁
1
1
1
756
PRABOWO SEMAKIN TIDAK DIINGINKAN: KALAH BUKAN HANYA OLEH KDM, TAPI JUGA BISA OLEH ANIES, GIBRAN, DAN AHY Jika pemilihan presiden dilakukan sekarang, besar kemungkinan Prabowo Subianto tidak akan terpilih kembali. Itulah yang ditunjukkan berbagai simulasi dalam survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) awal Oktober 2026. Survei ini mewawancarai 1.213 responden yang dipilih secara acak. Sebanyak 1.013 di antaranya diwawancara lewat telepon, dan 200 lainnya secara tatap muka untuk menjangkau warga yang tidak memiliki telepon seluler. Margin of error survei ini sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Dalam simulasi semi terbuka, responden diberi daftar 24 nama tokoh dan boleh menuliskan nama lain di luar daftar itu. Hasilnya, Prabowo hanya didukung 9,8 persen. Angka itu bersaing ketat dengan Anies Baswedan (10,3 persen) dan Gibran Rakabuming Raka (8,4 persen). Sementara itu, Dedi Mulyadi (KDM) jauh meninggalkan semuanya dengan 35,5 persen. Seorang presiden petahana kini berada di kelompok yang sama dengan tokoh-tokoh berdukungan sekitar 10 persen. Dalam simulasi head to head dengan Dedi Mulyadi, Prabowo hanya didukung 18,8 persen, sementara Dedi 69,3 persen. Padahal pada survei Februari–Maret 2026, Prabowo masih unggul 50,5 persen berbanding 42,6 persen. Pada Juli 2026 keadaan berbalik: Dedi naik menjadi 59 persen dan Prabowo turun ke 28,3 persen. Pada Oktober, jaraknya makin lebar. Dalam delapan bulan, posisi Prabowo merosot dari unggul menjadi tertinggal lebih dari 50 poin. Mungkin ada yang berpikir bahwa suara Prabowo hanya diambil Dedi Mulyadi, yang juga kader Gerindra. Kalau Dedi tidak maju, bukankah suaranya akan kembali ke Prabowo? SMRC menguji kemungkinan ini dengan simulasi tiga nama tanpa Dedi: Prabowo, Gibran, dan AHY. Hasilnya, Gibran mendapat 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Sisanya, 19,4 persen, tidak menjawab. Dugaan itu ternyata keliru. Gibran dan AHY bersaing ketat satu sama lain, tetapi keduanya sama-sama unggul atas Prabowo. Tanpa Dedi pun, sang petahana tertinggal dari dua politisi yang jauh lebih muda. Hilangnya Dedi dari arena tidak dengan sendirinya mengembalikan pemilih ke pangkuan Prabowo. Yang juga menarik, mayoritas pemilih partai tidak mendukung Prabowo, termasuk pemilih partai-partai yang elitnya sudah mendeklarasikan dukungan dua periode, seperti Gerindra, Golkar, PAN, dan PKB. Dalam simulasi semi terbuka, hanya 20 persen pemilih Gerindra yang memilih Prabowo, sementara 74 persen memilih calon lain. Di kalangan pemilih Golkar angkanya 17 persen, PAN 8 persen, dan PKB 4 persen. Di luar koalisi pendukung, angkanya Nasdem 11 persen, Demokrat 6 persen, PDIP 6 persen, dan PKS 2 persen. Jumlah sampel per partai memang terbatas, tetapi polanya konsisten: di partai mana pun, Prabowo tidak menjadi pilihan mayoritas. Bahkan jika banyak pemilih Gerindra beralih ke Dedi, sesama kader partai, itu tetap berarti satu hal. Deklarasi elite tidak otomatis diikuti oleh pemilihnya sendiri. Dari sini terlihat bahwa publik umumnya memang sudah tidak menginginkan Prabowo menjabat dua periode. Persoalannya bukan semata karena muncul figur yang sangat cemerlang. Ketika figur itu disingkirkan dari simulasi pun, Prabowo tetap tertinggal. Elite partai bisa berkoalisi dan mendeklarasikan dukungan jauh-jauh hari, tetapi suara pada akhirnya ada di tangan pemilih. Pemilih menimbang dari apa yang mereka alami sehari-hari dan dari cara pemerintahan dijalankan. Angka-angka ini adalah pesan mereka, dan pesan itu semakin jelas dari bulan ke bulan. Bintaro, 17 Oktober 2026 SAIDIMAN AHMAD Link presentasi lengkap hasil survei di kolom reply.
