AnastasiaaAaaAaAAaaAaAaaaAAaaaAAaAaAAAaAaAaAaaaAA. retweeted
mungkin yang ngejokes belum liat 3 anak kecil ketabrak pas otw sekolah karena asap, bapak" dan warga banyak nangis api masuk ke permukiman, api hampir masuk daerah kampus. 11-12 lah ya sama pemerintah dan presiden 😅
Halo semuanya, selamat pagi!
Semoga kita semua dalam keadaan sehat, segar dan bugar ya pagi ini.
Aaminnn.
Terkait salah satu cuitan admin kami, kami menyadari bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang kurang berempati di tengah situasi bencana ini.
Sekali lagi, kami memohon maaf atas ketidaknyamanan dan kekecewaan yang muncul akibat kejadian ini. Kami akan menjadikan hal ini sebagai bahan evaluasi agar ke depannya dapat lebih berhati-hati, bertanggung jawab, serta bijak dalam menggunakan ruang komunikasi publik ini.
Terima kasih kepada teman teman yang telah mengingatkan kami. Kami menghargai setiap kritik dan masukan yang diberikan, dan kami akan berusaha untuk belajar dari kesalahan ini.
Salam, Barista/Admin Cups N Co.
UNTUNG BELUM TELAT
HEPI MENSIP HEPI MENSIP HEPI MENSIP 🥳💗 semoga kalian bahagia dan langgeng terus sampai rpw punah! jangan bikin acil gua nangis ya @sejagatwara
ceyamat uwang awung fcnya suamiku yg paling mantep dan gagah ugh ahh >___< semoga suamiku + ryul rl makin sukses, bahagia, serta sehat ceyayuuu 💗💗💗
AnastasiaaAaaAaAAaaAaAaaaAAaaaAAaAaAAAaAaAaAaaaAA. retweeted
hepi 1000 tahun iah anas n roman @madebyanas @romantrbl
selamat, anda berhasil melewati 1000 hari bersama princess!!! 😋💗

ALT 1000 days with you, and somehow I still get excited about all the little things we do together. Thank you for being my safe place, my favorite person, and someone I can always come back to. I may not always say it perfectly, but I hope you know how much you mean to me. Happy 1000 days, Mas Romanku. I love you more than words can say 💗
AnastasiaaAaaAaAAaaAaAaaaAAaaaAAaAaAAAaAaAaAaaaAA. retweeted
happy birthday my forever wony gua alias muse istriku yg paling paling terbaOK (terba oke) hahay pal pale pale pale i love you ❤️
&. met uwang awung untuk fc kesayangankuuu!!! sukses dan bahagia terus ya wony, gak usah dengerin omongan haters jelek <3
AnastasiaaAaaAaAAaaAaAaaaAAaaaAAaAaAAAaAaAaAaaaAA. retweeted
i 100% support my girl akiffa on this!! and tbh if u’re a woman, i think u should thank her for speaking up about something that affects all of us, not against it, because this conversation goes way beyond one set of rules or one situation.
there is a very real difference between creating boundaries to protect a space and creating rules that implicitly teach women that their bodies, clothes, poses, or self-expression are the problem because someone else MIGHT sexualize them. and what makes it even more ironic is that even in rp, women are still expected to take responsibility and somehow get blamed for how other people choose to sexualize them. like, if we can’t even escape that expectation in a fictional space, then maybe we really need to question how deeply this mindset is normalized until it becomes an unfair rule. a rule doesn’t automatically become fair simply because it has existed for a long time or has become the customary practice, even in rp. any rule is still worth questioning when its application creates an unequal burden, especially when that burden consistently falls on one particular group and in this case, women. and questioning a rule is not the same as attacking the people who made it. if a rule is truly reasonable, it should be able to withstand a conversation about its implications. because then again, from legal perspective, the existence of a rule does not automatically make its substance, application, or consequences fair. we should still ask: who’s actually carrying the burden of the rule, whose freedom is being restricted, and are we even fixing the real problem here?
i’ll always respect and support a woman who is willing to speak up when something feels unfair, especially when staying quiet would be easier. thank u for saying what needed to be said, akiffa. u and us don’t have to make ourselves smaller just to make everyone else comfortable.💗
hi, it’s me, akiffa.
