Pinned Tweet
แ
๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐
๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐
๐๐
In the garden of love, he flies from flower to flower,
Carrying a fragrance that soothes the body and soul.
Like a butterfly that never gets tired,
The man dances in beauty that never fades.
แ
แ
"Morning morning! Rise and shine beautiful~ you need to get up and mingling with neighbour nearby!" suara Bertrand membangunkanku yang masih terlelap.
"Shut up." responku singkat sembari memalingkan muka.
Bertrand mengambil ponselnya, lalu mulai memainkan lagu ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ itu.
Aku membuka mata, lalu berpaling ke arahnya malas, "Harus banget lagunya ini?"
"Why? Did my snowball find his older brother's choice distasteful?" goda Bertrand.
Aku kembali memalingkan muka dan bersiap kembali tidur, "Cari pacar sana jangan nempelin gua mulu."
"Susah nyari yang mau sama duda anak dua, mending gua gangguin elu pas luang." selorohnya.
"Tau ah." responku kesal.
Bertrand terkekeh, lalu mulai menyenandungkan penggalan lirik lagu tadi, "๐ ๐ธ๐ช๐ด๐ฉ ๐ ๐ค๐ฐ๐ถ๐ญ๐ฅ ๐จ๐ฐ ๐ฃ๐ข๐ค๐ฌ ๐ต๐ฐ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ท๐ฆ๐ณ๐บ ๐ง๐ช๐ณ๐ด๐ต ๐ฅ๐ข๐บ ๐ ๐ด๐ข๐ธ ๐บ๐ฐ๐ถ, ๐ด๐ฉ๐ฐ๐ถ๐ญ๐ฅ'๐ท๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฅ๐ฆ ๐ฎ๐บ ๐ฎ๐ฐ๐ท๐ฆ ๐ธ๐ฉ๐ฆ๐ฏ ๐บ๐ฐ๐ถ ๐ญ๐ฐ๐ฐ๐ฌ๐ฆ๐ฅ ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐บ ๐ฆ๐บ๐ฆ๐ด."
Melihat respon tergangguku, ia makin mengeraskan lantunannya, "'๐๐ข๐ถ๐ด๐ฆ ๐ฃ๐บ ๐ฏ๐ฐ๐ธ ๐ ๐ฌ๐ฏ๐ฐ๐ธ ๐ต๐ฉ๐ข๐ต ๐บ๐ฐ๐ถ'๐ฅ ๐ง๐ฆ๐ฆ๐ญ ๐ต๐ฉ๐ฆ ๐ธ๐ข๐บ ๐ต๐ฉ๐ข๐ต ๐ ๐ฅ๐ฐ, ๐ข๐ฏ๐ฅ ๐'๐ฅ ๐ธ๐ฉ๐ช๐ด๐ฑ๐ฆ๐ณ ๐ต๐ฉ๐ฆ๐ด๐ฆ ๐ธ๐ฐ๐ณ๐ฅ๐ด ๐ข๐ด ๐บ๐ฐ๐ถ'๐ฅ ๐ญ๐ช๐ฆ ๐ฉ๐ฆ๐ณ๐ฆ ๐ฃ๐บ ๐ฎ๐บ ๐ด๐ช๐ฅ๐ฆ."
"Lagu lu buat bini lu ya?" sahutku asal, sengaja memotong agar tidak semakin dipojokkan.
"Mantan, sekarang bini orang..." Bertrand tiba-tiba merenung, sebelum berceletuk kesal, "Kurang ajar malah jadi gua yang diejek!"
Kekesalannya makin menjadi kala aku lanjut tidur memunggunginya, "Oi Karsten, bangun sebelum gua deportasi."
"Apalagi?" keluhku.
Ia menarikku hingga bergerak duduk, "Get up and get ready for a walk."
"A walk? Kemarin udah cukup ah, males gua dimintain nomor sama tante-tante." tolakku.
"Lu sih lagian punya muka kayak ๐ฌ๐ถ๐ค๐ช๐ฏ๐จ." responnya abai.
"Emang gua kucel ya?" bingungku.
"Bukan itu maksud guaโtapi yaudahlah lu mana ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ต๐ช. Sana mandi, kita grocery shopping." pungkasnya.
"10 minutes." tawarku untuk waktu tambahan tidur.
"Awas ya ๐ฃ๐ข๐ฃ๐ญ๐ข๐ด jadi 30 minutes." peringatnya.
"Gak janji." ucapku tak peduli.
"Arghh, sometimes i really want to smash that small-stubborn head of yours." keluhnya.
Aku menimang sejenak sebelum menanggapi, "Please do..."
Hening.
