Maxwell. retweeted
( gak tahu perlu disampaikan atau tidak, tapi saya rasa perlu. beberapa orang memiliki kapabilitas energi sosial yang berbeda. ada yang perlu waktu, dan ada juga yang memang benar-benar tidak memiliki waktu. karena itu, tidak semua bentuk jarak, keterlambatan respons, atau minimnya interaksi dapat diartikan sebagai ketidakpedulian. terkadang seseorang sedang berusaha menyeimbangkan banyak hal dalam hidupnya, dan ruang yang mereka ambil bukanlah bentuk penolakan, melainkan kebutuhan untuk tetap dapat menjalani semuanya dengan baik. oleh karena itu, saya rasa kita perlu memberi ruang bagi setiap orang untuk menjalani ritmenya masing-masing tanpa terburu-buru menarik kesimpulan. spread happiness guys. )
Maxwell. retweeted
ㅤ️
𝐋𝐮𝐧𝐞.
Karena aku lagi bahagia, aku mau giveaway dadakan khusus ymma (yang murid-murid aja). Repost aja ges, tapi kapan undinya suka-suka aku yah. Repost aja selama belum diundi xixixi. 🎐
ㅤ️
Maxwell. retweeted
Replying to @nexbulae
ㅤ
“Untuk menjawab apa saya sengaja... rahasia! Intinya, kelas hari ini sudah harus diakhiri. Terima kasih banyak atas antusiasme kalian dalam mengikuti kelas saya selama ini. Semoga, kita masih bisa bertemu di lain kesempatan lagi ya.”
ㅤ
Maxwell. retweeted
ㅤ
“Terima kasih,” ucapnya singkat, bulir air mata sudah mulai menggenang di mata.
“Ah, sudah dulu. Lebih baik, kita lihat hasil evaluasi kalian selama memanjat tadi. Diam-diam, Ren sudah siapkan ringkasannya rupanya.” Padahal, ia gengsi saja.
ㅤ
Maxwell. retweeted
ㅤ
Matanya mengedar menatap satu persatu wajah muridnya. “Jadi, saya ingin bertanya sesuatu. Dalam mengikuti kelas astronomi selama ini, apakah ada peristiwa atau materi yang paling berkesan untuk kalian?”
[ OOC: Jawab melalui QRT ]
ㅤ
Maxwell. retweeted
ㅤ
“Sebenarnya, semua ini saya siapkan sebab saya tidak tahu kapan akan terakhir mengajar kalian…” Wajah sedih yang tidak biasa di raut Jeremius kini muncul.
“Yah, jaga-jaga saja. Kalau ternyata minggu depan masih, saya tinggal buat klarifikasi bertajuk, saya kembali.”
ㅤ
Maxwell. retweeted
ㅤ
Netranya beralih ke arah Ren. “Kalian sudah bertemu kouhai saya yang satu ini? Apa dia merepotkan?” ujarnya setengah bercanda.
“Dia ini junior saya di universitas dulu, kami dekat karena sama-sama… penyihir. Begitulah. Dia bekerja di JAXA loh sekarang, keren ya?”
ㅤ
Maxwell. retweeted
Replying to @nexbulae
ㅤ
Setelah bersusah payah mendaki bukit barang rongsokan setinggi harapan keluarga, akhirnya kalian melihat cahaya lain. Di sisi lain gunung terhampar pemandangan lain. Sebuah meja makan yang disusun layaknya sebuah perjamuan, dengan puluhan kursi mengelilinginya.
ㅤ
Maxwell. retweeted
ㅤ
Ketika akhirnya pintu ruang kebutuhan menampakkan diri, para murid tidak serta merta langsung masuk. Mereka berdiri secara ajak di tengah koridor, saling bercengkerama satu sama lain sebelum sang pengajar turut datang.
ㅤ
Maxwell. retweeted
ㅤ
𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑚𝑒𝑚𝑏𝑢𝑘𝑎 𝑟𝑢𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛, 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛𝑙𝑎𝘩 𝑚𝑜𝑛𝑑𝑎𝑟-𝑚𝑎𝑛𝑑𝑖𝑟 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝟹 𝑘𝑎𝑙𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑏𝑖𝑙 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑘𝑖𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑖𝑛𝑔𝑖𝑛𝑎𝑛 𝑘𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛.
Konon begitulah cara mengakses ruangan ini, yang tampak dilakukan beberapa siswa.
ㅤ
Maxwell. retweeted
ㅤ
Sebab pengumuman telah disebarkan siang tadi, pada malam ini para siswa tidak lagi memenuhi tangga menuju menara astronomi. Meski tetap menaiki sekian anak tangga, kini mereka berkumpul di koridor kiri lantai ketujuh kastil.
ㅤ
Maxwell. retweeted
“Baiklah. Terima kasih banyak untuk jawaban-jawaban yang menarik.” Dia melirik jam di pergelangan tangannya. “Waktu kita sudah habis, silakan bereskan barang kalian dan pulang. Terima kasih yang sudah hadir hari ini. Semangat! Besok Senin,” katanya menyudahi.
Maxwell. retweeted
“Kenapa jawabannya jadi bikin galau berjamaah, ya...” Sudut bibirnya perlahan meninggi. “Tidak menjadi penyihir bukan hal yang menyedihkan, kok. Bila orang sekitar tidak bisa menerima keadaanmu, carilah keluargamu sendiri dan orang-orang yang akan mendukungmu apa adanya.”


















