Pinned Tweet
Replying to @karsapram
ㅤ
Dan konon, ada tanah yang merahimkan keberingasan seorang anak dalam gelapnya belantara. Ia berteman 𝘥𝘶𝘴𝘵𝘢 dan 𝘥𝘶𝘬𝘢. Kini berlomba bersama karma demi menebus dendam dengan 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩.
| xitter.cf/karsapram/status/18882… |
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
Kening wartawan naik, niat hati menyentil maksud ucapan Bahri, keluarlah tanya berbungkus fatalisme—bentuk takluk yang sengaja dilayangkan untuk menggoyahkan nurani.
"Sekalipun berjuang artinya mati, Pak?"
"𝘚𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘴𝘢𝘥𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶."
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
"Tidak," jawab Bahri tegas. Sesekon melirik ke sisi pada Citra, di mana Citra balas dengan senyuman. "Biar bisa kumpul keluarga. Pelukan. Adili saja karena kami tidak pernah menentang hukum dan akan terus memperjuangkan kebebasan Sambara kami, juga Sambara-Sambara lainnya."
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
Berbeda kali ini, Bahri justru tergelak beberapa sekon. "Lho, ya berarti itu terlihat sekali busuknya. Anak saya sudah divonis, apa yang bisa memberatkan? Yang bicara tentang kedunguan itu 'kan saya dan istri, di luar."
"Berarti kalian tidak masalah kalau ikut masuk bui?"
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
Namun, agaknya itu hanya bertahan sebentar saja. Tanya lain tak lama jatuh pada Bahri. "Pak, kalau kritiknya dengan bahasa yang... yah—"
"Kasar?" sambar Bahri.
"Ya. Bukankah akan memberatkan Sambara?"
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
(...) kemudian ambil alih sebagai pembicara selanjutnya demi membanting obrolan dari 'kedunguan' agar tak lagi lari dari konteks atau digunakan sebagai kesempatan menjatuhkan kliennya—menjelaskan dari kacamata hukum, singkat dan padat.
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
Semula penjelasan Bahri meredakan tanya yang meletup-letup, namun terlihat tak gentarnya para wartawan mengulik dengan rasa penasaran. Ada yang sengaja cari celah, ada yang ingin membedah substansi pembicaraan mereka. Sang pengacara yang mendampingi Bahri dan Citra (...)
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
Dikritik sebagai apa? Sebagai bagian dari kedunguan struktural. Yang tersinggung mestinya hakim, bukan Djarot. Djarot sebagai hakim, bukan Djarot sebagai dirinya. Kami menghargai Djarot sebagai individu, tapi tidak sebagai penegak hukum yang adil."
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
(...) disampaikan istri saya. Begini, disebutnya dungu karena logika keadilan menurut kami telah dimatikan oleh kepatuhan buta terhadap prosedur. Jadi apa? Tentulah, bagi siapapun yang mengoperasikannya—entahlah hakim, jaksa, aparat, bahkan presiden ya harus siap dikritik.
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
Melihat Bahri yang menyunggingkan seringai bangga, seorang wartawan berbalik menekan Bahri. "Pak, baru saja Bu Citra mengolok hakim, lho. Bapak tidak takut?"
"Kalian ini, apa-apa takut. Pertanyaannya itu-itu terus. Saya, kami, tidak takut. Toh, 'kan betul yang (...)
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
(...) dengan alasan yang sama; perempuan yang tutur katanya selalu lebih tajam dari miliknya sendiri. Selalu lebih cerdas dari dirinya sendiri. Selalu selangkah lebih berani dari tekadnya sendiri.
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
Eksplanasi panjang Citra tak serta-merta membuat wartawan bungkam, justru semakin ruah akan tanya. Bahri hanya tersenyum saja, menelinga baik apa yang disampaikan sang istri. Ia teringat sosok itu, sosok yang membuat ia jatuh cinta pada perempuan yang sama, (...)
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
(...) individu ya, teman-teman media. Itu kedunguan institusional. Dan 'dungu' yang saya maksudkan adalah keputusan yang cacat secara nalar, bukan menyerang kehormatan pribadi, lho. Bukan Pak Djarotnya sebagai individu, tapi Pak Djarot sebagai hakim. Hakim yang dungu."
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
"Itu kritik. Anak saya, anak kami bukan seorang kriminal. Tapi mereka menjaga ilusi tentang sistem yang kesannya tidak pernah salah, kesannya selalu benar. Itu menekan akal sehat mereka yang mana adalah falasi. Itu bukan kesalahan (...)
ㅤ
Risang Djohar. retweeted
ㅤ
Apa mereka peduli? Tak sekuku pun, tentu.
"Bu, Bu! Bu Citra! Apa Anda baru saja mengakui kalau Anda menghina hakim?" Tanya yang lantang ini menembus telinga Citra. Sebagai ibu yang hatinya luka, Citra lagi-lagi mengiyakan tanpa menafikan fakta.
ㅤ






