Pinned Tweet
- tidak ganti username dan display name dari awal main twitter (2009)
- tidak ganti avatar dan header dari tahun 2012
- baru ganti pinned tweet yang sudah dipakai dari tahun 2016
Aldrin Kevin retweeted
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Jakarta kehilangan seorang perempuan hebat. Kabar duka ini diterima saat kami sedang berada di Beijing.
Di masa awal bertugas di Jakarta, saya datang ke eksebisi di UI yg diikuti Pemprov DKI dan melihat gerai Pemprov dirancang begitu kreatif serta dijaga oleh para CPNS yg terlatih dan bersemangat. Jauh dari kesan kolot pemerintahan. Saya tanya, siapa yg merancang ini?
Itulah pertama kali berkenalan dgn bu Atika Nur Rahmania. Bu Tika kami memanggilnya. Saat itu ia pejabat level menengah, jabatan yg di bawah kemampuan sebenarnya. Sejak itu, kami mempercayakan amanah sbg Kepala Dinas Kominfotik, yg juga membina Jakarta Smart City.
Dalam masa tugasnya, JAKI lahir sbg super app, melampaui aplikasi pengaduan. Di saat COVID, ialah yg membangun portal informasi yg dijadikan referensi tiap harinya oleh masyarakat, dan jadi tempat warga Jabodetabek mendaftarkan diri utk mendapatkan vaksin dgn mudah. Ia ikut berjasa menyelamatkan banyak warga Jakarta.
Berbagai layanan digital Pemprov ia integrasikan ke dlm satu app. JAKI berkali2 mendapat global awards krn kepemimpinannya. Seluruh komunikasi Pemprov berjalan efektif atas usahanya.
Bu Tika bukan cuma produktif dlm karya, tapi jg hangat dlm hubungan kerja. Ia adalah “ibunya” anak2 muda di Pemprov DKI. Begitu murah hati pd semua, baik membantu urusan kerja maupun personal. Ia sering berkeliling bagi2 makanan pd sesama pegawai di balaikota, hanya krn ia suka berbagi dan tak mau melihat ada yg belum makan. Kerjanya membuat ia dihormati dan dikagumi, kehangatannya membuat ia disenangi dan dicintai.
Kemarin ia berpulang mendadak di tengah tugas, saat memberikan arahan sbg Kepala Bappeda Pemprov DKI pd para CPNS muda. Ia berpulang saat menjalani hal yg amat ia cintai, yaitu menjadi “ibunya” anak2 muda di Pemprov DKI. Satu berita duka yg bagi banyak orang begitu mengoyak hati.
Semoga Allah SWT mengampuni segala dosanya dan menempatkannya di sisi-Nya. Semoga keluarganya diberi ketabahan menjalani cobaan ini. Semoga jejak kerjanya terus memberi manfaat bagi warga Jakarta dan menjadi aliran amal jariyah yg tak henti2nya. Aamiin yra.
Aldrin Kevin retweeted
Replying to @wahyu_saladin @Gerindra
Pasar senggol dengan pasar jongkok sama tidak?
Aldrin Kevin retweeted
Saya dulu juga pernah neolib. Namun saya bertobat. Bagi yang belum bertobat, bertobatlah. Bergabunglah dengan saya.
Aldrin Kevin retweeted
Plis warga Surabaya jangan melawan Belanda/Inggris, nanti susah cari kerja. Baik-baik saja ke Brigjen Mallaby.
Aku tau kalian kesel ama "Pejabat" but please jgn ada yang aneh2 pas orang itu dateng (Kalo beneran dateng), Kagak lucu klo IKA ITS yang kena efeknya / Karier Alumni terancam kena sebagian
Kampus kita ini udah kalah secara networking ama top 3 DAN Kampus ga seterkenal itu di luar jatim (Kalah ama yg di malang & semarang, apalagi di Jabodetabek dan Banten,jarang yg tau ITS)
Amit-amit Ampe ada yang "Nekat" trus kampus malah ditandain atau dipersulit
Aldrin Kevin retweeted
ORANG BRAZIL SPILL CARA MENGHADAPI BUZZER
“JANGAN BERI RUANG SEDIKIT PUN UNTUK MEREKA”
Jangan ditonton. Jangan diklik. Jangan diladeni. Jangan diperdebatkan. Bahkan jangan dikomentari.
