The right person will never look at your feelings as a burden. If opening up feels 'too overwhelming' for them, they simply aren't built for you. That's all.
@puzzly retweeted
Controlling yourself from reaching out to someone you deeply want to talk to is a different kind of pain.
@puzzly retweeted
Ya Allah, I'm struggling with my current situation; please grant me the ikhlas and patience I need until I finally see why you arranged everything this way. 🤍
@puzzly retweeted
You know, when you lost an attachment, like from a breakup, you're experiencing withdrawal, similar to substance addiction withdrawal.
@puzzly retweeted
Man to Woman
Selama dia nggak ngajak lo ketemu, he's not that interested.
Selama dia nggak ngajak lo komitmen, he's not that interested.
Selama dia nggak meluangkan waktu, perhatian, dan effort buat lo, he's not that interested.
Karena ketertarikan yang nyata itu nggak bikin lo bingung.
Yang bikin bingung biasanya adalah ketika tindakan dia nggak sebesar harapan lo.
Simplenya, kalau effort-nya nggak ada, jawabannya juga udah ada.
@puzzly retweeted
Halo teman-teman! I just receive a really bad news from my mom and we really really need a lot of money… for survive…
Yang mau order kopi buat tanggal 5 April 2026 ke atas, bisa isi form berikut ya: docs.google.com/forms/d/e/1F…
Pengiriman dari JakBar bisa ke luar Jawa by Paxel 🙏🏻
@puzzly retweeted
Bismillah,
Teman2 semua bolehkah minta tolong bantu RT kah? Hatur nuhun sebelumnya.
Sesaat lagi Ramadhan tiba dan saya menawarkan aneka masakan siap makan (tinggal dipanaskan).
Pengiriman dari Bandung by Paxel. Menunya nanti ada di cuitan berikutnya ya
@puzzly retweeted
Lagi-lagi soal Kapitil
Saya nulis ini sebenarnya sambil agak emosi (akan saya jelaskan).
Kok bisa2nya entri kata seperti "kapitil" masuk KBBI. Di lain pihak, ini sebenarnya tidak mengejutkan karena dalam beberapa tahun terakhir ini KBBI mulai sembarangan memasukkan kata ke dalam KBBI, mungkin karena mengejar target. Semuanya ini dimulai karena nafsu mengejar jumlah kosa kata supaya "bisa disejajarkan" dengan bahasa-bahasa besar di dunia.
LIhat: badanbahasa.kemendikdasmen.g…
Tahun 2024 mereka ditarget untuk menambah 80.000 lema, mengejar target 200.000 lema. Saya kira target ini bisa jadi dijadikan semacam KPI bagi Badan Bahasa yang mengampu KBBI. Jadilah segala macam kata hantu belau dimasukkan ke dalam KBBI, termasuk yang terakhir ini: kapitil.
Bagaimana sesungguhnya sebuah kata bisa masuk KBBI? Mengacu pada sebuah artikel yang ditulis oleh Badan Bahasa sendiri (badanbahasa.kemendikdasmen.g…), syaratnya ada lima. Mari kita lihat satu per satu.
1. Unik. Belum memiliki makna dalam bahasa Indonesia. Oke, boleh, dengan syarat jangan ngarang, dan jangan maksa. Kita sudah punya lema kapital untuk huruf besar, dan nonkapital untuk huruf kecil, ada juga onderkas, mungkin mirip seperti lowercase, sebuah kata lama peninggalan dari Belanda. Jadi, apakah kita butuh kapitil? Tidak.
2. Eufonik. Enak didengar. Ini keluhan yang paling banyak saya dengar saat orang berkomentar tentang kapitil. Apaan tuh? Kok bunyinya seperti ... (you know what I mean). Jadi syarat ini udah jelas-jelas dilanggar.
3. Seturut kaidah bahasa Indonesia dalam pembentukan kata. Saya pikir syarat ini kurang relevan
4. Tidak berkonotasi negatif. Lah, justru ini yang paling parah. Soalnya mirip dengan .... (you know what I mean)
5. Kerap dipakai. Memang, untuk membela diri, Badan Bahasa memasukkan entri kapitil sebagai ragam cakap, alias nonformal. Pertanyaan saya, dalam percakapan di mana muncul kata kapitil ini? Perasaan gak pernah dengar dan lihat. Ternyata jawabannya ada di sebuah artikel di detik: detik.com/edu/detikpedia/d-8…
Kata ini berasal dari joke internal di Badan Bahasa. What?Joke internal boleh dimasukin kamus? Kalau begitu kenapa lema anjir, jancuk, dan cabe-cabean yang bahkan pemakaiannya jauh lebih luas tidak dimasukkan? Karena belum diusulkan masyarakat? Jawaban macam apa itu.
Ini hanya menunjukkan satu hal. Badan Bahasa memegang cek kosong untuk memasukkan kata ke dalam KBBI secara semena-mena. Mereka bahkan melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Bayangkan, joke internal kantor, yang tidak dikenal masyarakat luas bisa masuk kamus. Saya menyebutnya dengan istilah otoritarianisme bahasa, atau fasisme bahasa (grammar nazi, everyone).
Sebagai penutup, saya mau cerita sedikit. Saya dulu pernah bersurat kepada redaktur KBBI perkara lema "batalion". Menurut saya, seharusnya yang masuk kamus itu adalah "batalyon", seperti yang umum dipakai oleh TNI. Kok KBBI tidak mengikuti pemakaian umum melainkan ngarang sendiri. Surat saya dijawab sederhana: bentuk bakunya adalah "batalion", tanpa membuka ruang diskusi. Kalau bukan fasis, apalagi namanya.
(Update terakhir, kata "batalyon" dimasukkan sebagai varian dari "batalion")
Bahasa adalah milik bangsa, milik pemakainya, bukan milik Badan Bahasa. Dengan memasukkan entri secara serampangan, Badan Bahasa sesungguh sudah merusak bahasa Indonesia. Ingat, "Bahasa Mencerminkan Bangsa." Mungkin rusaknya bangsa kita memang tercermin dari rusaknya bahasa Indonesia.
@puzzly retweeted
Replying to @garminfr165
Wild take.
Btw kecuali buat lari / ngegym saya prefer pake wired sih
@puzzly retweeted
feel free to print, save, share🩷🌷🫶🏻
- only for personal use ya guys!
drive.google.com/drive/folde…
#ResetIndonesia



































