theresa (@chucklae) header
theresa (@chucklae) profile picture

Be the one you love | games is my life

East Region, Singapore
Joined March 2017
Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)Photo by theresa (@chucklae)
theresa retweeted
Dude you should be rlly kidding me rn, but the coverage pretty good tho
162
105
167
536
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
134
107
153
1,745
theresa retweeted
The happy potato
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
8
9
2,638
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
8
1
9
288
theresa retweeted
Kebanyakan rasa kecewa bukan datang dari perbuatan orang lain, tapi dari harapan yang kita taruh di pundak mereka. Kita berharap dia ngerti tanpa diminta, berharap dia balas sebaik kita, berharap dia ada saat kita butuh. Begitu kenyataannya beda, hati langsung jatuh. Dan yang bikin sakit, mereka sering nggak sadar kalau mereka sedang mengecewakan. Bagi mereka, itu cuma hal biasa. Lupa, sibuk, atau memang nggak sepeduli yang kita kira. Sementara kita sudah telanjur membayangkan versi mereka yang jauh lebih baik dari aslinya. Soalnya, semua orang itu manusia. Bisa lelah, bisa berubah, bisa salah, bisa lupa. Bahkan orang yang paling kita percaya pun nggak kebal dari itu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah manusia: nggak ada yang sempurna dan nggak ada yang bisa selalu memenuhi harapan kita. Makanya, belajar menurunkan ekspektasi itu bukan berarti jadi sinis atau berhenti percaya sama orang. Kita tetap bisa tulus, tetap bisa baik, tetap bisa sayang. Bedanya, kita melakukannya tanpa menuntut balasan. Kalau dibalas, anggap bonus. Kalau nggak, hati sudah siap dan nggak terlalu hancur. Yang bisa kita andalkan sepenuhnya cuma diri sendiri. Jadi gantungkan harapan terbesarmu di sana, dan sisanya, nikmati saja apa yang datang dari orang lain dengan hati yang ringan.
8
11
305
Waktu kecil, kita sering dengar kalimat, "uang itu bukan segalanya." Dulu kedengarannya bijak banget. Tapi makin dewasa, kita mulai ngerti bahwa orang yang bilang begitu biasanya sudah cukup, atau lagi berusaha menenangkan diri. Karena kenyataannya, hampir semua hal di hidup ini nyambung ke uang. Mau sehat, butuh biaya berobat. Mau makan enak, butuh uang. Mau bantu orang tua, mau sekolah, mau punya tempat tinggal yang layak, semuanya butuh uang. Bahkan ketenangan pun sering kali lebih gampang didapat kalau dompet nggak lagi menjerit di akhir bulan. Coba ingat lagi momen ketika tanggal tua datang. Mau beli sesuatu mikir tiga kali, ada kabar mendadak langsung panik, ada tawaran bagus tapi terpaksa ditolak karena nggak ada dana. Di situ kita ngerasain sendiri, ternyata masalah sebesar itu bisa kelihatan kecil kalau uangnya ada, dan masalah kecil bisa terasa besar kalau uangnya nggak ada. Tapi satu hal yang perlu diingat, uang memang penting, bukan berarti harus jadi satu-satunya tujuan hidup. Uang itu alat. Ia bisa memberi rasa aman, kebebasan memilih, dan kesempatan untuk membahagiakan orang-orang tersayang. Tapi kalau kita lupa menjaga kesehatan, hubungan, dan hati demi mengejarnya, kita justru kehilangan hal yang mau kita beli dengan uang itu. Jadi nggak apa-apa kalau sekarang kamu serius mencari uang dan menata keuangan. Itu bukan tanda serakah, tapi tanda kamu mulai paham kenyataan. Cukup jaga keseimbangannya, supaya nanti saat uangnya ada, kamu juga masih punya waktu, tenaga, dan orang-orang untuk berbagi kebahagiaannya.