Kendalikan algoritma. Jangan biarkan mereka mengendalikan perhatian kita.

tahun 2008, roy suryo pernah ngelaporin dewa 19 ke polisi gara2 hal serupa
hot.detik.com/music/d-105074…
Aldrin Kevin retweeted
Alkisah Presiden Suharto bertemu dengan Perdana Menteri Lee Kwan Yew.
Soeharto bertanya kepada Lee Kuan Yew kenapa Singapore bisa jauh lebih maju dari Indonesia. Maka Lee Kuan Yew memanggil Goh Chok Tong yang saat itu menjadi wakilnya, lalu ia bertanya: “Mr Goh, siapa itu anaknya bapakmu, anaknya ibumu, tapi bukan saudaramu?”
Goh tersenyum, lalu menjawab: “Tentu saja saya sendiri.” Dan Lee menyimpulkan: “Kami bisa maju karena kami memilih orang-orang pintar jadi pengelola negara.”
Soeharto pun pulang. Tapi ia penasaran: apakah ia telah memilih orang pintar jadi pengelola negara. Maka ia memanggil menteri kesayangannya, Harmoko. “Pak Harmoko. Ada yang ingin saya sampaiken. Pak Harmoko coba menjawab, siapakah anak daripada bapakmu, anak daripada ibumu, tapi bukan saudara daripada kamu.”
Harmoko cepat menjawab, “Mohon petunjuk untuk tindak lanjutnya, Pak.” Soeharto agak kesal, tapi ia masih menyimpan harapan. “Coba Pak Harmoko mencari jawabannya ke menteri-menteri lain.”
Maka Harmoko undur diri.
Setelah tak memperoleh jawaban dari Soedharmono, Akbar Tanjung, dll; akhirnya Harmoko menemui Habibie. Habibie tertawa saja. “Pak Harmoko, jawabannya adalah saya sendiri!” Harmoko langsung cerah. Tak lama ia mohon menghadap Presiden Soeharto.
Soeharto menyambut dengan senyum permanennya. “Sudah ada jawaban, Pak Harmoko?” Harmoko tak sabar menjawab dengan ceria, “Sesudah saya gali informasi dari berbagai pihak, ternyata jawabannya adalah: Pak Habibie!”
Soeharto mengernyitkan kening. Tapi ia tak ingin mengecewakan bawahannya yang setia itu. “Bagus Pak Harmoko. Itu merupaken upaya yang baik. Jawabannya juga sebenarnya mendekati benar. Tapi sayang memang belum 100% benar.”
Harmoko agak kecewa. “Jadi jawabannya apa, Bapak Presiden yang Kami Banggakan?”
“Adapun jawabannya,” pungkas Soeharto, “Adalah Goh Chok Tong.”
UPDATE DEMO!!!!!!
GELO, CHAOS BANGET! SERAME INI GA MUNCUL MUNCUL DI TIMELINE.
#demo #SumpahPemuda #revolution #SumpahPemuda2026
Aldrin Kevin retweeted
Sejarah pernah mencatat pada akhir pemerintahan Soekarno, ketika ekonomi memburuk, inflasi melonjak, dan konflik politik dalam negeri meningkat, pemerintah justru mengobarkan Konfrontasi Malaysia.
Nasionalisme dimobilisasi untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis domestik sekaligus membangun solidaritas nasional.
Strategi ini dikenal sebagai diversionary foreign policy.
Apakah playbook serupa akan kembali dimainkan oleh pemerintahan Prabowo?
























