SHERRYL. retweeted
โ
โ ๐๐๐ ๐๐๐ ๐ก๐๐ฅ๐ช๐๐ก๐ ๐๐๐๐ ๐ฃ๐๐ก๐ & ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐ฌ ๐๐ข๐๐ฆ๐ ๐๐๐๐๐๐๐
Bandung, Indonesia
10.45 โข GMT+7
Hari ini menyempatkan diri buat jalan-jalan sebentar dan di tengah perjalanan malah gak sengaja nemu bunga-bunga kecil yang lucu.
โ
SHERRYL. retweeted
โ
๐๐๐๐๐ซ๐๐ฉ๐ ๐ก๐๐ฅ ๐ฒ๐๐ง๐ ๐ฌ๐๐ฒ๐๐ง๐ ๐ค๐๐ฅ๐๐ฎ ๐ ๐๐ค ๐๐ข๐๐๐ญ๐๐ญ โ๐ป
โ
SHERRYL. retweeted
โ
Kepada saudara-saudaranya yang terkasih, Dahana menitipkan segenap syukur yang barangkali tak pandai ia tuturkan lewat kata.
โ
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Lantas kepada siapa lagi ia harus mengadu?
Keluarga yang seharusnya menjadi tempat paling teduh untuk pulang, bahkan tak lagi terasa aman baginya.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap layar ponsel yang kini telah gelap. Napasnya berat, dadanya masih dipenuhi amarah dan sedikit rasa sedih.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Dahana tahu Bentala sedang mengamuk di seberang sana. Suaranya bahkan masih terdengar samar dari ponsel yang belum ia jauhkan. Namun sebelum amarah itu ikut menyeretnya sampai meledak, Dahana segera menjauhkan ponsel dari telinga lalu mematikannya.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Di dalam kepalanya, Dahana ingin melakukan lebih dari sekadar berkata-kata. Ia ingin memaki, ingin menghantam, bahkan ingin membanting lelaki di hadapannya. Namun semua itu hanya tinggal amarah yang ia pendam sendiri.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
"Bang, kalau boleh gua jujur," katanya akhirnya, ia tetap menjaga agar suaranya tetap tenang.
"Lo yang gak guna di rumah itu. Lo tau lo itu apa? Beban. Utang lo bukan urusan gua. Lo urus sendiri utang lo, lunasin. Keluarga bukan sapi perah lo."
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Dahana menggenggam ponselnya erat-erat. Begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih. Seandainya ia tak menahan diri, mungkin benda itu sudah remuk dalam genggamannya. Namun sekali lagi, ia menarik napas dalam-dalam, menelan segala amarah yang telah sampai di ujung lidah.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Terdengar decakan dari seberang sana, seolah jawaban Dahana merupakan sebuah kekecewaan besar.
"Emang lo gak ada gunanya, Dahana. Lo kerja buat apa? Ya buat keluarga. Kirim sekarang ke rekening gua,"
Perintah itu kembali dilontarkan dengan nada keras.
ใ
ค
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Dahana terdiam sejenak.
"Belum, Bang,"
Hanya itu jawabnya. Ia tak lagi punya tenaga untuk menanggapi segala omong kosong Bentala. Muak. Sungguh, ia sudah terlalu muak dan lelah mendengar hal yang sama berulang kali.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
"Itu adik lo kuliahnya belum dibayar, abang lo butuh modal, sama nyokap butuh uang tambahan buat usahanya. Bulan ini lo belum kirim uang bulanan, kan?" Bentala berkata menggebu-gebu, seolah segala persoalan dalam keluarga itu memang sudah menjadi tanggung jawab Dahana.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
"Alasan! Bilang aja lo mau lepas tangan dari keluarga lo. Mentang-mentang sekarang udah punya uang sendiri, terus lo pakai sendiri begitu? Malu, Dahana. Lo harusnya bantu keluarga lo,"
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Setelah menarik napas panjang, Dahana menjawab, "Gue baru selesai meeting, Bang. Sorry, nggak pegang HP dari tadi," ucapnya pelan.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Ia sangat ingin berteriak balik. Ingin melawan sang kakak dan menumpahkan segala yang selama ini ia pendam. Namun semuanya kembali ia telan, termasuk pahit makian yang sejak tadi dijejalkan ke telinganya.
ใ
ค
SHERRYL. retweeted
ใ
ค
Akhirnya, ia mengangkatnya.
"Halo?" ucap Dahana lirih.
"ANAK ANJING, DARI MANA LO?!"
Suara Bentala meledak dari seberang. Dahana sontak menjauhkan ponsel dari telinga. Ia terdiam sejenak, menahan napas yang sejak tadi terasa berat.
ใ
ค