sebelumnya kalau berkenan baca, terima kasih. tapi sepertinya tulisan ini akan menyita banyak waktu. 🙏🏻
aku lihat dan menyadari apa yang terjadi semalam, & di sini secara tulus dan dari lubuk hati terdalam aku ingin meminta maaf, terutama kepada para admin dan teman-teman saya di @THExBACKSTAGE. aku minta maaf karena situasi ini membuat kalian merasa tidak nyaman, dan dengan tulus aku minta maaf atas perasaan sakit hati yg aku sebabkan. aku ga pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun, apalagi teman-teman saya sendiri.
but i also feel like i need to say this. sebelum aku lanjut, aku mau meluruskan satu hal. tulisan ini bukan ditujukan untuk menyalahkan para admin. aku sudah menyampaikan permintaan maaf secara personal kepada mereka. aku menghargai mereka, sangat. aku tau bahwa menjadi admin bukan suatu hal yg mudah.
aku merasa perlu berbicara karena apa yang terjadi setelahnya. bagaimana sesuatu yang awalnya merupakan keresahan dan perbedaan pandangan kemudian berkembang menjadi asumsi tentang karakter saya atau teman saya yang sempat menyampaikan opininya.
aku mau jujur soal apa yg sebenarnya menjadi concern-ku di awal. buat aku, ini bukan sesederhana soal aku(dan teman lainnya) tidak mau mengikuti aturan atau tidak bisa diatur.
yg membuat aku keberatan adalah ketika sesuatu yg perempuan gunakan, lakukan, atau posting tanpa maksud seksual sama sekali, kemudian bisa di-sexualize oleh orang lain, tetapi pada akhirnya justru perempuan tsb yg dianggap harus bertanggung jawab atas bagaimana orang lain melihatnya.
and that’s something i genuinely struggle with.
bagiku ini sesuatu yg memang aku percaya dan aku perjuangkan: aku ga suka melihat perempuan terus-menerus ditempatkan dalam posisi harus bertanggung jawab atas sexualization yg dilakukan orang lain terhadap mereka.
aku tau ini adalah topik yg sensitif. aku tau mungkin ga semua orang akan setuju dengan cara aku melihatnya. and that’s okay.
aku juga paham argumen bahwa sekarang RP banyak dikelilingi oleh FC minor, sehingga agency non-smut memilih untuk memiliki rules terkait NSFW. aku bisa memahami concern di balik dibuatnya boundaries seperti itu. tentu saja keberadaan minor adalah sesuatu yg perlu dipertimbangkan dengan serius, dan aku ga pernah berpikir bahwa agency tidak punya hak untuk membuat rules demi menjaga ruang mereka tetap aman dan nyaman.
tapi menurutku, memahami alasan sebuah aturan dibuat tidak berarti kita harus berhenti mempertanyakan bagaimana aturan itu diterapkan atau apa konsekuensi dari cara kita memaknainya.
“ini sudah dari dulu” juga bukan berarti sesuatu otomatis menjadi tidak boleh dipertanyakan.
sebuah agency berhak mengatakan, “kami memilih untuk tidak mengizinkan konten tertentu karena kami ingin menjaga ruang ini tetap aman dan nyaman, terutama karena ada minor di dalamnya.” aku bisa memahami itu sebagai sebuah boundary.
yg menjadi keresahanku adalah ketika pembicaraannya bergeser menjadi seolah-olah perempuan harus mengatur dirinya sedemikian rupa karena ada kemungkinan orang lain akan melihat atau menginterpretasikan dirinya secara seksual.
menurutku, menjaga ruang agar tetap aman dan nyaman seharusnya tidak membuat kita berhenti membicarakan bagaimana tanggung jawab itu dibebankan. kita bisa punya boundaries tanpa harus menyalahkan perempuan atas bagaimana orang lain memilih untuk melihat mereka.
and i think thats an important conversation to have. but just bc something is uncomfortable to talk about, doesn’t mean it shouldn’t be talked about
lalu aku memang menyampaikan bahwa ada bagian dari rules yang membuat aku merasa tidak sejalan, aku menyampaikan itu sebagai pendapat dan keresahanku sendiri. dan ketika aku merasa bahwa aku memang tidak bisa berjalan dengan rules tersebut, aku memilih untuk unver dari agency. that was my choice to make.
