Initialdody retweeted
Ingat Indonesia, mereka juga layak dirayakan dan mendapat apresiasi dari kita:
Tim Putra Bulutangkis
Leo Carnando / Daniel Marthin
Nurisa Dian Ashrifah
Rahmat Erwin Abdullah
Desak Made Rita Kusuma Dewi
Peraih medali emas Asian Games 2026
1 Oktober 1982 💿
▫️Hari ini 44 tahun lalu, Sony menjual CD player pertama di dunia (CDP-101) di Jepang, bersamaan dengan rilis album CD komersial pertama.
▫️Konon, durasi CD dibuat 74 menit supaya satu kali putar cukup untuk Simfoni No. 9 Beethoven.
▫️Dulu CD dianggap masa depan musik. Sekarang, sudah tergantikan dengan media lain.
Inget CD, inget kompilasi ratusan lagu-lagu MP3 😁
Initialdody retweeted
FINAL FANTASY VIII
- Massive Open World
- Variety of Transport
- Cool Aesthetics
- Insane Summons
- Triple Triad
- Junction System
- Limit Breaks
- NPCs gets stronger as you get stronger
It's got insane lore material despite an inconsistent plot. Which deserves fixing IMHO.
Initialdody retweeted
Pembebasan para korban Jugun Ianfu di Kupang, NTT tanggal 2 Oktober 1945, mereka yang mayoritas berasal dari pulau Jawa langsung dipulangkan.
Sejak awal Jepang menjajah, banyak perempuan diculik & dipaksa bekerja di rumah bordil milik militer Jepang.
Initialdody retweeted
Replying to @iranscreenshot
😆😆😆 Kinda miss when they made a fool of themselves at the World cup
15 Agustus 1945 jepang menyerah, berita menyerahnya penjajah jepang disambut suka cita oleh para pejuang kita, akhirnya kita terlepas dari penjajah yang sangat keji ini, 4 juta lebih rakyat indonesia meninggal korban kekejaman jepang, jgn biarkan penjajah jepang mengulangi lagi.
Initialdody retweeted
Achmad Mochtar dan Tragedi Vaksin Klender: Ketika Seorang Ilmuwan Dijadikan Kambing Hitam
Di tengah sejarah pendudukan Jepang di Indonesia, ada sebuah kisah yang tidak banyak diketahui: kisah Prof. Dr. Achmad Mochtar, seorang dokter dan ilmuwan Indonesia yang meninggal di tangan militer Jepang pada 1945 setelah dituduh melakukan sabotase vaksin
Namun, penelitian sejarah yang dilakukan bertahun-tahun kemudian menunjukkan bahwa cerita tersebut jauh lebih rumit. Achmad Mochtar kemungkinan bukan pelaku, melainkan korban dari sebuah tragedi medis dan politik yang hingga kini masih menjadi salah satu kasus paling kontroversial pada masa pendudukan Jepang
Siapa Achmad Mochtar?
Achmad Mochtar (1891–1945) merupakan salah satu ilmuwan kedokteran Indonesia terkemuka pada zamannya. Ia menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA dan kemudian melanjutkan pendidikan di Universitas Amsterdam
Setelah kembali ke Hindia Belanda, ia aktif melakukan penelitian mengenai berbagai penyakit tropis. Ia kemudian menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin Eijkman Institute di Batavia, lembaga penelitian medis yang sangat penting pada masa itu
Karier ilmiahnya kemudian berakhir tragis ketika Indonesia berada di bawah pendudukan militer Jepang
Tragedi di Kamp Romusha Klender
Pada awal Agustus 1944, sekitar 900 romusha di sebuah kamp transit di Klender, Jakarta, jatuh sakit secara tiba-tiba setelah menerima vaksin TCD—vaksin untuk tifus, kolera dan disentri
Dalam waktu singkat, banyak dari mereka meninggal dengan gejala yang kemudian diidentifikasi sebagai tetanus akut. Sampel jaringan korban dikirim ke Eijkman Institute untuk diperiksa oleh tim yang dipimpin Achmad Mochtar.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya toksin tetanus
Di sini penting untuk meluruskan satu hal: yang ditemukan bukan “virus” melainkan toksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani. Toksin inilah yang menyebabkan tetanus
Vaksin yang diberikan kepada para romusha disebut diproduksi oleh fasilitas medis militer Jepang di Bandung. Muncul pertanyaan besar “bagaimana mungkin vaksin yang seharusnya melindungi manusia justru berkaitan dengan kematian massal?”
Initialdody retweeted
わたしたち日本人は8月に戦争の悲惨さを振り返るけど、それは自分達の被害に偏ってて、自分達の植民地主義、アジアの人々に何をしたかを知り、アジアの人々がどう苦しんだかという声を聞く機会が無さすぎたよね。「戦争反対」の中身に欠けた視点があったよ。今からでももっと学ばないといけないね。
Initialdody retweeted
Hari ini, 14 Agustus, diperingati sebagai Hari Peringatan Korban “Comfort Women” Militer Jepang.
Tanggal 14 Agustus ditetapkan sebagai hari peringatan untuk mengenang Nenek Kim Hak-sun, korban “comfort women” militer Jepang yang pada 14 Agustus 1991 menceritakan kesaksiannya.
Kesaksian Nenek Kim Hak-sun menjadi titik penting yang membuat suara para korban yang selama bertahun-tahun dibungkam akhirnya didengar oleh dunia. Sebuah keberanian untuk berbicara, meski luka dan kenangan yang dibawanya tentu tidak mudah untuk diceritakan.