45
116
25
331
48,554
MODUS GARONG DI POM BENSIN? Saya adalah pengguna bensin Pertamina, terutama setelah Shell kehabisan stok. Saya juga bukan penikmat bensin subsidi. Sejak lama saya menolak negara mensubsidi bahan bakar fosil. Alasan saya sederhana: saya tidak mau uang negara dipakai untuk mensubsidi bensin yang kebanyakan dipakai oleh pemilik kendaraan yang sebenarnya cukup mampu. Kalau beli kendaraan saja mampu, kok malah bensinnya minta negara yang beli? Karena itu, saya selalu berusaha membeli bensin jenis pertamax, kecuali kepepet, misalnya pom bensinnya hanya menjual bensin bersubsidi. Tapi bukan soal itu yang ingin saya ceritakan kali ini, melainkan pengalaman mengisi bahan bakar di SPBU berlogo Pertamina. Seminggu ini saya dua kali mengisi bensin di SPBU Pertamina, pertama di daerah Depok, kedua di Bintaro. Di dua pom bensin itu saya tidak diterima membayar dengan menggunakan QRIS. Alasannya mirip: yang di Depok bilang hari itu mereka off dari QRIS, pembayaran harus tunai. Di Bintaro alasannya bahwa waktu pembayaran QRIS sudah melewati jamnya sehingga mereka hanya menerima tunai saat itu. QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) adalah standar kode QR untuk pembayaran yang ditetapkan Bank Indonesia bersama Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI). Dengan QRIS, satu kode QR bisa dipindai dari aplikasi pembayaran apa pun, baik mobile banking maupun dompet digital seperti GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay. Alat pembayaran ini sangat memudahkan pembeli dan penjual. Saya baru ingat ternyata ini bukan pengalaman pertama dan kedua saya ditolak membayar bensin dengan menggunakan transaksi via QRIS. Di pom bensin Pertamina di dekat rumah saya dalam waktu yang agak lama hanya menerima pembayaran tunai. Saya agak trauma dengan pom bensin itu karena sebelum ke sana saya harus nyari dan menyediakan cash. Saya tidak paham bagaimana sebuah perusahaan negara di waktu-waktu tertentu menolak pembayaran elektronik yang akan memudahkan mereka dalam pembukuan transaksi keuangan. Sungguh saya gagal paham. Transaksi elektronik tidak hanya akan memudahkan pelanggan dan kasir, tapi juga akan membantu mereka meningkatkan akuntabilitas. Saya tidak tahu apakah praktik menolak transaksi elektronik (QRIS) di hari atau waktu tertentu itu merupakan kebijakan resmi Pertamina, pemilik pom bensin Pertamina, atau inisiatif para petugas di lapangan. Yang pasti, praktik semacam itu membuat saya sangat curiga. Mereka menolak menggunakan QRIS dan alat transaksi elektronik lainnya jelas karena mereka tidak mau transaksinya tercatat. Apakah ini modus garong di siang bolong? Kalau Anda pengguna bensin Pertamina, saya rasa Anda pernah mengalami hal yang sama. Tapi apakah Anda juga curiga ada sesuatu yang keliru? Depok, 17 Oktober 2026 SAIDIMAN AHMAD
15
16
2
50
14,946
MALAYSIA PROTES, INDONESIA NOL EMPATI Beberapa anggota parlemen Malaysia sudah mengeluarkan kecamanan keras atas asap yang menyelimuti wilayahnya akibat kebakaran hutan di Kalimantan Indonesia. Mereka mendesak negaranya secara resmi melayangkan nota protes diplomatik. Mereka juga mendesak agar pemerintahannya secara bersama-sama dengan negara-negara Asean lain, terutama yang terdampak, untuk melayangkan protes keras itu agar Indonesia dikucilkan di kawasan ini. Mereka bahkan menyerukan ancaman pada perusahaan mana pun yang terlibat dalam pembakaran hutan ini untuk diberi