Karmic.xn--6ii
Sorry lewat, gue sebagai orang yg turun ke jalan, bersuara di acc 1st, 2nd, maupun acc rp gue menjadi cara gue buat mengingatkan semua orang agar TIDAK menjadi apolitis, TIDAK mendiskreditkan & meredam suara teman-teman yang berjuang, dimanapun. Fuck off.
This Post is from an account that no longer exists. Learn more
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
WN.
tadi masuk for you page so I am obliged to say this: everything you do is political. makan, minum, tidur, hidup, including main rp. whatever lah kalau mau lo kurangin konsumsinya demi kewarasan lo, tapi lo gak ada hak nentuin mana yang boleh, mana yang tidak.
meneguk teh yang tersedia. Berterima kasihlah dia entah dalam hati atau sudut mata pada Mada, tapi yang jelas sudah dia panjatkan dan torehkan kebaikan ini di dalam kepalanya.
Kursi-kursi yang tertata itu kemudian menarik perhatiannya. Yelena menggumam, "Harusnya datang lebih awal aku..."
Bertanya kemudian dia pada @ragamatanga , "Kapan sudah mereka akan datang, Nyonya?"
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
DAN LAGI.
content warning: profanity.
d̶i̶t̶u̶l̶i̶s̶ ̶b̶e̶r̶s̶a̶m̶a̶
d̶i̶t̶u̶l̶i̶s̶ ̶s̶e̶n̶d̶ ??? ̷a̷h̷ ̷a̷n̷j̷i̷n̷g̷
refleksi ̶o̶l̶e̶h̶ ̷d̷e̷n̷g̷a̷n̷ ̷[@I00I_I00I]
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
(...) sudah bergeser, tidak lagi ke Yelena, tapi ke sosok di sampingnya. Mata yang sama seperti di pasar tadi. Menimbang. Menghitung.
MADA menilai: layak.
( @SelakLawa )
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
MADA tersenyum, senyum yang sudah dia latih bertahun-tahun, yang hangat dan terbuka
dan tidak pernah sampai ke mata.
“Nah,” katanya lembut, seolah menyambut teman yang pulang membawa oleh-oleh. “Capek, Len? Duduk dulu, sini. Tehmu sudah kubuatkan.”
Namun, matanya (...)
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
(...) mengangkat gelas tehnya, menyesap pelan, membiarkan tamu hajatan dan pengawalnya melihat dirinya sedang santai, sedang tidak menunggu, sedang tidak butuh.
Bayangan dua orang muncul di mulut gang. Satu tegak, satu terseok.
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
(...) tersedia. Namun ia tahu, Yelena tidak pernah gagal, tidak akan gagal, dan 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 gagal.
Suara itu datang sebelum sosoknya: roda yang diseret, napas berat yang bukan napas satu orang, langkah yang timpang karena memikul sesuatu. MADA tidak berdiri. Dia (...)
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
MADA melirik jam tangan. Lalu melirik ke arah jalanan kosong.
Tiada di hatinya rasa cemas. Cemas itu urusan orang yang tidak pernah punya pilihan. Kalau Yelena gagal, ada pasar, ada terminal, ada seribu punggung lain di kota ini yang menunggu dilihat. Orang selalu (...)
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
(...) balik pintu depan, ruangan yang dulu ruang tamu itu sudah bersih. Lantainya disapu, tikar digelar, dupa dinyalakan sedikit saja supaya tidak menarik hidung tetangga. Kain putih terlipat rapi di sudut. Semua siap seperti hajatan kecil, hanya tinggal tamunya belum tiba.
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
(...) komplek seberang terdengar sengau dari pengeras suara yang sudah lama minta diganti. MADA tidak ikut menunaikannya. Tuhan tidak pernah ia butuhkan, dan tidak akan ia butuhkan hari ini. Lagipula, yang ada di dalam tidak suka kalau dia menyebut nama lain.
Di (...)
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
(...) menyinggung bahwa di tempat lain air putih pun harus diminta dua kali. Yelena punya lidah dan ingatan sendiri, dan MADA cukup membiarkan manisnya bekerja. Ia tahu, 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴 yang seperti ini yang membuat orang betah.
Malam makin kelam. Azan isya dari musala ujung (...)
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
(...) Yelena.
𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘳𝘦𝘬𝘢𝘯, 𝘓𝘦𝘯. 𝘒𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢. 𝘚𝘢𝘮𝘢 𝘳𝘢𝘵𝘢.
Dua gelas es teh manis sudah dia siapkan di lantai, satu untuknya, satu untuk Yelena. Gula di gelas Yelena ditambah satu sendok lagi, karena anak itu pasti capek. MADA tidak perlu (...)
Y͟e͟l͟e͟n͟a͟, retweeted
—
Rumah kosong di ujung komplek itu sudah 5 tahun tak ada penghuninya. Cat dindingnya mengelupas seperti kulit orang sakit. Di teras, kursi plastik satu-satunya sudah MADA lap sendiri, sebab dia bukan orang yang suka menyuruh. Ya, bukan. Dia selalu bilang begitu pada (...)




