Terkadang, masalah yang terus berlarut-larut bukan karena tidak ada jalan keluar, melainkan karena manusia sendiri tidak benar-benar ingin menyelesaikannya.
Kita sering mengatakan bahwa keadaan begitu rumit, bahwa tidak ada pilihan, atau bahwa semuanya sudah terlalu sulit untuk diperbaiki. Padahal, jauh di dalam hati, kita mungkin sudah mengetahui apa yang harus dilakukan.
Hanya saja, mengetahui jalan keluar dan memiliki keberanian untuk mengambilnya adalah dua hal yang berbeda.
Ada orang yang memilih bertahan dalam hubungan yang menyakitkan karena takut kehilangan. Ada yang terus memelihara pertikaian karena gengsi untuk mengalah. Ada pula yang terus mengeluhkan kehidupannya, tetapi enggan mengubah kebiasaan yang menjadi sumber masalahnya.
Bukan karena mereka tidak tahu solusinya, tetapi karena setiap solusi memiliki konsekuensi yang belum tentu siap mereka terima.
Sebab menyelesaikan masalah terkadang berarti harus melepaskan sesuatu, mengakui kesalahan, menurunkan ego, atau meninggalkan kenyamanan yang selama ini dipertahankan.
Dan tidak semua manusia siap melakukan itu.
Lucunya, terkadang kita lebih memilih hidup bersama masalah yang sudah kita kenal daripada menghadapi perubahan yang belum kita ketahui.
Kita menginginkan ketenangan, tetapi masih mempertahankan hal-hal yang merusak kedamaian. Kita ingin kehidupan yang lebih baik, tetapi terus mengulangi keputusan yang sama.
Pada akhirnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar ingin menyelesaikan masalah ini, atau sebenarnya kita hanya ingin keadaan berubah tanpa harus mengubah apa pun dari diri kita?
Karena tidak semua masalah membutuhkan jawaban yang rumit. Sebagian hanya membutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan yang selama ini kita hindari.
Terkadang, yang membuat masalah tidak kunjung selesai bukanlah karena tidak ada jalan keluar, melainkan karena kita belum rela meninggalkan sesuatu yang seharusnya sudah kita lepaskan.
Si Hitam retweeted
drink water without breaking your stride.
sebelum ada aplikasi peta dan jam digital, para astronom menggunakan alat logam bernama astrolab untuk membaca posisi benda langit.
alat ini berkembang melalui banyak peradaban, lalu dipelajari, disempurnakan, dan digunakan secara luas di dunia islam abad pertengahan.
dengan mengamati matahari atau bintang dan membaca skala pada alatnya, pengguna terlatih dapat memperkirakan waktu dan menyelesaikan persoalan astronomi tertentu. dalam masyarakat muslim, astrolab juga membantu perhitungan waktu salat dan arah kiblat.
bentuknya memang seperti piringan logam penuh garis. tetapi di balik garis-garis itu ada geometri, pengamatan langit, dan keterampilan membuat instrumen yang sangat teliti.
teknologi lama tidak selalu sederhana. kadang, kerumitannya hanya terlihat berbeda dari teknologi yang kita kenal sekarang.
Si Hitam retweeted
STOP BUANG KAOS CUMA GARA GARA SABLONNYA RETAK 😭🫵
Ternyata ada cairan fixer khusus yang bisa membantu bikin lapisan sablon lebih kuat. Jangan buru buru pensiunin kaos kesayangan!
Si Hitam retweeted
The fascinating process behind man-made beaches and islands
Si Hitam retweeted
Do you enjoy reading and collecting books? It is said that people who love to read tend to possess higher levels of intelligence and emotional maturity compared to those who are reluctant to read.
Si Hitam retweeted
Her expressions, style, and energy are giving total main character vibes! 😍😚
Si Hitam retweeted
There’s a printer for rice??
kenapa ya orang orang tuh suka gk peka dan gk ngehargain tenaga orang, kmren lg enak enak di cafe ad 2 org manggil pelayannya buat foto-foto padahal pegawai cafenya juga cuma beberapa orang
mending fotonya cuma satu, ini smpe ganti tempat dan pose, dan gt ad beberapa kali manggil pegawai yang lain jg buat foto lg
kata gw tau diri aja lah orang kerja nyari duit cape bukan fotografer pribadi lu













































