@VideoSejarahi
iAccount based inIndonesia
About this account
- Account based in
- Indonesia
- Connected via
- Indonesia Android App
Account-level information from X, not a live location or the device used for a specific post.
Time capsule
Indonesia
Joined September 2015
- Tweets4.6K
- Following863
- Followers189K
- Likes5.8K
Perintah Harian Menteri/Panglima Angkatan Udara R.I.
Pada hari ini Djum'at tanggal 1 Oktober 1965 djam 09.30 Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Udara OMAR DANI telah mengeluarkan Perintah Harian jg. berbunji sbb.:
1. Pada tanggal 30 September 1965 malam telah diadakan gerakan oleh GERAKAN 30 SEPTEMBER untuk mengamankan dan menyelamatkan Revolusi dan Pemimpin Besar Revolusi terhadap subversi C.I.A. Dengan demikian telah diadakan pembersihan dalam tubuh Angkatan Darat daripada anasir2 jang didalangi oleh Subversi asing dan jang membahayakan Revolusi Indonesia.
2. Dengan diadakan gerakan tersebut maka subversi asing dan antek2nja tidak akan tinggal diam dan kemungkinan besar akan meningkatkan gerakannya anti revolusioner.
3. Angkatan Udara Republik Indonesia sebagai alat Revolusi selalu dan tetap akan menjokong dan mendukung tiap gerakan jang membela Revolusi. Angkatan Udara Republik Indonesia akan menghantam tiap usaha jang membahayakan Revolusi Indonesia.
4. Dengan ini kami perintahkan kepada segenap warga Angkatan Udara Republik Indonesia untuk tetap waspada terhadap provokasi2 dan perongrongan2 dan untuk lebih meningkatkan kesiap-siagaan terhadap segala kemungkinan baik dari dalam maupun dari luar.
Demikian perintah Menteri/Panglima Angkatan Udara R.I.
ttd.
(OMAR DANI)
Laksamana Madya Udara
Dikeluarkan di: Departemen AURI
Tanggal: 1 Oktober 1965
Djam: 09.30
Pada 5 Agustus 1965, dua bulan sebelum G30S, DN Aidit menemui Mao Zedong. Mereka mendiskusikan perebutan kekuasaan dengan militer saat Soekarno wafat, juga rencana terkait angkatan kelima.
Berikut percakapannya dari buku Taomo Zhou.
Mao: Menurut saya sayap kanan Indonesia sangat bertekad untuk merebut kekuasaan. Apakah anda juga bertekad demikian?
Aidit: (Mengangguk) Jika Soekarno meninggal, masalahnya adalah siapa yang akan unggul dan memegang kendali.
Mao: Saya sarankan agar anda tidak terlalu sering pergi ke luar negeri. Anda bisa membiarkan orang nomor dua [di partai Anda] yang pergi ke luar negeri sebagai gantinya.
Aidit: Sayap kanan bisa mengambil dua kemungkinan tindakan. Pertama, mereka bisa menyerang kita. Jika mereka melakukannya, kita punya alasan untuk melakukan serangan balik. Kedua, mereka bisa menggunakan cara yang lebih moderat dengan membentuk pemerintahan Nasakom. Tanpa Soekarno, akan sangat mudah bagi sayap kanan untuk meraih dukungan dari kelompok tengah demi mengisolasi kita. Skenario kedua ini akan menyulitkan kita. Namun, apa pun yang terjadi, kita harus menghadapi mereka. AS telah menasihati Nasution agar tidak memulai kudeta. Hal ini karena jika dia memulai kudeta, kelompok kiri juga akan mengambil tindakan yang sama. Orang-orang Amerika memberi tahu Nasution bahwa dia harus menunggu dengan sabar; bahkan jika Soekarno meninggal, dia [Nasution] harus bersikap fleksibel ketimbang [melakukan] kudeta. Dia menerima saran dari orang-orang Amerika tersebut.
Mao: Itu tidak bisa diandalkan. Situasi saat ini telah berubah.
Aidit: Dalam skenario pertama, kami berencana untuk membentuk sebuah komite militer. Mayoritas anggota komite tersebut adalah kelompok kiri, tetapi harus mencakup juga beberapa elemen moderat. Dengan cara ini, kita dapat membingungkan musuh-musuh kita. Musuh kita akan ragu mengenai sifat dari komite ini, dan oleh karena itu para komandan militer yang bersimpati pada sayap kanan tidak akan langsung menentang kita. Jika kita langsung menunjukkan bendera merah kita, mereka akan segera menentang kita. Ketua dari komite militer ini adalah anggota rahasia (underground) dari partai kami, tetapi dia akan mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang netral. Komite militer ini tidak boleh bertahan terlalu lama. Jika tidak, orang baik bisa berubah menjadi orang jahat. Setelah komite ini terbentuk, kita perlu mempersenjatai para buruh dan petani pada waktu yang tepat.