Bertrand terdiam; nampak agak terkejut, sebelum buru-buru mengubah arah pembicaraan, "Enough! Go get ready!"
Aku ingat dulu sering merengek seperti anak kecil ketika diminta Bertrand atau Dewa mengikuti mereka melakukan hal tidak jelas di waktu luang. Atau membenamkan diri ke dalam selimut dengan tak acuh. Tapi mereka sudah tidak muda lagi, pun begitu aku. Aku harus agak mengerti.
"Alright." patuhku akhirnya.
แ
แ
Perbincangan malam itu terus berlanjut, hingga akhirnya Fany dan Dewa pulang terlebih dahulu disusul Panca, Lecia, dan Maria. Aku mengambil coat-ku yang sedari tadi hanya tersampir di bangku, bersiap pulang. Namun tak sengaja netraku mendapati ponsel Dewa yang tertinggal di pojok meja.
"Ponselnya Dewa ketinggalan nih." tunjukku pada yang lain.
Bertrand jengkel, "Astaga itu orangtua. Bentar gua telpon Fany suruh balik."
"Gapapa gua antar aja nanti. Satu arah kebetulan." tawarku. Bertrand mengiyakan, sementara tanganku meraih ponsel Dewa yang tertinggal.
๐๐ณ๐ช๐ฏ๐จ. Sebuah Panggilan masuk; dari nomor Fany.
Aku mengangkatnya, "Iya Fan Ponsel suami kamu ketinggalan. Nanti aku antar sekalian pulang ya."
Fany mengangguk di sambungan setelah menggerutui tingkah ceroboh Dewa sejenak. Aku menutup panggilan, hendak kembali ke flat. Tetapi tak sengaja pandanganku menangkap nama Damar di daftar pesan masuk ponsel Dewa. Tak terduga. Walau agak ragu, akhirnya aku memberanikan diri membaca pesan itu.
๐๐ข๐ด ๐๐ฆ๐ธ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ,
๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ธ๐ข๐ต๐ช๐ณ ๐๐ข๐ด ๐๐ฆ๐ธ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ-๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ช๐ฌ ๐๐ข๐บ๐ข.
๐๐ถ๐ซ๐ช ๐ต๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ฆ๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข. ๐๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ฅ๐ถ๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ช๐ญ๐ข๐ต-๐ฌ๐ช๐ญ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ข๐ฑ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐๐ฐ๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ.
๐๐ณ๐ฆ๐ญ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ต๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ข๐ง. ๐๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฑ๐ฐ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ. ๐๐ข๐ฌ๐ข ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐๐ณ๐ฆ๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ-๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐๐ณ๐ฆ๐ญ ๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ข๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ด๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ.
๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐๐ฐ๐ฏ๐ฅ๐ฐ๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ช ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ธ๐ข๐ซ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข.
๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ฅ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ข๐ด ๐๐ฆ๐ธ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข & ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ-๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐๐ณ๐ฆ๐ญ ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ,
๐๐ข๐ฎ๐ข๐ณ.
Aku tak biaa menyembunyikan rasa sedihku; antara terharu dan merasa bersalah. Jemariku mencoba melihat pesan-pesan diatasnya, yang kurang lebih sama. Semua khawatir padaku.
Bertrand menatap perubahan raut wajahku, "Lu kenapa Rel?"
Aku terdiam sejenak, lalu mencoba mengumpulkan keberanian untui bicara. "Maaf... kalau udah bikin khawatir."
Bertrand meninju lenganku, lalu menepuknya pelan, "Ah, Kayak sama siapa aja!"
แ
แ
Di jalan pulang, aku mendapati Fany dan Dewa yang setengah berlari menuju cafe tempat kami berkumpul tadi.
Aku mengangkat sebelah tangan, "Disini!"
Dewa mengatur nafasnya, lelah. Sementara aku berceletuk heran, "Kan udah gua bilang gapapa nanti gua antarin."
"Gapapa sekalian olahraga malam bolak-balik." cengir Dewa asal.
Aku menggeleng heran sekilas sebelum memberikan ponselnyq, "Nih."
Fany tersenyum, "Makasih ya!"
"Sama-sama." jawabku tulus sebelum berbalik pergi.
แ
"Wajah yang membawa kekhawatiran" begitu orang-orang yang kurang menyukaiku berkata. Tapi "wajah yang membawa kekhawatiran" ini merasa dirinya selalu tersenyum dan bertahan menatap dunia dengan harapan. Sebagaimana banyak cinta kasih yang merengkuhnya membuat ia terus bertahan, ia memandang dunia dengan mata; yang sekali lagi, penuh binar.