sanksi boikot pendanaan. Di Malaysia, praktik slash and burn dalam pembersihan lahan dilarang keras, tapi di Indonesia, praktik semacam ini justru dilakukan dalam skala yang sangat massif, bisa seluas satu kerajaan di Malaysia. Protes keras dari Malaysia ini sangat beralasan. Warganya harus menanggung akibat dari ketidakmampuan negara tetangga mengatasi praktik pembakaran lahan yang berakibat pada kebakaran hutan. Sekolah di Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Selangor, Kuala Lumpur, Putrajaya, dan Rompin ditutup karena asap. Aktivitas luar ruang warganya tersendat. Yang aneh, di Indonesia belum muncul satu pun partai yang secara keras menyalak soal ini, padahal warga di Kalimantan dan sebagian Sumatera sudah megap-megap menghirup asap selama 4 bulan. Para politikus sibuk membahas hal-hal lain yang tidak penting. Mereka bermasa bodoh pada warganya yang mengalami sesak nafas massal. Mereka anteng aja pada protes keras negara lain. Dan yang lebih memalukan, asap masih tebal dan api masih berkobar, tapi Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Syahganda Nainggolan, justru meminta Malaysia dan Singapura menerima kebakaran hutan sebagai fenomena alam. Ia bahkan mengingatkan bahwa hutan Indonesia memberi mereka oksigen ketika tidak berasap. Di saat yang sama, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, sudah bicara soal memanfaatkan 12,7 juta hektare hutan rusak, yang ia sebut sebagai sumber karhutla, untuk bahan baku biodiesel. Warga sesak napas, negara tetangga protes, pejabat malah sibuk menghitung peluang bisnis. Empatinya NOL. Depok, 16 Oktober 2026 SAIDIMAN AHMAD
1
2
3
711
Saidiman Ahmad retweeted
Sedih banget ini. Bangsa kita sepertinya betul-betul sakit. Bencana terjadi dimana-mana tetapi dana untuk penanganan bencana dikorupsi di lembaga pemerintahan yg mengurusi bencana. Bayangkan, OTT korupsi oleh KPK terjadi di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
1,600
32,117
803
74,386
1,934,483
PERCAYA PADA DEMOKRASI TAPI KECEWA PADA PELAKSANAANNYA Pippa Norris dalam Critical Citizens: Global Support for Democratic Government (1999) menemukan gejala warga di pelbagai negara demokratis yang memiliki komitmen tinggi pada demokrasi, tetapi sangat kritis terhadap jalannya demokrasi. Fenomena ini ia sebut critical citizens atau warga kritis. Bagi Juan Linz dan Alfred Stepan (1996), keadaan ketika warga tidak puas pada cara demokrasi dijalankan tetapi tetap menganggapnya sebagai sistem politik terbaik justru merupakan salah satu ciri demokrasi yang terkonsolidasi. Namun belakangan, di pelbagai negara demokratis muncul gelombang ketidakpuasan terhadap jalannya demokrasi, yang sedikit banyak mulai menggerogoti kepercayaan pada sistem politik warisan Athena kuno ini. Studi Roberto Stefan Foa dan Yascha Mounk (2016) di Amerika Serikat menemukan bahwa kepercayaan pada demokrasi di kalangan generasi muda cenderung lebih tipis dibanding generasi yang lebih tua. Mereka menemukan sekitar 72 persen warga AS kelahiran 1930-an menganggap hidup dalam demokrasi itu “esensial”. Di kalangan kelahiran 1980-an, angkanya hanya sekitar 30%. Pola serupa mereka temukan di sejumlah negara demokratis lain seperti Inggris, Belanda, Swedia, Australia, dan Selandia Baru. Bagaimana dengan Indonesia? Survei terbaru SMRC menunjukkan ada 70 persen warga yang menganggap bahwa walaupun ada kekurangan, demokrasi adalah sistem politik terbaik. Ini