Raditya retweeted
Selamat malam, sayang!
🐉 izin kembali mengingatkan, untuk melengkapi kriteria (umur, rls type, CW, dsb) guna menghindari warn di minbat. Serta, jika dititipi menfess tetap harus teliti.
Akan ada sanksi ban sementara pada warn ke 3 dan ban selamanya pada warn ke 6
(cont)
Raditya retweeted
the saddest part is, kau sebenarnya bukan pendiam, kau suka bercerita, suka bermanja, suka share benda random, dan selalu excited bila dengan orang yang kau sayang, but somehow life turned you into someone who barely talks anymore
Raditya retweeted
💚 GUYS AYO KITA BANTU SUARAKAN PAPUA DI X SEPI BGT YG NGEBAHAS TENTANG KARH*UTLA PAPUA LEBIH RAME DI THREADS AYO DONG RAMEIN JUGA KONDISI MEREKA JUGA PARAH
Raditya retweeted
bawah kebuka atas tertutup:
You’re unable to view this Post because this account owner limits who can view their Posts. Learn more
Raditya retweeted
dah dibenerin 🙏🏻
“Ketika Anda angkat Salib maka lawan politikmu termasuk Saya Natalius Pigai seolah2 musuh Allah. Anda orang benar dan pemerintah orang berdosa. Ketika anda angkat Salib ( anda anggap diri sudah sekutu Allah). Sementara pemerintah termasuk belasan Menteri dan Wakil Menteri di Kabinet ini (termasuk Natalius Pigai) yang beragama Kristiani dianggap pendosa dan seolah2 kami ini bersekutu dengan setan. FATAL!.”.
Saat salib dibawa masuk ke panggung politik, saat itu juga salib berhenti sebagai simbol keselamatan dan berubah menjadi simbol kekuasaan serta unjuk kekuatan. Begitu salib berubah menjadi simbol kekuasaan, orang akan langsung teringat pada luka lama sejarah: Perang Salib.
Mengapa hal itu sangat berbahaya?
Salib telah kehilangan maknanya. Di hadapan salib, kita sesungguhnya harus menyampaikan credo:
“Aku anak yang berdosa, ampunilah aku.”
Namun, di panggung politik, salib bisa dipelintir menjadi:
“Kami benar. Anda, pemerintah, salah. Kami yang berkuasa.”
Hal ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai salib yang mengajarkan kerendahan hati, pengampunan, kasih sayang, belas kasih, dan cinta kasih.
Salib juga bisa membuat lawan politik seolah-olah menjadi musuh Allah. Inilah yang paling fatal.
Dalam politik, lawan kita adalah sesama warga negara yang memiliki perbedaan pendapat dan pilihan politik. Itu merupakan hal yang wajar. Hari ini seseorang menjadi lawan, tetapi esok hari bisa menjadi kawan dalam koalisi.
Selengkapnya:
posnews.co.id/salib-merah-po…
