AnastasiaaAaaAaAAaaAaAaaaAAaaaAAaAaAAAaAaAaAaaaAA. retweeted
hi, it’s me, akiffa.
sebelumnya kalau berkenan baca, terima kasih. tapi sepertinya tulisan ini akan menyita banyak waktu. 🙏🏻
aku lihat dan menyadari apa yang terjadi semalam, & di sini secara tulus dan dari lubuk hati terdalam aku ingin meminta maaf, terutama kepada para admin dan teman-teman saya di @THExBACKSTAGE. aku minta maaf karena situasi ini membuat kalian merasa tidak nyaman, dan dengan tulus aku minta maaf atas perasaan sakit hati yg aku sebabkan. aku ga pernah bermaksud untuk menyakiti siapapun, apalagi teman-teman saya sendiri.
but i also feel like i need to say this. sebelum aku lanjut, aku mau meluruskan satu hal. tulisan ini bukan ditujukan untuk menyalahkan para admin. aku sudah menyampaikan permintaan maaf secara personal kepada mereka. aku menghargai mereka, sangat. aku tau bahwa menjadi admin bukan suatu hal yg mudah.
aku merasa perlu berbicara karena apa yang terjadi setelahnya. bagaimana sesuatu yang awalnya merupakan keresahan dan perbedaan pandangan kemudian berkembang menjadi asumsi tentang karakter saya atau teman saya yang sempat menyampaikan opininya.
aku mau jujur soal apa yg sebenarnya menjadi concern-ku di awal. buat aku, ini bukan sesederhana soal aku(dan teman lainnya) tidak mau mengikuti aturan atau tidak bisa diatur.
yg membuat aku keberatan adalah ketika sesuatu yg perempuan gunakan, lakukan, atau posting tanpa maksud seksual sama sekali, kemudian bisa di-sexualize oleh orang lain, tetapi pada akhirnya justru perempuan tsb yg dianggap harus bertanggung jawab atas bagaimana orang lain melihatnya.
and that’s something i genuinely struggle with.
bagiku ini sesuatu yg memang aku percaya dan aku perjuangkan: aku ga suka melihat perempuan terus-menerus ditempatkan dalam posisi harus bertanggung jawab atas sexualization yg dilakukan orang lain terhadap mereka.
aku tau ini adalah topik yg sensitif. aku tau mungkin ga semua orang akan setuju dengan cara aku melihatnya. and that’s okay.
aku juga paham argumen bahwa sekarang RP banyak dikelilingi oleh FC minor, sehingga agency non-smut memilih untuk memiliki rules terkait NSFW. aku bisa memahami concern di balik dibuatnya boundaries seperti itu. tentu saja keberadaan minor adalah sesuatu yg perlu dipertimbangkan dengan serius, dan aku ga pernah berpikir bahwa agency tidak punya hak untuk membuat rules demi menjaga ruang mereka tetap aman dan nyaman.
tapi menurutku, memahami alasan sebuah aturan dibuat tidak berarti kita harus berhenti mempertanyakan bagaimana aturan itu diterapkan atau apa konsekuensi dari cara kita memaknainya.
“ini sudah dari dulu” juga bukan berarti sesuatu otomatis menjadi tidak boleh dipertanyakan.
sebuah agency berhak mengatakan, “kami memilih untuk tidak mengizinkan konten tertentu karena kami ingin menjaga ruang ini tetap aman dan nyaman, terutama karena ada minor di dalamnya.” aku bisa memahami itu sebagai sebuah boundary.
yg menjadi keresahanku adalah ketika pembicaraannya bergeser menjadi seolah-olah perempuan harus mengatur dirinya sedemikian rupa karena ada kemungkinan orang lain akan melihat atau menginterpretasikan dirinya secara seksual.
menurutku, menjaga ruang agar tetap aman dan nyaman seharusnya tidak membuat kita berhenti membicarakan bagaimana tanggung jawab itu dibebankan. kita bisa punya boundaries tanpa harus menyalahkan perempuan atas bagaimana orang lain memilih untuk melihat mereka.
and i think thats an important conversation to have. but just bc something is uncomfortable to talk about, doesn’t mean it shouldn’t be talked about
lalu aku memang menyampaikan bahwa ada bagian dari rules yang membuat aku merasa tidak sejalan, aku menyampaikan itu sebagai pendapat dan keresahanku sendiri. dan ketika aku merasa bahwa aku memang tidak bisa berjalan dengan rules tersebut, aku memilih untuk unver dari agency. that was my choice to make.
