menunjukkan iman warga Indonesia pada demokrasi sangat tinggi. Artinya setiap upaya untuk mengurangi porsi demokrasi adalah tindakan yang bertentangan dengan aspirasi umumnya masyarakat Indonesia. Walaupun komitmen pada demokrasi sangat tinggi, namun evaluasi terhadap pelaksanaannya justru menunjukkan gejala semakin negatif. Data survei SMRC menunjukkan hanya sekitar 40 persen warga yang puas dengan pelaksanaan demokrasi di Indonesia sekarang (Survei SMRC 1-10 Oktober 2026). Sampai di sini kita bisa melihat bahwa masyarakat Indonesia masuk dalam kategori critical citizens: iman pada demokrasi sangat kuat tapi kecewa dengan pelaksanaannya. Jika sikap ini bertahan, maka konsekuensi dari kekecewaan warga adalah memberikan electoral punishment pada rezim yang sedang berkuasa. Pertanyaan besarnya adalah sampai kapan warga mampu menjaga iman pada sistem demokrasi jika setiap waktu mereka dikecewakan dengan pelaksanaannya di lapangan? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Jawabnya nanti aja. Anda tonton dulu presentasi dan penjelasan survei terbaru SMRC dari Prof. Saiful Mujani mengenai komitmen publik pada sistem demokrasi dan evaluasi kritis warga pada pelaksanannya ini. Link di reply. Jakarta, 14 Oktober 2026 Saidiman Ahmad
4
17
24
1,649
KINERJA PRABOWO KIAN BURUK, EKSISTENSI NEGARA DIPERTARUHKAN Dalam dua tahun pemerintahan Prabowo, terjadi perubahan pandangan publik yang besar mengenai arah perjalanan bangsa. Pada Oktober 2024, di sekitar hari pelantikan Prabowo sebagai presiden, masih ada 83 persen masyarakat yang merasa negara ini berada di jalur yang tepat. Harapan bahwa negara ini akan berkembang menjadi negara besar yang mendatangkan kemakmuran begitu melimpah ketika itu. Betapa tidak, Prabowo datang dengan janji-janji mengenai makan gratis, sekolah bebas beaya di semua tingkatan, rumah-rumah warga akan dibangun, swasembada pangan akan tercipta, kebutuhan kesehatan warga akan dipenuhi, pusat-pusat pendidikan akan dibangun, pertumbuhan ekonomi dipatok 9 persen. Dia juga berjanji akan menjadi pelanjut kebijakan-kebijakan pemerintahan sebelumnya yang diapresiasi oleh rakyat banyak, terutama program sosial dan infrastruktur. Pada pokoknya Prabowo akan membawa negeri ini menjadi baldatun tayyibatun. Pemerintahan baru kala itu sukses membangkitkan harapan. Negara kita ada di atas rel yang benar. Namun harapan itu dengan cepat turun. Sentimen negatif warga tentang kondisi ekonomi memburuk. Tingkat kepuasan publik pada kinerja presiden jatuh. Dan yang lebih mengerikan adalah bahwa rupanya persepsi negatif tentang keadaan sekeliling dan kinerja presiden berpengaruh pada cara pandang publik melihat perjalanan bangsa. Di survei terbaru SMRC (Oktober 2026), tinggal 47,7 persen warga yang merasa negara ini sedang berada di atas jalur yang benar. Sebanyak 34,3 persen yang menyatakan secara tegas kita sedang salah arah da 18 persen yang ragu-ragu. Bayangkan sebuah bus yang sedang melaju, tapi lebih dari separuh penumpangnya tidak yakin bus akan sampai ke tujuan yang benar. Ada beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, penumpang minta supir bus diganti di tengah jalan. Kemungkinan kedua, penumpang akan melancarkan protes terus-menerus yang membuat suasana di dalam bus menjadi sangat tidak mengenakkan. Instabilitas menumpang bus meningkat sepanjang perjalanan. Kemungkinan ketiga dan terberat, penumpang memaksa bus dihentikan dan mereka