Penangkapan terhadap orang-orang yang diduga terkait dengan PKI, 1965.
Pembersihan politik pasca G30S menyasar bukan hanya petinggi PKI, namun juga anggota dan simpatisan serta underbouw PKI. Kelompok sipil dan militer yang setia kepada Presiden Soekarno pun tidak luput dari pembersihan politik ini.
Peristiwa 1965 di Indonesia bukan cuma konflik lokal, tapi papan catur utama dalam Perang Dingin global.
Di tengah persaingan sengit antara Blok Barat dan Blok Timur, posisi Indonesia di bawah Soekarno yang makin condong ke kiri membuat Barat cemas.
Ketika G30S meletus, momentum ini dimanfaatkan untuk meruntuhkan pengaruh komunis secara total.
Demi meruntuhkan benteng komunis di Indonesia, Barat pun tutup mata atas pembunuhan dan penangkapan ratusan ribu orang tanpa proses peradilan.
Suasana Jakarta pada Senin 4 Oktober 1965, beberapa hari setelah meletusnya G30S.
Terlihat tentara dan kendaraan lapis baja berpatroli di jalanan ibu kota mengamankan obyek-obyek vital, termasuk Istana Merdeka di mana Presiden Soekarno tinggal.
RRI mengabarkan bahwa TNI sudah menghancurkan sisa-sisa upaya kudeta dari Gerakan 30 September. Sedangkan radio Malaysia mengabarkan bahwa pertempuran masih berlangsung di luar Jakarta.
RRI juga menyiarkan maklumat dari Presiden Soekarno yang menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan masih memegang kendali pemerintahan.
Selain itu RRI juga menyiarkan pernyataan sikap setia dari seluruh pimpinan partai politik, kecuali PKI.
Sebagai operasi militer, Gerakan 30 September dinilai tidak rapi sehingga dapat dilumpuhkan dengan cepat.
Video & Arsip Sejarah retweeted
19 September 1945
Insiden Hotel Yamato Surabaya
Pada malam sebelum kejadian, WV Ch. Ploegman, Walikota Surabaya yang ditunjuk oleh NICA, menaikkan bendera Belanda di atas hotel Yamato untuk merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina.
Residen Surabaya Soedirman kemudian mendatangi hotel untuk meminta agar bendera tersebut diturunkan. Perundingan dengan WV Ch Ploegman gagal dan kemudian terjadi bentrokan di dalam hotel. Dalam kemelut tersebut, Sidik membunuh Ploegman, sementara Hariyono mengungsikan residen Sudirman dan kemudian naik ke atap hotel Yamato.
Di saat yang sama, Koesno Wibowo juga naik ke atap tersebut. Mereka berdualah yang merobek bagian biru dari bendera Belanda, kemudian menaikkan bagian merah putih.
Video & Arsip Sejarah retweeted
Bukan cuma orangnya yang difitnah dan dihabisi, sebuah lagu pun kena getahnya. Arsip tulisan pasca 1965 ini buktinya, lagu Genjer-Genjer disulap jadi "mantra sihir". Lirik penderitaan rakyat dipelintir jadi kode mutilasi kelamin dan ritus Gerwani. Manipulasi yg ngawur sekali.
Video & Arsip Sejarah retweeted
Berbicara geliat sastra 1945–1950, ada ulasan lawas menarik berjudul: "Perkembangan Kesusasteraan Indonesia Modern dalam Alam Merdeka" oleh Lie Tie Gwan di Majalah Star Weekly tahun 1955. Ia Memotret lahirnya istilah Angkatan '45 dan pergeseran estetikanya dari Pujangga Baru.
Replying to @warungsastra
Tersedia pula bazar buku sastra periode 1945-1950, buku murah, dan pameran arsip Balai Pustaka (tanggal 23-26 September 2026)
Video & Arsip Sejarah retweeted
Selembar foto tua yang pernah kami temukan di dalam map milik paman suamiku. Beliau alumni Geografi UI angkatan 80-an awal. Foto ini, bertanda tahun 1985 di bagian keterangannya. Lokasi: Kampus UI Depok.
