MAHESA. retweeted
ᅠ
ⓘ Chaotic slapstick comedy, mild profanity & local slang, accidental electricity, absurd, implied cybercrime.
ᅠ
MAHESA. retweeted
[PENCARIAN INSAN MARKAH]
Mohon bantu cuit ulang!
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, berkumpul dengan kawan-kawan sepemikiran adalah jalan keluar. Tanganmu cuma dua, kepalamu satu, tetapi bersama-sama pergerakan bisa mengakar dan bercabang luas.
"Huh—yah, tergantung perspektif, kurasa." Mahesa mengangguk. Kecanggungan yang dirasakannya barusan lenyap dengan sendirinya.
Replying to @TamagoPost
ㅤ
ㅤ
"Biasa saja," suaranya rendah, datar, dan sama sekali tidak menyiratkan rasa kikuk, sangat kontras dengan semburat merah tipis yang dengan jelas tertangkap oleh penglihatannya di pipi sang wira.
ㅤ
"Hahaha. Syukur deh kalau bukan hanya aku yang menganggap begitu." Mahesa mengusap tengkuk, menyembunyikan rasa malunya.
"Kamu sering ke sini?"
Replying to @TamagoPost
Meski cukup terkejut dengan sapaan dari orang tak dikenal, sang nona tetap mengangguk pelan, "pemandangan disini emang bagus kak, " ia tersenyum ramah.
Dahi Mahes mengernyit mendengarnya. Seketika pipi merah tadi buyar. Kembali normal dalam hitungan detik dan kecanggungannya lenyap begitu saja.
"Yah ... aku tidak terlihat seperti orang yang akan bawa kunciran, bukan?"
Replying to @TamagoPost
“Iya, mas. Adem juga lagi. Bawa kunciran gak…” Nona sedikit tersentak melihatmu dengan pipi merona. “Mas, biasa aja liatnya… Aku tau aku cantik…”
:: Mau menawarkan posisi kakak? Boleh check pinned untuk tawarannya.
Seketika pipi yang memerah tadi kembali normal. Sebelah alis Mahes terangkat. "Kamu?" ujarnya, mengulangi perkataan sang puan barusan. "Kamu indah, maksudnya?"
Replying to @TamagoPost
“Pemandangan mana yang kamu maksud? Saya atau saya?” Ujar Janina dengan tingkat kepercayaan diri paling tinggi.
Mendapati bahwa orang di sebelahnya adalah orang asing, Mahesa hanya bisa menelan ludah dan memalingkan muka ke arah lain.
"Yah, bagus, ini ...," ucapnya kaku. "Kalau kamu sendiri sering ke sini, kah?"
Replying to @TamagoPost
Kala bingung, apakah pria di sampingnya berbicara padanya atau orang lain. Tapi melihat sekeliling, nggak ada orang lain berdiri di dekatnya selain Ia.
“Oh, iya kak. Bagus banget ya!” Kala jawab saja santai, hitung-hitung buat menghilangkan kecanggungan.
"O-oh, i-iya." Mahesa tersenyum canggung.
Wanita itu berada di sebelahnya. Mahes menoleh ke belakang, menemukan sosok sang kawan telah berada di sudut yang berbeda. Astaga.
Mahes kembali menoleh ke arah depan. "Sering kesini, Mbak?"
Replying to @TamagoPost
⠀
Beverly menoleh, sedikit kaget dengan suara asing disebelahnya.
"Tapi bener kok, Mas. Pemandangannya bagus!" balasnya sambil menaikkan kacamata yang ia pakai ke atas kepala.
⠀
Tawa perempuan itu meredakan rasa malunya. Mahes tersenyum simpul, mengusap belakang tengkuk sambil celingak-celinguk, tapi wujud temannya sama sekali tidak muncul di manapun.
"Kayaknya lagi pergi entah kemana," jelas Mahes sambil terkekeh.
Replying to @TamagoPost
Dania yang tengah menikmati cantiknya langit senja teralihkan mendengar suara disampingnya.
“i.... ya... ” jawabnya menghapus rasa canggung diantara dua orang yang tak saling mengenal itu. Sedetik kemudian, gadis itu melepas tawanya.
“hahaha temennya mana mas?”
Perpaduan antara salah orang dan jawaban cuek barusan membuat Mahes mati kutu. Dia berdiri tegang. Tangannya mengusap-usap pagar pembatas. Isi kepalanya dipenuhi segala macam rencana untuk melarikan diri dari situasi canggung ini.
"Mm, ya. Kamu sering kesini?"
Replying to @TamagoPost
Menangkap sebuah suara asing, Ana menoleh. Seorang 𝘭𝘦𝘭𝘢𝘬𝘪 𝘣𝘪𝘯𝘨𝘶𝘯𝘨 sedang adu tatap dengannya.
“Ya, lumayan.” sahutnya, seadanya.
Terjebak dalam kecanggungan seperti ini, Mahes hanya bisa mengangguk kecil, lalu menerima sodoran keripik dari pria asing tersebut.
"Makasih," katanya, menyelipkan beberapa keripik sekaligus ke dalam mulut. Dalam hati menyumpahi diri sendiri karena asal ngomong.
Replying to @TamagoPost
"Ya, kamu suka?" Tanyanya balik, tanpa mengetahui siapa pemuda itu yang tiba-tiba saja mengajaknya berbicara.
Niko yang membawa cemilan snack berupa kripik di tangannya, menawarkan kepadanya. "Mau, ini enak."
Mata Mahes membulat. Itu bukan kawannya, melainkan orang asing dengan sepeda. Mata Mahes mencoba mengintip ke balik punggung sang tuan, tapi nyatanya wujud kawannya sama sekali tidak ditemukan.
Sial.
Canggung, Mahes berkata, "Yah. Jarang-jarang."
Replying to @TamagoPost
Leo, yang baru saja menyelesaikan mengayuh 20KM dan masih membawa sepedanya, spontan menoleh. Begitu sadar dirinya diajak bicara, wajahnya langsung sumringah. “Banget. Gak sia-sia ke sini, ya?”
/; Sangat membuka untuk relasi dan menulis, bisa dibicarakan atau didiskusikan, ya.

