keluar mencari tumpangan baru. Apakah keyakinan warga soal arah perjalanan bangsa ini bisa dipulihkan? Berat, tapi bisa. Caranya adalah Presiden melakukan perbaikan kinerja secara fundamental. Bisa dimulai dari memangkas kabinet yang sangat tambun itu. Lalu mengganti sebagian besar menteri yang tidak kompeten. Hentikan militerisasi ruang sipil. Kembalikan militer ke barak dan ciptakan angkatan bersenjata yang profesional. Evaluasi secara radikal semua program populis yang menguras anggaran negara dengan hasil yang tidak jelas. Tingkatkan akuntabilitas pemerintahan dengan mendorong independensi lembaga peradilan. Hentikan upaya merangkul semua kekuatan politik. Biarkan ada kekuatan politik yang signifikan sebagai kelompok oposisi untuk mengontrol pemerintahan secara kritis. Lepaskan cengkraman rezim atas media dan kampus. Hentikan penetrasi istana pada kelompok masyarakat sipil. Ciptakan sistem meritokrasi dalam proses mutasi dan penggantian semua pejabat publik. Hanya dengan begitu, kepercayaan publik pada negara ini bisa dipulihkan. Jika tidak, para penumpang bus ini bukan hanya mungkin akan mengganti supir dan kondektur di tengah jalan, tapi juga terbuka peluang bagi mereka keluar dari bus Indonesia ini dan mencari kendaraan lain: kendaraan yang mungkin lebih kecil tapi lebih meyakinkan bisa membawa ke tujuan. Silakan tonton rilis dan temuan lengkap hasil studi ini pada program Bedah Politik bersama Prof. Saiful Mujani di kanal Youtube SMRC TV. Link di reply atau kolom komen. Jakarta, 13 Oktober 2026 SAIDIMAN AHMAD
1
19
1
41
2,589
Baru saja selesai rekaman Bedah Politik bersama Prof. Saiful Mujani terkait dua hal yang fundamental: posisi publik tentang arah perjalanan bangsa dan komitmen pada demokrasi. Dua hal ini fundamental karena terkait dengan aspek eksistensi negara dan sistem politik. Ketika publik bersepakat membangun negara, mereka memiliki harapan dan tujuan. Jika publik melihat negara masih berjalan di atas rel yang sesuai dengan arah dan tujuan masyarakat meneken kontrak politik ini, maka legitimasi eksistensial negara masih terjaga. Sebaliknya, jika publik menilai negara berjalan ke arah yang keliru, maka publik dengan daulat yang ada di tangannya bisa menarik kembali kontrak politik itu. Dan itu artinya, negara atau bernegara tidak lagi punya pijakan eksistensial yang kokoh. Komitmen dan preferensi warga terhadap demokrasi juga sangat fundamental. Sepanjang eksperimentasi pemilihan langsung presiden sejak 2004, komitmen dan preferensi publik pada demokrasi sangat kokoh. Hampir semua warga menilai demokrasi sebagai sistem politik terbaik, walaupun publik juga tidak menafikan sejumlah persoalan yang ada di dalamnya. Walau tidak sempurna, demokrasi tetap dinilai sebagai sistem politik terbaik di antara semua sistem politik yang pernah ada di bumi manusia ini. Dengan kondisi yang cenderung berantakan seperti sekarang ini, apakah iman publik Indonesia pada demokrasi masih sekokoh dulu? Lalu pertanyaan lanjutan yang jauh lebih penting adalah bagaimana publik menilai jalannya pelaksanaan demokrasi ini? Tunggu tayangannya di kanal Youtube SMRC TV pada program Bedah Politik.
1
1
628
Saidiman Ahmad retweeted
Apakah anda puas atau tidak puas dengan pelaksanaan atau kinerja demokrasi di indonesia sejauh ini? “ya, puas”, atau “tidak, tidak puas.” klik like kalau anda “puas”, atau klik repost kalau anda “tidak puas.” tks banyak atas partisipanya.