Menindaklanjuti hasil rapat PPKI tentang pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), pada tanggal 10 September 1945 para pemuda pelaut, termasuk bekas anggota Koninklijke Marine dan Kaigun Heiho membentuk BKR Laut.
Dari BKR Laut menjadi TKR Laut, TRI Laut, ALRI, hingga kini TNI AL.
Video & Arsip Sejarah retweeted
Karena ditolak mengikuti Olimpiade di London, Indonesia menyelenggarakan pesta olahraga sendiri. Pada 9-12 September 1948 diselenggarakan PON I di Surakarta.
Paspor kontingen Indonesia tidak diakui oleh Inggris saat itu, disarankan untuk bertanding dengan bendera Belanda.
Tentu saja kita tidak sudi. Lebih baik tidak bertanding dan menyelenggarakan perhelatan olahraga sendiri.
PON I dibuka resmi oleh Presiden Soekarno dan diliput wartawan dalam dan luar negeri. Kehadiran ribuan penonton serta kelancaran acara ini membuktikan kepada dunia internasional bahwa Pemerintah Republik Indonesia masih berdiri tegak dan memiliki kontrol penuh di wilayahnya, meskipun di tengah ancaman blokade ekonomi dan militer Belanda.
Tanggal pembukaan PON I, yaitu 9 September, kini diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional.
Karena ditolak mengikuti Olimpiade di London, Indonesia menyelenggarakan pesta olahraga sendiri. Pada 9-12 September 1948 diselenggarakan PON I di Surakarta.
Paspor kontingen Indonesia tidak diakui oleh Inggris saat itu, disarankan untuk bertanding dengan bendera Belanda.
Tentu saja kita tidak sudi. Lebih baik tidak bertanding dan menyelenggarakan perhelatan olahraga sendiri.
PON I dibuka resmi oleh Presiden Soekarno dan diliput wartawan dalam dan luar negeri. Kehadiran ribuan penonton serta kelancaran acara ini membuktikan kepada dunia internasional bahwa Pemerintah Republik Indonesia masih berdiri tegak dan memiliki kontrol penuh di wilayahnya, meskipun di tengah ancaman blokade ekonomi dan militer Belanda.
Tanggal pembukaan PON I, yaitu 9 September, kini diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional.
Video & Arsip Sejarah retweeted
Kenapa Bung Hatta terang-terangan menolak nasionalisasi membabi buta dan memperingatkan bahaya tunduk ke Moskow? Dan bagaimana Aidit langsung menantang balik pandangan itu di hadapan kaum buruh? Simak arsip yang termuat di Majalah Gembira tahun 1951, edisi 29 September ini.
Video & Arsip Sejarah retweeted
Potret dinamika politik bernegara masa RIS saat ibu kota di Yogya. Tampak arsip pers rombongan pejabat, termasuk Sri Sultan HB IX & Bung Hatta didampingi Merle Cochran, terbang menjumpai Soekarno di pengasingan Bangka, transit di Kemayoran, hingga lobi diplomatik di New Delhi.
Ketika kerajaan-kerajaan lain tersapu gelombang revolusi pasca Proklamasi, Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman berhasil mengunci posisinya di Republik yang baru berdiri sebagai daerah istimewa.
Bukan sekedar bergabung, Keraton Yogyakarta juga membiayai pemerintahan Indonesia ketika ibu kota pindah ke Yogyakarta pada 1946-1949. Sekitar 6 juta gulden dana dari kas keraton habis untuk menyokong masa-masa awal Republik.
Hasilnya, struktur kerajaan mereka hingga kini masih berdiri. Kekuasaan politik mereka sebagai kepala daerah juga dilindungi UU Keistimewaan DIY.
📷 Sultan HB IX dan Sultan Hamid II
Ketika kerajaan-kerajaan lain tersapu gelombang revolusi pasca Proklamasi, Keraton Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman berhasil mengunci posisinya di Republik yang baru berdiri sebagai daerah istimewa.
Bukan sekedar bergabung, Keraton Yogyakarta juga membiayai pemerintahan Indonesia ketika ibu kota pindah ke Yogyakarta pada 1946-1949. Sekitar 6 juta gulden dana dari kas keraton habis untuk menyokong masa-masa awal Republik.
Hasilnya, struktur kerajaan mereka hingga kini masih berdiri. Kekuasaan politik mereka sebagai kepala daerah juga dilindungi UU Keistimewaan DIY.
📷 Sultan HB IX dan Sultan Hamid II