Her Majesty 🍒 retweeted
Replying to @baseconvo
Dia pace 8 ga ngerugiin, nah lu ngerugiin orang lain pake asap rokok lu. Perokok emg ga pernah sadar.
muka gue gatel tp dibagian yg abis disuntik 😔😔😔😔😔 akhirnya cuma gue tap tap doang huhu gasuka ihhhh treatment yg pake downtime begini
niat mau reflexology kaki karena sering sakit kalo pake heels. nyoba di tempat baru, pas 5 menit dipijit
"mba ini gabisa diterusin. harus full body karena harus ada yg dilurusin dari pangkal paha*
gue kira upselling tp pas dia pegang beneran titik yang sakit 🥲
👩: mba nya udh nikah?
🙋♀️: belum bu
👩: untung datengnya sekarang. kalo dibiarin nanti pas nikah gabakal ngerasa nikmat mba nya. kasian kayak diperkosa aja rasanya
*gue dalem ati: hmmm pantes
gue bilang mah jam segini tidur chrisss. buka ig malah tbtb disuruh pengajuan banding padahal kerjaan gue scroll scroll doang 🙂
waktu kecil aku pernah ditanya papa pas temennya lagi main ke rumah. nanyanya sambil becanda sih
"kamu kok deketnya sama om *** sih. yg papamu kan papa"
gue bahkan ga inget luka apa yg bikin gue ga deket sama beliau 🙂🙏
Replying to @fizaarchive
seorang ayah ini memang terkadang tanpa sadar malah ngebuat jarak sendiri sm anak pertamanya, jd nnti klo anak pertamanya udh dewasa dn ga deket sm ayahnya, malah menjauh, jarang ngomong, lebih pendiem, jngn salahin anaknya
Her Majesty 🍒 retweeted
Why being woman so expensive?
1. Rhinoplasty
2. Threadlift
3. Filler bibir
4. Skinbooster
5. Hifu
6. Ultralif
7. Botox fullface
8. Behel
Tapi gapapa sih.
Aku justru senang lihat perempuan-perempuan sekarang berani spend dan invest ke diri sendiri ke tubuh, ke kulit, ke wajah. ❤️
Her Majesty 🍒 retweeted
Petinggi2 Do gelut dewe2, malah seru.
Gaweke ring tinju sisan ben dadi tontonan.
Gazzzzzzz
Aku numpang dodolan kacang ae
Her Majesty 🍒 retweeted
Slip gaji karyawan baru malah salah kirim ke email gue. Dia baru bekerja 3 bulan, sementara gue sudah 4 tahun. Tapi jabatan kami sama.
Awalnya gue buka karena judul emailnya sama persis dengan slip gaji yang biasa gue terima setiap bulan. Baru sadar setelah melihat nama penerimanya bukan nama gue. Gajinya Rp11,5 juta, sedangkan gaji gue cuma Rp8,2 juta. Padahal meja kami bersebelahan dan gue sendiri yang mengajari dia menggunakan sistem perusahaan saat minggu pertama masuk.
Gue langsung melapor ke HR kalau slip gaji itu salah kirim, lalu kembali bekerja. Dia bahkan sempat menawarkan kopi. Bagian paling berat adalah menyadari kalau dia sebenarnya nggak salah apa-apa. Dia cuma berani menyebut nominal gaji yang diinginkan saat wawancara. Sementara dulu gue malah menjawab, "Ikut kebijakan perusahaan saja, Bu."
Malamnya gue mulai menghitung selisih gaji kami. Rp3,3 juta setiap bulan atau Rp39,6 juta dalam setahun. Selama 4 tahun gue bangga karena nggak pernah menuntut apa-apa dari perusahaan. Tapi ternyata perusahaan juga nggak pernah merasa perlu memberikan kenaikan tanpa diminta.
Minggu berikutnya, gue akhirnya meminta waktu untuk bicara dengan atasan. Gue nggak datang untuk mengeluh atau bikin drama, tapi membawa daftar pekerjaan dan tanggung jawab yang sudah gue jalankan selama setahun terakhir.
Jawaban atasan cuma, "Nanti kita lihat saat review." Sampai sekarang gaji gue memang belum naik, tapi setidaknya untuk pertama kalinya gue berani menyampaikan nominal dan memperjuangkan hak gue.
Ternyata loyalitas itu bagus, tapi kalau terus loyal tanpa pernah berani membicarakan gaji, perusahaan bisa saja menganggap kita sebagai karyawan yang bisa dibayar murah.
Kalau kalian sendiri, bagaimana cara mengetahui apakah gaji yang diterima sudah sesuai dengan tanggung jawab dan standar perusahaan?
Her Majesty 🍒 retweeted
Replying to @EstAmistad
Agree… you gotta “rebel” a little to have their eyes opened. Walau tetep situational sih because some parents worry-nya gak reasonable dan rebelling might get you hurt instead 🥲





