2
119
16
2,498
ISU PEMAKZULAN DAN KONSOLIDASI ELIT PENDUKUNG PRABOWO Keputusan Mahkamah Konstitusi terkait polemik penyetaraan pendidikan menengah Gibran dinilai banyak kalangan sebagai pintu masuk upaya pemakzulan wakil presiden. Seberapa besar kemungkinan itu terjadi? Yang pertama perlu diperhatikan adalah bahwa pemerintah menguasai hampir semua kursi di DPR. Dari 8 partai parlemen, 7 di antaranya adalah partai pemerintah. Hanya satu yang berjarak, itu pun enggan menyebut dirinya oposisi. Jika pemakzulan itu berjalan, maka ini jadi bukti kuat retaknya konsolidasi elit pendukung Prabowo. Pertanyaannya, apakah Prabowo akan menginginkan atau membiarkan keretakan itu? Berkaca pada perilaku politiknya dua tahun terakhir, Prabowo justru sekuat tenaga menjaga konsolidasi elit pendukungnya. Dia selalu berusaha merangkul semua. Menteri-menteri dari partai sedapat mungkin dipertahan atau ditambah, bahkan yang bermasalah sekali pun tetap anteng di kursinya. Kalau pun ada menteri dari partai atau yang memiliki basis politik yang diganti, buru-buru diberikan posisi baru. Beberapa bulan terakhir Prabowo mengalami erosi legitimasi di tingkat akar rumput. Survei opini publik menunjukkan persetujuan pada kinerja dan kebijakannya melorot ke angka terendah, sekitar 50 sampai 40 persen. Jika dukungan di tingkat elit juga merosot, maka legitimasi politik Prabowo benar-benar tak bersisa. Karena itu saya agak ragu Prabowo akan membiarkan partai pendukungnya melakukan manuver politik untuk pemakzulan. Kalau itu tetap terjadi, bisa dibaca bahwa loyalitas elit pada Prabowo sebenarnya tidak sesolid yang selama ini muncul di permukaan. Selanjutnya kita perlu menunggu apakah Prabowo benar-benar punya power menjaga soliditas kekuatan-kekuatan politik di tingkat elit pendukungnya atau erosi legitimasi di tingkat massa juga sudah merambat ke tingkat elit? Depok,10 Oktober 2026 SAIDIMAN AHMAD
7
4
18
2,111
Saidiman Ahmad retweeted
diaspora minta judicial review aja aturan-aturan yang menyulitkan diaspora untuk kembali ke Indonesia hapus atau revisi semuanya
Mahkamah menerangkan bahwa meskipun tidak ditemukan bukti meyakinkan mengenai kepemilikan ijazah atau sertifikat luar negeri setara SMA milik Gibran Rakabuming Raka, MK tidak dapat membatalkan kedudukannya sebagai Wakil Presiden. Sebab, proses pencalonan telah berakhir sejak pelantikan pada 20 Oktober 2024 sehingga perkara tersebut secara substansial tidak lagi berada dalam rezim perselisihan hasil pemilu. Meski demikian, secara formal MK tetap berwenang mengadili perkara tersebut. Berdasarkan asas ius curia novit, Mahkamah berkewajiban menggali kebenaran materiil dan tidak dapat menolak perkara dengan alasan tidak adanya batas kewenangan hukum lembaga pascapelantikan. Mahkamah juga mengungkapkan bahwa dokumen yang menjadi dasar penerbitan Surat Keterangan (Suket) penyetaraan hanya berupa certificate of attendance dan catatan akademik. Dokumen tersebut dinilai bukan bukti kelulusan atau tamat dari suatu jenjang pendidikan, melainkan sebatas bukti kehadiran dalam proses pembelajaran. Namun, para Pemohon yang terdiri atas organisasi kemasyarakatan, partai politik, dan perseorangan dinilai tidak memiliki kedudukan hukum (legal standing) karena bukan pasangan calon. Karena itu, dalam amar putusan, MK mengabulkan eksepsi Termohon mengenai kedudukan hukum dan menyatakan permohonan para Pemohon tidak dapat diterima. Unduh salinan putusan selengkapnya melalui laman mkri.id ya, #Courtizen! #MengawalKonstitusi #salaMKonstitusi #MKRI #PHPU2024
71
34
4
134
30,752
MENIMBANG ULANG SYARAT USIA DAN PENDIDIKAN CALON PRESIDEN Mahkamah Konstitusi tidak mengabulkan permohonan mendiskualifikasi Gibran Rakabuming dari posisinya sebagai wakil presiden Republik Indonesia. Namun lembaga ini menyetujui dalih para pemohon yang pada pokoknya menyatakan Gibran tidak memiliki ijazah setara SMA yang menjadikannya secara administratif tidak memenuhi syarat menjadi calon wakil presiden. Di antara banyak isu yang muncul dalam proses persidangan sampai dengan keputusan, ada dua hal yang menurut saya penting dibahas. Pertama, Mahkamah sama sekali tidak mempertimbangkan bahwa Gibran sebenarnya memiliki ijazah setingkat di atas SMA, yaitu ijazah bachelor