421
350
1
459
288,012
theresa retweeted
So fun games
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
6
7
368
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
5
9
42,134
theresa retweeted
Time will heals everything right
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
377
330
11
1,038
1,265,197
theresa retweeted
Nggak semua usaha itu dipermudah. Ada yang jalannya mulus, ada juga yang penuh tanjakan, kerikil, dan tikungan tajam yang nggak pernah kita duga. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya belum juga kelihatan. Di saat seperti itu, wajar kalau hati mulai bertanya: kenapa punyaku terasa lebih sulit dari orang lain? Tapi kesulitan bukan berarti usahamu sia-sia. Justru di jalan yang berat itulah kita belajar banyak hal: sabar, tahan banting, dan tetap melangkah meski belum ada yang tepuk tangan. Nggak ada yang melihat jam-jam kamu begadang, kegagalan yang kamu telan sendiri, atau semangat yang kamu kumpulkan lagi setelah hampir padam. Tapi semua itu tercatat dan nggak ada yang terbuang. Proses yang panjang sering bikin kita merasa jalan di tempat. Padahal, seperti benih yang ditanam, akar bekerja dulu di dalam tanah yang gelap sebelum ada tunas yang muncul ke permukaan. Diam bukan berarti mati. Bisa jadi, justru saat ini kamu sedang tumbuh ke arah yang belum kelihatan. Karena itu, jangan ukur usahamu dengan kecepatan orang lain. Setiap orang punya waktu panennya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang butuh bertahun-tahun, tapi yang bersungguh-sungguh nggak akan pernah pulang dengan tangan kosong. Hasilnya mungkin datang dalam bentuk yang beda dari bayanganmu, tapi ia pasti datang. Jadi kalau hari ini terasa berat, teruskan saja pelan-pelan. Rawat usahamu seperti merawat tanaman: sabar, telaten, dan percaya. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum, sebab semua lelah itu akhirnya berbuah manis.
8
9
456
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
9
10
1,582
theresa retweeted
Potato rush pro playing
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
8
9
15,071
theresa retweeted
Nggak semua usaha itu dipermudah. Ada yang jalannya mulus, ada juga yang penuh tanjakan, kerikil, dan tikungan tajam yang nggak pernah kita duga. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya belum juga kelihatan. Di saat seperti itu, wajar kalau hati mulai bertanya: kenapa punyaku terasa lebih sulit dari orang lain? Tapi kesulitan bukan berarti usahamu sia-sia. Justru di jalan yang berat itulah kita belajar banyak hal: sabar, tahan banting, dan tetap melangkah meski belum ada yang tepuk tangan. Nggak ada yang melihat jam-jam kamu begadang, kegagalan yang kamu telan sendiri, atau semangat yang kamu kumpulkan lagi setelah hampir padam. Tapi semua itu tercatat dan nggak ada yang terbuang. Proses yang panjang sering bikin kita merasa jalan di tempat. Padahal, seperti benih yang ditanam, akar bekerja dulu di dalam tanah yang gelap sebelum ada tunas yang muncul ke permukaan. Diam bukan berarti mati. Bisa jadi, justru saat ini kamu sedang tumbuh ke arah yang belum kelihatan. Karena itu, jangan ukur usahamu dengan kecepatan orang lain. Setiap orang punya waktu panennya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang butuh bertahun-tahun, tapi yang bersungguh-sungguh nggak akan pernah pulang dengan tangan kosong. Hasilnya mungkin datang dalam bentuk yang beda dari bayanganmu, tapi ia pasti datang. Jadi kalau hari ini terasa berat, teruskan saja pelan-pelan. Rawat usahamu seperti merawat tanaman: sabar, telaten, dan percaya. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum, sebab semua lelah itu akhirnya berbuah manis.
1
8
9
190
theresa retweeted
Nggak semua usaha itu dipermudah. Ada yang jalannya mulus, ada juga yang penuh tanjakan, kerikil, dan tikungan tajam yang nggak pernah kita duga. Kadang kita sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya belum juga kelihatan. Di saat seperti itu, wajar kalau hati mulai bertanya: kenapa punyaku terasa lebih sulit dari orang lain? Tapi kesulitan bukan berarti usahamu sia-sia. Justru di jalan yang berat itulah kita belajar banyak hal: sabar, tahan banting, dan tetap melangkah meski belum ada yang tepuk tangan. Nggak ada yang melihat jam-jam kamu begadang, kegagalan yang kamu telan sendiri, atau semangat yang kamu kumpulkan lagi setelah hampir padam. Tapi semua itu tercatat dan nggak ada yang terbuang. Proses yang panjang sering bikin kita merasa jalan di tempat. Padahal, seperti benih yang ditanam, akar bekerja dulu di dalam tanah yang gelap sebelum ada tunas yang muncul ke permukaan. Diam bukan berarti mati. Bisa jadi, justru saat ini kamu sedang tumbuh ke arah yang belum kelihatan. Karena itu, jangan ukur usahamu dengan kecepatan orang lain. Setiap orang punya waktu panennya masing-masing. Ada yang cepat, ada yang butuh bertahun-tahun, tapi yang bersungguh-sungguh nggak akan pernah pulang dengan tangan kosong. Hasilnya mungkin datang dalam bentuk yang beda dari bayanganmu, tapi ia pasti datang. Jadi kalau hari ini terasa berat, teruskan saja pelan-pelan. Rawat usahamu seperti merawat tanaman: sabar, telaten, dan percaya. Suatu hari nanti, kamu akan menoleh ke belakang dan tersenyum, sebab semua lelah itu akhirnya berbuah manis.
