Soalnya atp kalo diomongin capek, kita semua capek. 2 tahun lho. Demo kemarin pun habis digilas gitu aja, temen-temen bahkan masih ada yang di balik jeruji. Wallahi satu-satunya jalan organize dan turun ke jalan udah. Tanya kanan kiri lo noh ada informasi gerakan rakyat kagak.
Replying to @boiebe
Debat di medsoc boleh, dan betul kok kita juga harus bisa menerima kritik mnjdi comfort dalam uncomfortable. So ya organize, berjejaring, turun ke jalan. Capek itu memang udh paketnya, tapi revolusi diraih gak dalam sehari. Kemarahannya terus dirawat, disalurkan, berulang2.
daya ledak retweeted
Setuju. Romo Mangun ktk merestorasi kawasan kumuh Kali Code, ia ga menjadikan ilmu Teknik Sipil sbg satu2ny pemecah masalah. Tp ia jg ikut berdialog & ngambil ilmu dari masyarakat di sana, aspek Soshumnya dipake. Btw dia lulusan ITB, ya, kampus yg katanya lulusannya tone deaf itu
daya ledak retweeted
Romo Mangun pernah bilang arsitektur mustinya masuk humaniora. Di buku Wastu Citra dijelasin mengapa demikian.
U/ proses yg di Kali Code bisa baca buku Menuju Kampung Pemerdekaan yg disusun Darwis Khudori, muridnya. Di situ nampak pentingnya soshum dlm penataan kawasan.
Bakar halte dikecam. Tapi waktu polisi malem2 nyerang secara dadakan ngelemparin tear gas ke dalam unpas/unisba pas massa aksi istirahat setahun yang lalu beritanya anyep aje.
Belom lagi ambulan warga dibajak oleh aparat. Dan yang dipikirin "Demo jangan rusuh" berak sekebon.
Aku setuju untuk bersatu. Tapi aku kurang setuju dengan beberapa isi qrt dan replynya, karena dapat menjurus ke classist movement. Mencapai organize ke grassroot itu gak setahun dua tahun, cara bicaranya pun bukan adu intelek, tapi harus memahami situasi sosialnya dulu.
Serious talk.
Kalo kita pengen menang kita musti bersatu. Gue tau kita frustrasi, marah, dan kesal. Tapi semua energi dan emosi ini harusnya mengarah ke atas bukan ke samping. Us going at each other's throat is EXACTLY what they want.
Orang gak bakal mau dengerin atau ngubah pikiran kalo cara yang kita pakai adalah merendahkan dan menyalahkan. Sedangkan kita baru bisa menang kalo merangkul orang sebanyak mungkin.
Terus musti gimana?
Turun ke akar rumput, angkat diskusi, edukasi pelan-pelan. Semua orang udah ngerasain dampaknya secara langsung, tinggal dikasih paham aja ini tuh inti masalahnya dan penyebabnya apa. Lagi beli sayur di warung ajak ngobrol. Lagi main badminton ama bapak-bapak ajak ngobrol. Lagi di acara tahilan tetangga ajak ngobrol. Ada kesempatan apapun ketemu warga, ajak ngobrol.
Krisis ekonomi dan bencana di seluruh penjuru negeri. Semua orang sengsara.
Kesampingkan dulu perbedaan. Kalo mau berantem ntar aja, sekarang kita bersatu dulu.
life time gooner gosa banyak cocot ngentot, apanya yang diputer 360, barat timur barat timur lu baca dulu sana orientalisme edward said, goblog!
daya ledak retweeted
Btw ngomongin temen2 yang ditangkap, setapol buka donasi untuk para tapol guysss
Parmedjal juga buka donasi untuk keperluan logistik aksii
daya ledak retweeted
But in all seriousness, the reaction from Japanese One Piece fans to people using the Straw Hat Jolly Roger in protests has been genuinely pissing me off. So many of them are more concerned about people bringing One Piece into real-life politics, calling it dangerous rhetoric and worrying that the series could get banned in certain countries, than they are about WHY people are even using it in the first place.
And I think this perfectly highlights the disconnect between Japanese fans and international fans. For some of them, One Piece is a manga they love and want to protect from controversy. For a lot of us, its themes of oppression, corruption, government tyranny and the fight for freedom hit a little closer to home. Some of us have lived through these things. Some of us have watched our families and loved ones suffer and die because of corrupt governments and injustice.
They can afford to treat these themes as fiction because they don’t necessarily have to relate them to their own reality. But when people who have experienced these things firsthand see the Straw Hat flag as a symbol of resistance and freedom, why is they’re first reaction to police how other fans use it rather than understand why it resonates with them in the first place?
And that’s what bothers me. Instead of trying to understand why people from completely different backgrounds see themselves in this story, they’re dismissing it as dangerous political rhetoric that might get one piece banned in these countries
daya ledak retweeted
students supported mao
students supported castro
daya ledak retweeted
A verdade é que transexuais, travestis e a comunidade LGBTQIA+ tem mais coragem do que a média. A sua própria existência e identidade exige uma coragem maior do que se exige da média da população.
daya ledak retweeted
Des humains pleurent pcq des boutiques Hermès, Chanel, Fnac… ont été pillées.
Le capitalisme vous a bousillé le cerveau.
ON VIT DANS UN PAYS OÙ DES GENS TRAVAILLENT ET N’ARRIVENT MÊME PLUS À VIVRE DÉCEMMENT. #ouvrezvosptndeyeux









