Nenek Kim Hak-sun berharap Jepang mengakui kesalahannya dan menyampaikan permintaan maaf. Namun, beliau meninggal dunia pada 16 Desember 1997 tanpa pernah menerima permintaan maaf tersebut.
Apalagi melihat huru-hara yang terjadi sekarang yang ternyata banyak warga Jepang yang jangankan untuk meminta maaf, mereka justru bilang bahwa mereka penyelamat 🥲
Hari ini, mari kita mengingat Nenek Kim Hak-sun dan seluruh korban “comfort women”.
오늘은 8월 14일 일본군'위안부' 피해자 기림의 날입니다.
8월 14일이 기림의 날로 지정된 이유는 일본군'위안부' 피해자인 김학순 할머니가 1991년 8월 14일 기자회견을 통해 피해 사실을 처음으로 공개 증언하셨기 때문입니다.
김학순 할머니의 용기 있는 증언으로 일본군'위안부' 피해자들의 목소리가 세상에 알려지는 중요한 계기가 되었습니다.
일본의 사과를 바랐던 김학순 할머니는 끝내 사과를 받지 못한 채 1997년 12월 16일 세상을 떠나셨습니다.
8월 14일 일본군'위안부' 피해자 기림의 날을, 김학순 할머니를 기억해 주세요.
Initialdody retweeted
Bahas sejarah lagi sedikit. 🥲
TW: KEKERASAN
Jumlah perempuan yang dirudapaksa sebagai jugun ianfu (comfort women) di masa Pendudukan Jepang adalah sekitar 200.000 orang. Tidak hanya di Korea, di Indonesia pun ada. Banyak di antara mereka masih berusia di bawah umur.
Ianfu termuda di Indonesia adalah Sri Sukanti, asal Purwodadi, yang diculik di depan keluarganya. Setelahnya, Sri dirudapaksa pada usia 9 tahun di sebuah lokasi di Grobogan. Perbudakan dan penyiksaan yang dialaminya menjadikannya putus sekolah, trauma, dan tidak bisa memiliki anak kandung.
Selain dari Indonesia dan Korea, ianfu berasal dari Myanmar, Cina, Belanda, India, Jepang sendiri, Filipina, Vietnam, Taiwan, dan Kepulauan Pasifik. Mereka ditipu, ditekan, atau diculik untuk menjadi ianfu.
Hari ini, 14 Agustus, diperingati sebagai Hari Peringatan Korban “Comfort Women” Militer Jepang.
Tanggal 14 Agustus ditetapkan sebagai hari peringatan untuk mengenang Nenek Kim Hak-sun, korban “comfort women” militer Jepang yang pada 14 Agustus 1991 menceritakan kesaksiannya.
Kesaksian Nenek Kim Hak-sun menjadi titik penting yang membuat suara para korban yang selama bertahun-tahun dibungkam akhirnya didengar oleh dunia. Sebuah keberanian untuk berbicara, meski luka dan kenangan yang dibawanya tentu tidak mudah untuk diceritakan.
Nenek Kim Hak-sun berharap Jepang mengakui kesalahannya dan menyampaikan permintaan maaf. Namun, beliau meninggal dunia pada 16 Desember 1997 tanpa pernah menerima permintaan maaf tersebut.
Apalagi melihat huru-hara yang terjadi sekarang yang ternyata banyak warga Jepang yang jangankan untuk meminta maaf, mereka justru bilang bahwa mereka penyelamat 🥲
Hari ini, mari kita mengingat Nenek Kim Hak-sun dan seluruh korban “comfort women”.
Initialdody retweeted
The most disgusting part of this story is not that the Japanese emperor reflected on wartime history.
It is who Japan chooses to reflect toward.
During WWII, Imperial Japan invaded and occupied what is now Indonesia.
But Indonesia was a Dutch colony at the time.
So once again, Japan’s remorse is directed upward — toward the former white colonial ruler — not downward toward the Asian people who actually suffered under Japanese occupation.
This is the same pattern.
Japan can bow deeply before Western victims.
Japan can speak gently in Europe.
Japan can kneel at memorials for Australians killed in war.
But when it comes to Asia — China, Korea, Southeast Asia, comfort women, Nanjing, Unit 731, forced labor, massacres, colonial brutality — suddenly the language becomes vague.
“Difficult history.”
“Tragic experiences.”
“Different interpretations.”
“Future peace.”
And politicians like Sanae Takaichi still visit Yasukuni Shrine, still deny or minimize Imperial Japan’s crimes, still posture as if Japan was the misunderstood victim of history.
Japan did not repent equally.
It merely ranked the victims.
Japan internalized the colonial gaze so completely that it sees itself as the “white” country of Asia.
So it lowers its head to the West.
But toward Asian victims, it still acts superior, evasive, and offended when memory refuses to disappear.
That is why Japanese remorse often feels so hollow.
It is not offered equally to the dead.
It is performed selectively for those Japan still recognizes as above itself.
Asia remembers because Asia was the crime scene.
And no amount of polite European banquet language can erase that.
Initialdody retweeted
When Hollywood depicts Eastern peoples as monsters, it's called fiction. When Europeans are portrayed differently, it's suddenly "historical accuracy."












