of science yang sebanding dengan strata 1 di Indonesia. Logika sederhana saya menyatakan mestinya ijazah S1 itu bisa jadi pertimbangan karena kalau orang punya ijazah S1, logisnya membincang ijazah sebelumnya menjadi tidak relevan. Hal kedua yang menurut saya penting tapi tidak terbahas adalah soal persyaratan pendidikan bagi elected officials (jabatan melalui pemilihan oleh publik). Selain disebut sebagai the guardian of Constitution, Mahkamah Konstitusi juga merupakan the guardian of democracy. Saya agak menyesalkan bahwa dalam forum berharga itu tidak muncul pembicaraan mengenai aspek demokratis dari syarat pendidikan dan usia calon pejabat yang melibatkan suara publik. Saya coba telusuri secara singkat melalui bantuan AI mengenai praktik persyaratan pendidikan dan usia untuk jabatan publik melalui pemilihan seperti presiden, perdana menteri, atau anggota parlemen di lima negara demokratis. Hasilnya begini: Di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, dan Norwegia (saya batasi pada beberapa negara demokratis utama saja), tidak ada sama sekali persyaratan pendidikan untuk menjadi calon presiden, perdana menteri, dan anggota parlemen. Yang ada adalah syarat usia, itu pun lumayan minimalis. Di Amerika Serikat, untuk menjadi calon presiden, Anda harus minimal berusia 35 tahun dan berwarga negara kelahiran AS dan menetap di sana minimal 14 tahun. Syarat anggota senat minimal 30 tahun dan anggota parlemen (House of Representatives) minimal 25 tahun. Di Inggris, syarat usia Perdana Menteri secara khusus tidak ada karena biasanya diangkat dari anggota House of Commons (parlemen) yang syaratnya hanya 18 tahun. Di Jerman, syarat menjadi anggota Bundestag (parlemen Jerman) adalah 18 tahun. Sementara syarat usia Kanselir pada dasarnya tidak ada karena hanya merujuk pada usia pemilih, yakni 18 tahun. Di Prancis juga sama, syarat menjadi anggota parlemen dan presiden adalah 18 tahun, mengikuti syarat hak pilih warga negara. Demikian pula dengan Norwegia. Kesimpulannya, negara-negara demokratis itu menerapkan syarat administratif minimal untuk seorang pejabat publik yang dipilih oleh rakyat. Syarat utama mereka bisa menduduki jabatan-jabatan itu adalah suara rakyat. Prinsip sistem demokrasi yang memberi hak pada setiap warga negara untuk memilih dan dipilih diterapkan secara konsisten. Idealnya perdebatan soal ijazah dan usia calon presiden dan wakil presiden ini benar-benar masuk ke substansi mengenai hak setiap warga negara untuk memilih dan dipilih. Jika konsisten dengan itu, mungkin bisa dipikirkan bahwa untuk menjadi calon presiden, wakil presiden, anggota dewan perwakilan, gubernur, dan bupati/walikota syaratnya sama dengan syarat untuk memiliki hak pilih, yakni berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Untuk memiliki hak pilih, tidak ada syarat pendidikan. Mestinya untuk dipilih, syarat pendidikan minimal itu juga tidak perlu ada. Depok, 6 Oktober 2026 SAIDIMAN AHMAD
20
13
3
34
3,108
Wapres ke korban MBG: "Kamu hari ini pulang, besok sekolah, ya. Nanti bawa bekal dari rumah. MBG jangan dimakan." Ternyata presiden dan wakil presiden memiliki pandangan yang berbeda soal implementasi program MBG. Wapres menginginkan target MBG hanya pada kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi terendah, sementara presiden ingin semua diberi makan. Wapres ingin pelaksanaan MBG melibatkan dapur-dapur warga di sekitar sekolah seperti kantin sekolah, sementara pelaksanaannya justru menggunakan konsep dapur terpusat yang sebagian besarnya dikelola militer dan polisi. Yang menarik, perbedaan ini tidak sungkan diungkapkan ke publik. Dari sekian lembar tafsir politik yang bisa dibaca dari sini, yang paling penting untuk sementara adalah bahwa ternyata kekuasaan Prabowo tidak sepenuhnya terkonsolidasi di kalangan elit. Runtuhnya legitimasi politik presiden di tingkat akar rumput, sebagaimana yang terpotret dalam survei opini publik, rupanya bergema jauh dan membuat loyalitas elit mulai retak. Ungkapan Wapres pada korban MBG ini, lalu pidato ketua Demokrat tentang demokrasi, juga pernyataan Ketua PAN mengenai MBG adalah gejala politik yang penting dibaca dalam satu tarikan nafas. Jakarta, 30 September 2026 Saidiman Ahmad
8
7
1
22
2,312