Pinned Tweet
Ni hao~~
Iβve got a 3-month study plan thatβll have you speaking Mandarin (Chinese) like a pro (okay, at least HSK 1 level π) with 100% self-study!
π Goal: Master HSK 1 (150 words, simple sentences, & basic phrases)
Curious yet? Youβre gonna want to see thisπ
Kpop war terlebay di 2026. π
Replying to @abc_xyz123098
Ngapain IVE peduli sm fans2 dr negara kere penyepong SM? Like idol lu cm relevan di indo dan dilepeh di negara sendiri bro, bukan achievement populer di indo kata gw mah π€£π€£π€£π€£
Bagi teman-teman perempuan di area Jogja yang sedang mengalami kesulitan finansial dan kesulitan untuk membeli pembalut, silakan hubungi saya melalui DM.
βπ Catatan: Mohon kejujurannya yaa. Bantuan ini khusus untuk yang benar-benar membutuhkan dan tidak mampu membeli saat ini. Bagi yang masih mampu, mari kita dahulukan teman-teman yang membutuhkan.
βPrivasi kalian aman. Silakan DM saya langsung jika membutuhkan. Terima kasih! π€
Di Indonesia juga bisa dilaporin perusahaannya, TAPI...yg ngelaporin most likely bakalan dipecat dengan berbagai alasan.
Jang Hansol (Korea Remot) SPEAK UP soal bedanya UMR Korea vs Indonesia π
Hansol bilang kalau di Korea, perusahaan yg ngasih gaji di bawah UMR bisa dilaporin ke pemerintah &
pemilik akan didenda.
Orang2 Korea jarang ada yg kesusahan gak bisa makan. Kasus bunuh diri di sana tuh karna depresi impian / cita2nya gak tercapai,
Sedangkan di Indo, masih banyak yg kerja dgn gaji di bawah UMR & hidupnya susah kelaparan π₯Ί
Padahal banyak bngt orang yg slik-nya jelek karena jadi korban penipuan, baik dari oknum penipu atau malah temen sendiri.
Alya, the way you're using mark's hard-earned career moves as your own personal flex over other fandoms is peak BIRGing. but what's funnier is the immediate projection in the qts; blaming literally everyone else for poor comprehension and acting like you're just defending yourself when you literally started the whole drag post?
Anyone still using "God's math is different from human math" to dismiss real struggles and excuse the government's total incompetence needs a serious reality check fr. Y'all are deadass wild for that. πππ
μΈλλ€μμ μΉκ΅¬λ€, μ΄κ±° λλ€ λ¬Έμ μ μ΄ μκΈ΄νλ€! κ·Όλ° μ΄ μμΉκ° λ§μ? μ°λ¦° μ΄κ² μ΅μ μκΈ κΈ°μ€μ΄μΌ, λν¬λ 500λ§ λ£¨νΌμκ° μ΅μ μκΈμ΄λ?? λΉμ₯ μμΈμ μ΄κΈ°λ λΉ‘λΉ‘νλ° λ§μΌ!
μΈλλ€μμ μ§κ°μ λλ€κ° 20λ
μ λ μ΄μ¬ν μΌνλ©΄ μ΄ μ μμ΄??
Lowkey you need to pay way more attention when you're translating fr. Ain't no way you come from a country with good education and still missed the context that bad. πππππ
Replying to @aruaruarumeru
μμ£Ό μ λμ κ²μν΄λ³΄λ©΄ λ§μμ¬
μ μ΄μ μ νκ΅μΌλ‘ λΉκ΅νλμ§ λͺ°κ² μ μ€μμ€ λ―Έκ΅μ΄λ νμ§
Yang bener aje jadi ortu modelan gini konsepnya. π
Replying to @uniesiunie @hojichal_tte
It sucks gak bisa kuliah. Tp klo ortu dah biayain sampe SMA dgn segala daya upaya, ya mereka gak lepas tangan. Kewajiban terpenuhi.
Les? Ini privilege.
Klo sampe butuh les, yg perlu diperhatiin itu:
1. Cara guru ngajar
2. Cara murid belajar
3. Kurikulum
Bukan ortu yg disalahin
This is literally survivorship bias. Just because one person managed to make it out through a mix of hard work, grit, and luck doesn't mean everyone else has the same shot. And it's crazy how some people escape poverty and then turn around and act like everyone still struggling just isn't trying hard enough. Suddenly, it's all about having the right mindset, being mentally tough, or not making excuses. Like, you got lucky enough to make it out, and now you're acting like the system works just fine when millions of people are still getting screwed over by it.
Istri saya waktu SD, punya kaos kaki cuma satu, listrik blm masuk rumah, sepatu kl jebol jahit sendiri.
Lulus juga dari MAN, kuliah di PTN di Bandung.
Saya ga bisa jelasin gimana miskin kek gitu bisa juga akhirnya kuliah...
Ga perlu ditanya susahnya.. banyangin aja dl listrik belum masuk ke rumah..
Tapi apakah dunia berakhir? Enggak.
Istri saya sering sekali menelpon orang tuanya.. ngobrol macem2 sambil tertawa terkekeh-kekeh..
Kl ga ada halangan, selalu pulang saat lebaran.
Kl pakai jurus sakit hati, sy ga minta dilahirkan miskin, ya bisa jadi ga ada itu semua.. malah mgkn sebaliknya, tetap bodoh karena berlarut dg sakit hatinya.
Apakah ortunya (mertua) orang ga bertanggung jawab.. jelas tidak!!!
Mereka sangat akrab.
Jadi kondisi miskin itu hal lain, merespon kondisi miskin itu lain hal. Dan ilmu sakit hati jangan sampai dipelihara dalam pikiran.. ga ada gunanya, yg ada malah menjerumuskan.
And honestly, trying to talk about systemic poverty in these spaces is like talking to a wall, especially when everything gets chalked up to religion or fate. People will say it's just a ujian from God or that it's all takdir, and somehow that shuts down the whole conversation. Like, okay, but that still doesn't explain why the system keeps failing the same people over and over again.
How are we supposed to call out the actual problem when everything gets framed as some divine test or something people are just meant to go through? At that point, meritocracy and fatalism are basically doing the same thing: giving the system a free pass while making people who are already struggling feel like they're the problem. And that's what's so messed up about it. π«





























