Pinned Tweet
Menjadi jembatan itu berbahaya kalo kamu tidak ikut berteriak kamu diam-diam dicurigai berpihak, kalo kamu mendengar dua sisi kamu dibilang licik
Misunderstood retweeted
kenapa bangsa ini tidak pernah menang, karna konflik horizontal terus dilakukan. gakuat lawan vertikal, kelas menengah oppres ke bawah.
Misunderstood retweeted
Kok orang-orang tega ya order tangga lewat shopee express
Kasian driver nya kalau gini
Misunderstood retweeted
PKL Malioboro jualan digusur
Olah raga di area kampus dibatasi
Unjuk rasa damai direpresi
Parkir liar dibiarkan
Premanisme dilestarikan
Ormas dikasih kuasa
Istimewa katanya 🤡
Misunderstood retweeted
SUKA BGT SAMA GAYA BICARA IBUNYA, KAYAK NETIZEN YG LAGI CURHAT
beberapa point yg disampaikan ibunya:
𖥔 ga percaya RUU perampasan aset kalau ga ada hukuman mati. nanti bisa diboong-boongin asetnya
𖥔 pengedar narkoba bisa dihukum mati, kok koruptor ga dihukum mati?
𖥔 ga percaya DPR
𖥔 koruptor bikin rakyat Indonesia sengsara. hukum mati para koruptor kalau pingin lihat rakyat sejahtera
𖥔 kalau hukum mati gamau disahkan, gimana kalau koruptor digebukin aja sama seluruh rakyat Indonesia?
𖥔 marahin wakil rakyat yg enak-enak ngadem di ruangan ber AC tapi rakyat di luar sana sengsara
Misunderstood retweeted
Bayangin dulu aja PSS Sleman kolaborasi bareng PSIM Jogja dan Persiba Bantul
ngurusi babagan sampah
ngosak asik bakul pil sapi
karo nulungi wong wong sik uripe nang dalan
rasah ngajak pemerentah
One city. Two clubs. One cause. 💙❤️
Join us at @EvertonStadium on 26 September as Merseyside unites in the fight to end homelessness.
Hope starts here. #Game4Hope
Misunderstood retweeted
GALAK SAMA RAKYAT,
JINAK SAMA KORUPTOR
Tadi pas jalan pagi lewat seputaran Kali Code. Trus liat ada spanduk panjang dan gede ini.
Mungkin keresahan ini mewakili kita semua para WNI.
Misunderstood retweeted
Berkolaborasi dengan BTWR.STUDIO kami merilis karya visual dalam bentuk merch , info lebih lanjut silahkan hubungi nomer dibio ig fren ♡
Misunderstood retweeted
Turut menyebarluaskan:
*Pernyataan Sikap Jogja Last Friday Ride (JLFR)*
Yang ironis hari ini bukan sekadar perdebatan tentang sebuah kegiatan bersepeda, melainkan cara kita memandang ruang jalan.
Ketika kemacetan yang didominasi kendaraan bermotor terjadi hampir setiap hari, kita perlahan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah. Ruang publik dipenuhi mesin, kebisingan, polusi, dan antrean panjang, namun semua itu diterima sebagai konsekuensi yang "normal".
Sebaliknya, ketika jalan sesaat dihadirkan untuk aktivitas manusia—bersepeda, berjalan kaki, atau berkumpul dalam sebuah kegiatan komunitas—muncul anggapan bahwa hal tersebut adalah gangguan yang harus segera disingkirkan.
Inilah ironi yang patut kita renungkan bersama.
Jogja Last Friday Ride sejak awal tidak pernah lahir sebagai ajang untuk menguasai jalan ataupun menghalangi masyarakat beraktivitas. JLFR lahir sebagai ruang bersama untuk merayakan budaya bersepeda, mengingatkan bahwa jalan adalah ruang publik yang seharusnya dapat dinikmati oleh semua pengguna jalan secara adil, aman, dan saling menghormati.
Kami menyadari bahwa setiap kegiatan di ruang publik harus diselenggarakan secara tertib, menghormati aturan, serta meminimalkan dampak terhadap masyarakat. Apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, kami terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan.
Namun demikian, kami juga berharap pendekatan yang dilakukan kepada komunitas dilakukan secara proporsional, humanis, dan mengedepankan dialog. Keselamatan, ketertiban, dan penghormatan terhadap hukum adalah tujuan bersama, bukan alasan untuk menghilangkan ruang ekspresi warga negara yang dilakukan secara damai.
Peristiwa ini hendaknya menjadi momentum bagi semua pihak, komunitas, pemerintah, aparat, dan masyarakat—untuk kembali berdialog mengenai bagaimana ruang jalan dikelola secara lebih adil. Sebab kota yang baik bukanlah kota yang hanya memberi ruang kepada kendaraan bermotor, melainkan kota yang juga memberi tempat bagi manusia.
Kami percaya bahwa budaya berlalu lintas tidak dibangun melalui saling menyalahkan, melainkan melalui saling memahami, saling menghormati, dan bersama-sama menciptakan ruang publik yang aman, inklusif, dan berkeadilan.
Karena pada akhirnya, jalan bukan hanya tempat untuk berpindah, tetapi juga ruang hidup bersama.
radarjogja.jawapos.com/jogja…































