ㅤ
Berniat menunggu hingga Kanina bangun, suara ponsel yang tiba-tiba berdering, buat Adrian yang hampir terbuai sontak kembali sadar pada kenyataan. Seolah menjadi teguran baginya untuk segera beranjak, sebab deringan yang berbunyi berasal dari sang kekasih.
⠀
ㅤ
“Nin? Kanina, bangun. Kita udah sampai” ditepuknya pelan bahu @seduinaste, sementara ponsel yang terus berdering tersebut dialihkannya sejenak, Adrian berniat menerima panggilan yang ditujukan kepadanya itu seusai sang puan di sampingnya pergi.
⠀
ㅤ
—senyuman yang terulas pada paras jauh lebih tulus, “Justru dia yang harusnya malu” tangannya spontan mengusak rambut kecoklatan panjang milik sang puan, seolah berniat beri ketenangan pada Kanina usai kejadian beberapa menit lalu.
⠀
ㅤ
“Apa yang lo lakuin hari ini, udah bener” lanjutnya lagi, buat keheningan diantaranya dan @seduinaste kembali tergurat saat kini atensi justru saling menatap, seakan menghentikan sejenak detik keramaian yang terjadi di sekitar mereka.
⠀
ㅤ
Ia mengerti bahwa kondisi Kanina saat ini mungkin masih terguncang, sehingga ia memilih untuk tidak berbicara lagi, selebihnya yang ada hanya suara sekitar yang mengisi keheningan mereka, hingga beberapa menit kemudian tiba kendaraan yang ditunggu.
⠀
ㅤ
“Terima kasih” ujarnya pada pegawai yang bertugas. Pintu penumpang dengan sigap ia buka, mempersilahkan @seduinaste untuk masuk terlebih dahulu sebelum kemudian ia turut singgah tepat di sampingnya, di kursi pengemudi.
⠀
ㅤ
—menghadirkan banyak alibi lain, sebab segalanya telah diurus tuntas oleh Kanina. Hingga sedetik usai perdebatan tersebut, tungkai mereka lantas mulai beranjak, meninggalkan sisa perdebatan yang terjadi.
“Lo gapapa?” pelan masih dalam tungkai yang saling beriringan—
⠀
ㅤ
—Adrian mencoba memeriksa keadaan @seduinaste yang kini jauh lebih memilih diam. “Maafin gue karena ikut ca—
⠀
ㅤ
—memakinya dengan nada tinggi, “Gue Adrian” berbanding terbalik dengan lawan bicaranya yang tampak bersungut amarah, Adrian justru tampak begitu santai dalam menanggapi. “Lo ngapain ikut campur? Lo kenal sama ini cewek? Hah!” lagi, intonasinya yang terdengar kasar itu—
⠀
ㅤ
—seakan membuat Adrian merasa terganggu, terlebih beberapa kali telunjuk Mario yang ikut mengarah pada Kanina dengan tidak sopan. “Gue?” sudut bibirnya kembali bentuk sebuah seringai, sekilas ia melirik @seduinaste sebelum kembali melanjutkan kalimatnya, “Tunangannya”.
⠀
ㅤ
—dengan rekan semejanya yang tampak acuh, “Gak lo samperin, hm?” seperti menyiram minyak pada api yang hampir membara, mungkin itulah perumpamaan yang tepat bagi sikap Adrian saat ini. Satu sunggingan menyapa pada sudut bibir buat senyuman licik dan jahil tertera—
⠀
ㅤ
—jelas pada parasnya. Jujur saja, siapa yang tidak tertarik untuk melihat keributan? Tidak ada.
“Lo butuh apa? Sendok? Garpu? Air? Biar gue ambilin” jelas dilihat dari sudut mana saja, pria yang tengah ditatap tajam oleh @seduinaste saat ini memang berselingkuh.
⠀
ㅤ
️️ ️️️️️️
No strings, no feelings!
Just . . 𝘰𝘯𝘦 𝑷𝒂𝒑𝒆𝒓 𝑹𝒊𝒏𝒈𝒔,
𝘵𝘸𝘰 s̵ᴛ̵ᴜ̵ʙ̵ʙ̵ᴏ̵ʀ̵ɴ̵ hearts,
& 𝗮͟ 𝘄͟𝗵͟𝗼͟𝗹͟𝗲͟ 𝗹͟𝗼͟𝘁͟ 𝗼͟𝗳͟ 𝘁͟𝗿͟𝗼͟𝘂͟𝗯͟𝗹͟𝗲.
ㅤ
️️ ️️️️️️
ㅤ
ㅤ
️️ ️️️️️️
No strings, no feelings!
Just . . 𝘰𝘯𝘦 𝑷𝒂𝒑𝒆𝒓 𝑹𝒊𝒏𝒈𝒔,
𝘵𝘸𝘰 s̵ᴛ̵ᴜ̵ʙ̵ʙ̵ᴏ̵ʀ̵ɴ̵ hearts,
& 𝗮͟ 𝘄͟𝗵͟𝗼͟𝗹͟𝗲͟ 𝗹͟𝗼͟𝘁͟ 𝗼͟𝗳͟ 𝘁͟𝗿͟𝗼͟𝘂͟𝗯͟𝗹͟𝗲.
ㅤ
️️ ️️️️️️
ㅤ