7
9
414
theresa retweeted
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
8
9
273
theresa retweeted
Potato rush smart gameplay
Ada saat-saat di mana langkah terasa terlalu berat, dan satu-satunya pikiran yang muncul adalah: sudahlah, berhenti saja. Capek, ragu, dan hasil yang belum kelihatan sering bikin kita bertanya-tanya, "Ini semua masih layak diperjuangkan nggak sih?" Perasaan itu wajar. Kamu nggak sendirian, dan itu bukan tanda kamu lemah. Tapi coba tarik napas sebentar, lalu mundur ke titik awal. Ingat lagi hari ketika kamu pertama kali memutuskan untuk mulai. Waktu itu, pasti ada alasan yang cukup kuat sampai kamu berani melangkah: mimpi yang ingin dikejar, orang yang ingin dibanggakan, atau diri sendiri yang ingin dibuktikan bisa. Alasan itu belum hilang, hanya tertutup lelah. Perjalanan yang panjang memang sering bikin kita lupa tujuan. Kita terlalu fokus pada seberapa jauh jalan yang tersisa, sampai lupa menengok seberapa jauh yang sudah ditempuh. Padahal, setiap hari yang berhasil kamu lewati, sekecil apa pun kemajuannya, adalah bukti bahwa kamu masih bertahan. Dan bertahan itu sendiri sudah merupakan bentuk keberanian. Kalau memang perlu istirahat, istirahatlah. Berhenti sejenak nggak sama dengan menyerah. Kamu boleh duduk, menarik napas, dan mengumpulkan tenaga lagi. Yang penting, jangan sampai kamu meninggalkan jalan ini hanya karena sedang lelah, sebab keputusan yang diambil saat capek sering kali bukan suara hati yang sebenarnya. Jadi kalau hari ini terasa berat, pelan-pelan saja. Ingat lagi alasan pertamamu, genggam erat-erat, lalu lanjutkan dengan langkah sekecil apa pun. Kamu sudah sampai sejauh ini, dan itu bukan kebetulan. Masih ada versi dirimu di depan sana yang sedang menunggu, yang akan berterima kasih karena kamu nggak jadi berhenti.
9
12
36,065
theresa retweeted
Ada orang yang kalau salah, nggak pernah benar-benar bilang "iya, itu salahku." Ceritanya diputar pelan-pelan. Bagian yang bikin dia kelihatan buruk dihilangkan, bagian yang bikin dia kelihatan terluka dibesar-besarkan. Ujung-ujungnya, dia yang tampil sebagai korban.
10
25
604
theresa retweeted
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
7
11
547
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
418
315
435
20,441
theresa retweeted
Flow with the amazing vibe
Coba hitung berapa banyak orang di sekitarmu yang kelihatannya baik-baik saja, tapi diam-diam nggak pernah benar-benar tenang. Punya pekerjaan bagus, rumah nyaman, hidup kelihatan lengkap, tapi kepalanya terus berisik. Malam hari susah tidur, pagi hari bangun dengan pikiran yang sudah penuh sebelum hari dimulai. Itu sebabnya ketenangan terasa mahal. Bukan soal uang, tapi karena harganya sering berupa hal-hal yang nggak mudah dilepas. Kita harus rela menjauh dari orang yang bikin lelah, melepas ambisi yang terus mengejar-ngejar, belajar bilang "cukup", dan berdamai dengan hal-hal yang nggak bisa kita ubah. Banyak orang belum siap membayar harga itu, jadi mereka terus berlari, berharap tenang akan ketemu di ujung jalan. Padahal tenang itu jarang ada di ujung jalan. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Nggak membalas semua omongan, nggak ikut campur semua urusan, nggak memaksakan diri jadi segalanya buat semua orang. Pelan-pelan, hati jadi lebih lapang tanpa kita sadari. Dan kalau hari ini kamu sudah punya sedikit ketenangan, entah itu rasa cukup, hati yang nggak lagi gampang goyah, atau malam yang bisa dilewati dengan tidur nyenyak, jaga baik-baik. Itu bukan hal sepele. Itu sesuatu yang diam-diam sedang dicari banyak orang, dan nggak semua orang beruntung memilikinya.
7
9
320